Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Februari 2019



Suatu ketika Matahari dan Angin kebetulan bertengkar. Keduanya mengaku lebih kuat. Akhirnya mereka sepakat untuk menjalani uji coba kekuatan.

"Ini dia seorang musafir. Mari kita lihat siapa yang bisa melepaskan jubahnya?" kata Matahari.

Angin setuju dan memang memilih untuk mendapatkan giliran pertama.

Dia meniup dengan cara yang paling sulit.

Alhasil, si musafir melilitkan jubahnya lebih erat lagi di sekelilingnya.

Kemudian giliran Matahari. Awalnya dia bersinar dengan sangat lembut. Matahari terus bersinar semakin terang. Pelancong merasa panas.

Tak lama kemudian ia melepas jubahnya dan memasukkannya ke dalam tasnya.

Angin menerima kekalahannya.

Moral:  tidak memotong es di mana kelembutan melakukan pekerjaan.


Suatu ketika Matahari dan Angin kebetulan bertengkar. Keduanya mengaku lebih kuat. Akhirnya mereka sepakat untuk menjalani uji coba kekuatan.

"Ini dia seorang musafir. Mari kita lihat siapa yang bisa melepaskan jubahnya?" kata Matahari.

Angin setuju dan memang memilih untuk mendapatkan giliran pertama.

Dia meniup dengan cara yang paling sulit.

Alhasil, si musafir melilitkan jubahnya lebih erat lagi di sekelilingnya.

Kemudian giliran Matahari. Awalnya dia bersinar dengan sangat lembut. Matahari terus bersinar semakin terang. Pelancong merasa panas.

Tak lama kemudian ia melepas jubahnya dan memasukkannya ke dalam tasnya.

Angin menerima kekalahannya.

Moral:  tidak memotong es di mana kelembutan melakukan pekerjaan.

Sabtu, 08 Desember 2018



             Ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.

             Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.

            "Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini," katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.

             Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut. "Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini."

             Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih si pohon, "Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya."

            Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, "Anak muda, karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati di sini."

             Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir, "Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain".

            Segera timbul kesadaran baru. "Aku manusia; masih muda, kuat, dan sehat. Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula bermanfaat bagi makhluk lain".

Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.


             Ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.

             Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.

            "Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini," katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.

             Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut. "Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini."

             Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih si pohon, "Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya."

            Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, "Anak muda, karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati di sini."

             Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir, "Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain".

            Segera timbul kesadaran baru. "Aku manusia; masih muda, kuat, dan sehat. Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula bermanfaat bagi makhluk lain".

Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.


                   Di sebuah pulau yang indah bernama pulau Ayem, hiduplah seorang tukang kebun yang sangat giat bekerja. Ia bernama Pak Mot. Kebun yang dijaga Pak Mot ditanami berbagai ragam bunga. Bunga yang paling disukai Pak Mot adalah bunga matahari. Setiap hari ia menyempatkan diri berbincang-bincang dengan tanaman bunga mataharinya yang kini tengah bermekaran.

                  “Selamat pagi, teman-teman. Hari ini aku membawa pupuk yang sangat bagus untuk pertumbuhan kalian,” kata Pak Mot.

                  Di antara semua bunga matahari di sana, ada satu yang tumbuh tidak sempurna. Ia sangat kerdil dan kelopak bunganya tidak bercahaya. Pak Mot juga heran mengapa bisa begitu. Padahal ia sudah merawatnya dengan sangat baik. Mungkin belum waktunya saja bunga yang ini tumbuh besar, pikir Pak Mot.

                  Sementara itu, si bunga matahari yang kerdil ini merasa amat frustrasi. Ia ingin sekali seperti teman-temannya yang lain. Punya mahkota bunga yang kuning cemerlang.     

                 Suatu hari datanglah seseorang yang ingin menjual pupuk kepada Pak Mot. Orang tersebut setengah memaksa agar Pak Mot mau membeli pupuknya.

                  “Kalau boleh saya bicara, pupuk ini sungguh istimewa. Lihat bunga matahari yang kerdil itu. Dengan pupuk ini masalah si bunga matahari kerdil akan segera teratasi,” rayu si penjual pupuk.

                  Semula Pak Mot sangat berharap apa yang dikatakan si penjual benar. Namun ketika ia meneliti pupuk yang ditawarkan tersebut, Pak Mot kecewa. Ia tidak bisa menggunakan pupuk yang tidak alami seperti itu. Walaupun mungkin bunga matahari kerdilnya akan bisa tumbuh besar dengan cepat, tetapi hasilnya tidak akan menjadi lebih baik. Bisa jadi setelah tumbuh besar bunga matahari itu langsung mati karena keracunan pupuk yang tidak alami. Karenanya dengan halus dan sopan Pak Mot menolak tawaran pupuk tersebut.

                  Mendengar hal itu, si penjual tampak kecewa. Bahkan sedikit marah karena menurutnya Pak Mot tidak tahu apa-apa soal pupuk. Namun ternyata yang paling kecewa adalah si bunga matahari kerdil. Ia sangat marah karena Pak Mot tidak mau membeli pupuk itu untuk dirinya.

                  Si penjual pupuk pun pulang dengan merengut. Karena tidak memperhatikan jalan, ia sedikit tersandung dan tanpa sadar menjatuhkan pupuknya. Pak Mot tidak memperhatikan karena ia sudah sibuk kembali bekerja. Sementara itu, si bunga matahari kerdil melihatnya. Dan dengan sedikit usaha keras, ia berhasil meraih pupuk itu dengan tangkainya.

                “Kalau Pak Mot tidak mau memberiku pupuk ini, biar aku lakukan sendiri,” sungut si bunga matahari kerdil. Dan tanpa pikir panjang, ia pun memakan pupuk itu.

                  Sungguh ajaib! Seperti kata si penjual pupuk, pupuk tersebut memang istimewa! Hanya dalam beberapa hari, si bunga matahari kerdil sudah tumbuh besar menyaingi teman-temannya. Hingga ia tidak bisa lagi disebut kerdil. Pak Mot sangat terkejut. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Pikirnya, mungkin memang sudah waktunya bunga matahari ini tumbuh besar.

                 Namun, pertumbuhan si bunga matahari tidak berhenti sampai di situ saja. Ia terus tumbuh hingga setinggi rumah Pak Mot. Setinggi pohon kapuk. Terus setinggi bukit. Lalu setinggi gunung. Dan akhirnya ia menutupi dengan kelopaknya seluruh pulau tempat tinggal Pak Mot.

                  Pada awalnya orang-orang sangat terpukau dengan si bunga matahari yang tumbuh sangat besar. Namun ketika ia sudah terlampau besar, orang-orang mulai takut padanya. Alasannya adalah karena ia menghalangi sinar matahari dan membuat bumi berguncang. Orang-orang sepakat untuk menebang si bunga matahari. Pak Mot merasa amat sedih. Namun ia tidak tahu harus berbuat apa. Bunga mataharinya telah membuat pulau Ayem gelap sepanjang hari.

                  Ketika orang-orang tersebut hendak menebang, si bunga matahari ternyata masih terus tumbuh. Ia sudah terlampau besar sehingga manusia tidak sanggup menebangnya. Si bunga matahari merasa lega. Ia sempat ketakutan sebelumnya.

                “Pak Mot,” salah seorang dari para penebang berkata. “Bapak harus segera cari cara untuk menebang tanaman ini. Atau apa saja asal tanaman ini tidak berada di pulau Ayem lagi.”

“Ya, benar. Kami tidak suka dengan tanaman ini,” sahut yang lain.

Mendengar semua perkataan itu, si bunga matahari merasa sangat sedih. Dahulu ketika ia kerdil, ia tidak dikagumi. Dan sekarang ia jadi bunga raksasa dan keadaan malah menjadi tambah parah.

                  Karena sudah tidak tahan dengan semua perkataan itu, si bunga matahari mengeluarkan semua akarnya dari tanah. Ia bermaksud hendak pergi mencari tempat tinggal lain. Namun, rupanya ia masih saja terus tumbuh. Hingga akhirnya kelopak dan semua daunnya menutupi separuh permukaan bumi. Keadaan jadi kacau balau. Bumi berguncang karena tidak stabil.

                 Mengapa bisa begini? Mengapa? Si bunga matahari menangis tersedu-sedu. Dan karena sudah tidak ada tempat lagi di bumi, ia mencari planet lain yang bisa dihuni. Tetapi karena tubuhnya yang sangat besar, akhirnya ia hanya bisa duduk di cincin saturnus, sambil menangis.

Di keheningan alam semesta, si bunga matahari merenungi semua kejadian ini.

Kalau saja aku mengikuti Pak Mot, tidak memakai pupuk itu…

Ia kembali tersedu-sedu. Semua sudah terjadi.

                 Hari-hari si bunga matahari selanjutnya amatlah sepi. Ia rindu teman-temannya yang kuning cemerlang. Ia juga sangat rindu pada Pak Mot yang selalu merawatnya setiap hari. Ia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya sekarang. Bahkan ia tidak tahu harus memberi makan apa dirinya sendiri. Di sini tidak ada tanah yang bisa memberinya nutrisi. Apalagi pupuk alami dari Pak Mot.

                Karenanya, meskipun tubuhnya besar, si bunga matahari sangat layu dan rapuh karena sudah lama tidak makan dan minum.

                Suatu hari, si bunga matahari melihat sesuatu terbang melesat dengan sangat cepat. Kalau dilihat dari arahnya, tampaknya sesuatu itu sedang menuju atmosfer bumi.

Benda apa itu? Si bunga matahari bertanya-tanya.

Ya, ampun, itu meteor! Kalau sampai jatuh ke bumi, bisa membahayakan nyawa penduduk bumi!

               Wajah Pak Mot dan seluruh penghuni kebun bunga melintas di pikiran si bunga matahari. Ia tidak ingin mereka semua celaka. Ia harus melakukan sesuatu untuk menolong bumi dan penduduknya.

 Apa yang harus kulakukan? Si bunga matahari membatin panik. Ia berpikir keras.

                Kemudian ia melihat banyak asteroid melayang antara planet Mars dan Jupiter. Bunga matahari pun mendapat sebuah ide. Kalau ia bisa membuat meteor ini menabrak asteroid tersebut, bumi akan bisa diselamatkan.

                Sebenarnya dibanding dengan dirinya, ukuran meteor tersebut sangat kecil. Bunga matahari hanya perlu menendang meteor tersebut ke arah kumpulan asteroid. Hanya saja, tubuhnya sudah amat layu dan rapuh. Ia hampir tidak punya tenaga untuk menendang meteor itu. Namun ia tidak berputus asa. Dengan usaha keras, akhirnya ia berhasil menendang meteor tersebut ke arah kumpulan asteroid.

                Ketika si meteor dan asteroid bertabrakan, kedua benda angkasa itu hancur. Malangnya, tubuh si bunga matahari yang lemah ikut terlempar ke arah kumpulan asteroid itu. Dan karena ia sudah begitu rapuh, tubuh bunga matahari pun ikut hancur…

               Beberapa waktu selang kejadian tabrakan tersebut, Pak Mot mendapati sesuatu di kebun bunganya. Sebuah tunas baru saja muncul di tempat tumbuh si bunga matahari kerdil sebelumnya.

               Bagaimana tunas ini bisa muncul? Aku belum menanam bibit baru di sini, Pak Mot bertanya-tanya dalam hati.

              “Selamat pagi, sobat baru. Kali ini aku akan berusaha lebih baik lagi. Agar kau bisa tumbuh dengan sangat cemerlang,” kata Pak Mot sambil tersenyum.

             Ternyata Pak Mot tidak tahu. Ketika si bunga matahari raksasa hancur karena tabrakan meteor, salah satu benihnya jatuh ke bumi. Tepatnya ke tempat ia semula tumbuh di kebun bunga Pak Mot.

             Dan seterusnya si bunga matahari itu tumbuh dengan sehat. Tampaknya waktunya telah tiba untuk dirinya menjadi bunga matahari yang tumbuh kuning cemerlang.


                   Di sebuah pulau yang indah bernama pulau Ayem, hiduplah seorang tukang kebun yang sangat giat bekerja. Ia bernama Pak Mot. Kebun yang dijaga Pak Mot ditanami berbagai ragam bunga. Bunga yang paling disukai Pak Mot adalah bunga matahari. Setiap hari ia menyempatkan diri berbincang-bincang dengan tanaman bunga mataharinya yang kini tengah bermekaran.

                  “Selamat pagi, teman-teman. Hari ini aku membawa pupuk yang sangat bagus untuk pertumbuhan kalian,” kata Pak Mot.

                  Di antara semua bunga matahari di sana, ada satu yang tumbuh tidak sempurna. Ia sangat kerdil dan kelopak bunganya tidak bercahaya. Pak Mot juga heran mengapa bisa begitu. Padahal ia sudah merawatnya dengan sangat baik. Mungkin belum waktunya saja bunga yang ini tumbuh besar, pikir Pak Mot.

                  Sementara itu, si bunga matahari yang kerdil ini merasa amat frustrasi. Ia ingin sekali seperti teman-temannya yang lain. Punya mahkota bunga yang kuning cemerlang.     

                 Suatu hari datanglah seseorang yang ingin menjual pupuk kepada Pak Mot. Orang tersebut setengah memaksa agar Pak Mot mau membeli pupuknya.

                  “Kalau boleh saya bicara, pupuk ini sungguh istimewa. Lihat bunga matahari yang kerdil itu. Dengan pupuk ini masalah si bunga matahari kerdil akan segera teratasi,” rayu si penjual pupuk.

                  Semula Pak Mot sangat berharap apa yang dikatakan si penjual benar. Namun ketika ia meneliti pupuk yang ditawarkan tersebut, Pak Mot kecewa. Ia tidak bisa menggunakan pupuk yang tidak alami seperti itu. Walaupun mungkin bunga matahari kerdilnya akan bisa tumbuh besar dengan cepat, tetapi hasilnya tidak akan menjadi lebih baik. Bisa jadi setelah tumbuh besar bunga matahari itu langsung mati karena keracunan pupuk yang tidak alami. Karenanya dengan halus dan sopan Pak Mot menolak tawaran pupuk tersebut.

                  Mendengar hal itu, si penjual tampak kecewa. Bahkan sedikit marah karena menurutnya Pak Mot tidak tahu apa-apa soal pupuk. Namun ternyata yang paling kecewa adalah si bunga matahari kerdil. Ia sangat marah karena Pak Mot tidak mau membeli pupuk itu untuk dirinya.

                  Si penjual pupuk pun pulang dengan merengut. Karena tidak memperhatikan jalan, ia sedikit tersandung dan tanpa sadar menjatuhkan pupuknya. Pak Mot tidak memperhatikan karena ia sudah sibuk kembali bekerja. Sementara itu, si bunga matahari kerdil melihatnya. Dan dengan sedikit usaha keras, ia berhasil meraih pupuk itu dengan tangkainya.

                “Kalau Pak Mot tidak mau memberiku pupuk ini, biar aku lakukan sendiri,” sungut si bunga matahari kerdil. Dan tanpa pikir panjang, ia pun memakan pupuk itu.

                  Sungguh ajaib! Seperti kata si penjual pupuk, pupuk tersebut memang istimewa! Hanya dalam beberapa hari, si bunga matahari kerdil sudah tumbuh besar menyaingi teman-temannya. Hingga ia tidak bisa lagi disebut kerdil. Pak Mot sangat terkejut. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Pikirnya, mungkin memang sudah waktunya bunga matahari ini tumbuh besar.

                 Namun, pertumbuhan si bunga matahari tidak berhenti sampai di situ saja. Ia terus tumbuh hingga setinggi rumah Pak Mot. Setinggi pohon kapuk. Terus setinggi bukit. Lalu setinggi gunung. Dan akhirnya ia menutupi dengan kelopaknya seluruh pulau tempat tinggal Pak Mot.

                  Pada awalnya orang-orang sangat terpukau dengan si bunga matahari yang tumbuh sangat besar. Namun ketika ia sudah terlampau besar, orang-orang mulai takut padanya. Alasannya adalah karena ia menghalangi sinar matahari dan membuat bumi berguncang. Orang-orang sepakat untuk menebang si bunga matahari. Pak Mot merasa amat sedih. Namun ia tidak tahu harus berbuat apa. Bunga mataharinya telah membuat pulau Ayem gelap sepanjang hari.

                  Ketika orang-orang tersebut hendak menebang, si bunga matahari ternyata masih terus tumbuh. Ia sudah terlampau besar sehingga manusia tidak sanggup menebangnya. Si bunga matahari merasa lega. Ia sempat ketakutan sebelumnya.

                “Pak Mot,” salah seorang dari para penebang berkata. “Bapak harus segera cari cara untuk menebang tanaman ini. Atau apa saja asal tanaman ini tidak berada di pulau Ayem lagi.”

“Ya, benar. Kami tidak suka dengan tanaman ini,” sahut yang lain.

Mendengar semua perkataan itu, si bunga matahari merasa sangat sedih. Dahulu ketika ia kerdil, ia tidak dikagumi. Dan sekarang ia jadi bunga raksasa dan keadaan malah menjadi tambah parah.

                  Karena sudah tidak tahan dengan semua perkataan itu, si bunga matahari mengeluarkan semua akarnya dari tanah. Ia bermaksud hendak pergi mencari tempat tinggal lain. Namun, rupanya ia masih saja terus tumbuh. Hingga akhirnya kelopak dan semua daunnya menutupi separuh permukaan bumi. Keadaan jadi kacau balau. Bumi berguncang karena tidak stabil.

                 Mengapa bisa begini? Mengapa? Si bunga matahari menangis tersedu-sedu. Dan karena sudah tidak ada tempat lagi di bumi, ia mencari planet lain yang bisa dihuni. Tetapi karena tubuhnya yang sangat besar, akhirnya ia hanya bisa duduk di cincin saturnus, sambil menangis.

Di keheningan alam semesta, si bunga matahari merenungi semua kejadian ini.

Kalau saja aku mengikuti Pak Mot, tidak memakai pupuk itu…

Ia kembali tersedu-sedu. Semua sudah terjadi.

                 Hari-hari si bunga matahari selanjutnya amatlah sepi. Ia rindu teman-temannya yang kuning cemerlang. Ia juga sangat rindu pada Pak Mot yang selalu merawatnya setiap hari. Ia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya sekarang. Bahkan ia tidak tahu harus memberi makan apa dirinya sendiri. Di sini tidak ada tanah yang bisa memberinya nutrisi. Apalagi pupuk alami dari Pak Mot.

                Karenanya, meskipun tubuhnya besar, si bunga matahari sangat layu dan rapuh karena sudah lama tidak makan dan minum.

                Suatu hari, si bunga matahari melihat sesuatu terbang melesat dengan sangat cepat. Kalau dilihat dari arahnya, tampaknya sesuatu itu sedang menuju atmosfer bumi.

Benda apa itu? Si bunga matahari bertanya-tanya.

Ya, ampun, itu meteor! Kalau sampai jatuh ke bumi, bisa membahayakan nyawa penduduk bumi!

               Wajah Pak Mot dan seluruh penghuni kebun bunga melintas di pikiran si bunga matahari. Ia tidak ingin mereka semua celaka. Ia harus melakukan sesuatu untuk menolong bumi dan penduduknya.

 Apa yang harus kulakukan? Si bunga matahari membatin panik. Ia berpikir keras.

                Kemudian ia melihat banyak asteroid melayang antara planet Mars dan Jupiter. Bunga matahari pun mendapat sebuah ide. Kalau ia bisa membuat meteor ini menabrak asteroid tersebut, bumi akan bisa diselamatkan.

                Sebenarnya dibanding dengan dirinya, ukuran meteor tersebut sangat kecil. Bunga matahari hanya perlu menendang meteor tersebut ke arah kumpulan asteroid. Hanya saja, tubuhnya sudah amat layu dan rapuh. Ia hampir tidak punya tenaga untuk menendang meteor itu. Namun ia tidak berputus asa. Dengan usaha keras, akhirnya ia berhasil menendang meteor tersebut ke arah kumpulan asteroid.

                Ketika si meteor dan asteroid bertabrakan, kedua benda angkasa itu hancur. Malangnya, tubuh si bunga matahari yang lemah ikut terlempar ke arah kumpulan asteroid itu. Dan karena ia sudah begitu rapuh, tubuh bunga matahari pun ikut hancur…

               Beberapa waktu selang kejadian tabrakan tersebut, Pak Mot mendapati sesuatu di kebun bunganya. Sebuah tunas baru saja muncul di tempat tumbuh si bunga matahari kerdil sebelumnya.

               Bagaimana tunas ini bisa muncul? Aku belum menanam bibit baru di sini, Pak Mot bertanya-tanya dalam hati.

              “Selamat pagi, sobat baru. Kali ini aku akan berusaha lebih baik lagi. Agar kau bisa tumbuh dengan sangat cemerlang,” kata Pak Mot sambil tersenyum.

             Ternyata Pak Mot tidak tahu. Ketika si bunga matahari raksasa hancur karena tabrakan meteor, salah satu benihnya jatuh ke bumi. Tepatnya ke tempat ia semula tumbuh di kebun bunga Pak Mot.

             Dan seterusnya si bunga matahari itu tumbuh dengan sehat. Tampaknya waktunya telah tiba untuk dirinya menjadi bunga matahari yang tumbuh kuning cemerlang.


              Suatu hari di sebuah kerajaan, seorang raja yang sudah berusia lanjut memanggil ketiga putranya yang sudah dewasa. Raja itu berkata " Anak-anakku, aku sudah tua, sudah saatnya salah satu dari kalian menggantikan aku sebagai raja.Besok, kalian akan diuji didepan cermin ajaib untuk menentukan siapa diantara kalian yang layak menjadi raja. Tiba-tiba salah seorang anak dari raja bertanya" Ayah, kenapa harus diuji didepan cermin ajaib?kenapa tidak dengan adu kekuatan saja?

                Rajapun menjawab " ya, anakku. kalian akan diuji didepan cermin ajaib, karena cermin tersebut merupakan warisan turun temurun. dan cermin itu selalu digunakan untuk menguji calon calon raja.

                Seorang Raja tidak harus kuat fisik, tapi harus mempunyai hati yang bersih, dan cermin itu akan menampakkan sifat asli seseorang.

Setelah mendapat penjelasan dari raja, ketiga anaknya pun pergi untuk mempersiapkan diri

               Keesokan harinya, mereka menghadap raja dengan wajah berseri.Mereka berdandan dengan sangat elok.Setiap orang yang dilaluinya pasti berdecak kagum melihat ketampanan ketiga putra raja tersebut.

"Apakah kalian sudah siap?" tanya Raja.
" Sudah, Ayahanda !" jawab ketiganya serempak
"Pengawal, bawa kemari cermin ajaib itu!" kata Raja kepada pengawal nya.

                 Sejenak kemudian cermin yang berbentuk hati itupun dibawa dihadapan Raja.Ketiga putra Raja diminta maju satu persatu dan bercermin beberapa saat.

                 Betapa kagetnya ketiga putra Raja ketika melihat wajah mereka kedalam cermin.Putra pertama giginya bertaring, Putra kedua kepalanya bertanduk, dan Putra ketiga matanya merah menyala.
Wajah mereka yang tampan menjadi sangat menakutkan

                Ketiga Putra Raja itupun tertunduk malu. Raja hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Raja tidak menduga kalau ketiga putranya ternyata mempunyai sifat asli yang tidak baik.
"Semuanya tidak memenuhi syarat untuk menggantikanku," kata Raja.

                Kemudian Rajapun memerintahkan pengawal-pengawalnya untuk mengumumkan sayembara bahwa  siapapun yang mempunyai pantulan tubuh yang baik berhak menggantikan raja.
Sejak itu, banyak sekali orang yang ikut dalam sayembara tersebut.Tidak hanya dari kalangan pejabat,cerdik pandai,kaum terpelajar, tapi juga dari rakyat biasa.Tetapi tidak ada satupun yang mempunyai pantulan tubuh yang baik.Ada saja sifat buruk mereka.

                Tiba-tiba, datang seorang buruk rupa bersama ibunya ke Istana.Berkali-kali, pengawal mengusir mereka, tetapi mereka tetap bersikukuh ingin mengikuti sayembara tersebut.

                "Biarkan pemuda itu mengikuti sayembara !"kata Raja.Pemuda buruk rupa itupun berdiri menghadap cermin ajaib. Semua mata terbelalak melihat pantulan yang ada dicermin.Pantulan pemuda buruk rupa itu sangat tampan, wajahnya bersinar cemerlang,
" Pemuda ini berhak menggantikanku naik tahta!"kata sang Raja. 

                Tetapi tiba-tiba, ibunda pemuda buruk rupa tersebut bersimpuh dikaki Raja. " Kanda, apakah engkau telah melupakan kami?" Aku permaisurimu dan pemuda buruk rupa itu adalah anakmu yang telah terbuang di hutan bertahun-tahun karena fitnah kejam dari selir kerajaan ." Sekarang aku ingin menunjukan bahwa hati anakku bersih melalui cermin ajaib ini,"
Raja terkejut. 

               " jadi, cerita tentang pelarianmu meninggalkan istana itu fitnah?dan, ini putraku?" Permaisuri mengangguk. Ketiga putra Raja dan Ibu selir saling berpandangan, mereka ketakutan karena perbuatan jahat mereka terbongkar.

"Pengawal, tangkap ibu selir!" perintah Raja.

              Tetapi pemuda buruk rupa mencegah raja untuk menangkap ibu selir. "Ayahanda, aku dan ibunda sudah memaafkan ibu selir. Mulai sekarang, mari kita bangun kerajaan ini dengan hati bersih."
Nah.......sejak saat itu mereka hidup bersama dan membangun kerajaan mereka dengan adil dan bijaksana.


              Suatu hari di sebuah kerajaan, seorang raja yang sudah berusia lanjut memanggil ketiga putranya yang sudah dewasa. Raja itu berkata " Anak-anakku, aku sudah tua, sudah saatnya salah satu dari kalian menggantikan aku sebagai raja.Besok, kalian akan diuji didepan cermin ajaib untuk menentukan siapa diantara kalian yang layak menjadi raja. Tiba-tiba salah seorang anak dari raja bertanya" Ayah, kenapa harus diuji didepan cermin ajaib?kenapa tidak dengan adu kekuatan saja?

                Rajapun menjawab " ya, anakku. kalian akan diuji didepan cermin ajaib, karena cermin tersebut merupakan warisan turun temurun. dan cermin itu selalu digunakan untuk menguji calon calon raja.

                Seorang Raja tidak harus kuat fisik, tapi harus mempunyai hati yang bersih, dan cermin itu akan menampakkan sifat asli seseorang.

Setelah mendapat penjelasan dari raja, ketiga anaknya pun pergi untuk mempersiapkan diri

               Keesokan harinya, mereka menghadap raja dengan wajah berseri.Mereka berdandan dengan sangat elok.Setiap orang yang dilaluinya pasti berdecak kagum melihat ketampanan ketiga putra raja tersebut.

"Apakah kalian sudah siap?" tanya Raja.
" Sudah, Ayahanda !" jawab ketiganya serempak
"Pengawal, bawa kemari cermin ajaib itu!" kata Raja kepada pengawal nya.

                 Sejenak kemudian cermin yang berbentuk hati itupun dibawa dihadapan Raja.Ketiga putra Raja diminta maju satu persatu dan bercermin beberapa saat.

                 Betapa kagetnya ketiga putra Raja ketika melihat wajah mereka kedalam cermin.Putra pertama giginya bertaring, Putra kedua kepalanya bertanduk, dan Putra ketiga matanya merah menyala.
Wajah mereka yang tampan menjadi sangat menakutkan

                Ketiga Putra Raja itupun tertunduk malu. Raja hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Raja tidak menduga kalau ketiga putranya ternyata mempunyai sifat asli yang tidak baik.
"Semuanya tidak memenuhi syarat untuk menggantikanku," kata Raja.

                Kemudian Rajapun memerintahkan pengawal-pengawalnya untuk mengumumkan sayembara bahwa  siapapun yang mempunyai pantulan tubuh yang baik berhak menggantikan raja.
Sejak itu, banyak sekali orang yang ikut dalam sayembara tersebut.Tidak hanya dari kalangan pejabat,cerdik pandai,kaum terpelajar, tapi juga dari rakyat biasa.Tetapi tidak ada satupun yang mempunyai pantulan tubuh yang baik.Ada saja sifat buruk mereka.

                Tiba-tiba, datang seorang buruk rupa bersama ibunya ke Istana.Berkali-kali, pengawal mengusir mereka, tetapi mereka tetap bersikukuh ingin mengikuti sayembara tersebut.

                "Biarkan pemuda itu mengikuti sayembara !"kata Raja.Pemuda buruk rupa itupun berdiri menghadap cermin ajaib. Semua mata terbelalak melihat pantulan yang ada dicermin.Pantulan pemuda buruk rupa itu sangat tampan, wajahnya bersinar cemerlang,
" Pemuda ini berhak menggantikanku naik tahta!"kata sang Raja. 

                Tetapi tiba-tiba, ibunda pemuda buruk rupa tersebut bersimpuh dikaki Raja. " Kanda, apakah engkau telah melupakan kami?" Aku permaisurimu dan pemuda buruk rupa itu adalah anakmu yang telah terbuang di hutan bertahun-tahun karena fitnah kejam dari selir kerajaan ." Sekarang aku ingin menunjukan bahwa hati anakku bersih melalui cermin ajaib ini,"
Raja terkejut. 

               " jadi, cerita tentang pelarianmu meninggalkan istana itu fitnah?dan, ini putraku?" Permaisuri mengangguk. Ketiga putra Raja dan Ibu selir saling berpandangan, mereka ketakutan karena perbuatan jahat mereka terbongkar.

"Pengawal, tangkap ibu selir!" perintah Raja.

              Tetapi pemuda buruk rupa mencegah raja untuk menangkap ibu selir. "Ayahanda, aku dan ibunda sudah memaafkan ibu selir. Mulai sekarang, mari kita bangun kerajaan ini dengan hati bersih."
Nah.......sejak saat itu mereka hidup bersama dan membangun kerajaan mereka dengan adil dan bijaksana.

Selasa, 21 Februari 2017


             Sudah lama sekali, Surabaya sudah menjadi pelabuhan yang sibuk di bagian timur Pulau Jawa di Indonesia saat ini. Penguasa Surabaya adalah orang bijak, bernama Tumenggung Jayengrono. Dia suka berburu sangat banyak.

            Wiyung adalah nama daerah di mana dia biasanya pergi berburu dengan anak buahnya. Ada hutan kecil di sana di mana dia bisa berburu rusa dan hewan lain.

           Suatu hari ia melihat seorang gadis cantik bernama Dewi Sangkrah di desa Wiyung. Jayengrono langsung jatuh cinta padanya.

             Dewi Sangkrah tidak bisa menolak cintanya dan mereka menjadi kekasih. Beberapa bulan kemudian dia melahirkan bayi laki-laki.

              Bayi laki-laki itu bernama Joko Bereg. Jayengrono mengatakan kepada pacarnya untuk menjaga putranya dan memberikan gadis itu liontin yang indah.

               Hari demi hari berlalu dan Joko Bereg tumbuh sebagai bocah tampan dan cerdas yang tampak seperti ayahnya.

              Sayangnya dia tidak memiliki ayah jadi dia sering mendengar orang-orang bergosip tentang ibunya. Joko Bereg terluka oleh gosip itu sehingga suatu hari dia bertanya pada ibunya tentang hal itu.

"Bu, boleh saya bertanya sesuatu?"

'Ya tentu saja'

‘Saya telah memikirkan masalah ini selama beberapa bulan terakhir. Sebenarnya saya tidak berani bertanya tentang hal ini.

Saya takut saya akan melukai perasaan Anda

'Tentang apa ini? ‘

‘Orang-orang bergosip tentang kami’

             Ibunya terkejut. Dia terdiam sejenak. Dia berusaha sangat keras untuk mengendalikan emosinya.

              'Ok, ini bukan salahmu. Saya tahu apa yang kau rasakan. Ini adalah kesalahanku.

              Maafkan aku, putraku. Sekarang Anda sudah dewasa, sekarang saatnya bagi Anda untuk mengetahui kebenaran '

             "Jangan ibu, jika itu terlalu sulit untuk Anda, Anda tidak perlu memberi tahu saya. Saya akan mencoba memahami '

             "Tidak, Joko. Cepat atau lambat Anda harus tahu latar belakang Anda. Mendengarkan.

               Joko, kamu punya ayah. Ayahmu adalah orang yang sangat spesial. Dia adalah pria yang kuat. Namanya Tumenggung Jayengrono, penguasa Surabaya '.

Kali ini Joko Bereg terkejut. Dia terdiam.

‘Saya tidak mengerti ibu’

              'Dua puluh tahun yang lalu saya bertemu dia di sini di desa ini ketika dia pergi berburu di sini. Dia bilang dia akan menikahiku.

               Kemudian ketika kamu lahir dia mengatakan kepadaku untuk menjagamu dengan baik dan dia berjanji padaku untuk kembali dan membawaku ke rumahnya.

               Saya tidak tahu mengapa dia tidak pernah menyimpan kata-katanya. Tapi dia memberi saya sesuatu. Melihat. Dia memberi saya liontin ini ’.

              "Bu, kenapa kamu tidak melakukan apa-apa? Tidak adil baginya untuk meninggalkanmu seperti itu '

              ‘Joko, saya hanyalah wanita miskin yang tidak berdaya. Apa yang bisa saya lakukan pada pria yang begitu kuat? "

               "Bu, saya punya ide. Saya akan datang menemuinya di Surabaya ’

               ‘Ok, tapi berjanjilah padaku bahwa kamu harus menjaga sikapmu. Dia adalah pria yang dihormati dan berkuasa.

                Jangan membuatnya marah. Katakan padanya siapa Anda dengan baik dan sopan dan tunjukkan liontin ini kepadanya

                Keesokan harinya Joko Bereg pergi ke Surabaya sendirian. Meskipun dia hanya bocah malang yang berasal dari desa,

                 Joko sangat rapi dan sopan. Kemudian dia bertemu dengan penjaga di depan rumah Jayengrono.

                 'Permisi; Saya Joko Bereg dari desa Wiyung, di luar kota. Bolehkah saya meminta izin untuk mengadakan audiensi dengan Tumenggung Jayengrono? "

                 "Untuk apa" tanya penjaga itu dengan arogan.

               ‘Saya ingin melaporkan tentang situasi terbaru di desa saya, Wiyung’

               "Kamu harus menunggu beberapa hari karena Yang Mulia sangat sibuk".

              Jadi Joko Bereg harus menunggu beberapa hari. Kemudian suatu hari penjaga itu memanggil namanya dan dia diizinkan masuk. Tumenggung Jayengrono adalah pria yang baik hati. Dia sama sekali tidak sombong. Ketika dia melihat Joko, dia dengan hangat menyambutnya.

            "Maafkan saya Yang Mulia, bolehkah saya masuk?"

            "Hai anak muda, masuklah, duduk di sini. Siapa namamu? Mengapa Anda ingin melihat saya? "

              ‘Saya Joko Bereg dari Wiyung. Sebelum memberitahumu tentang alasanku menemuimu, biarkan aku memohon maaf jika kata-kataku akan membuatmu marah.

'Tentang apa ini?

'Tentang keluargaku'

            'Keluargamu? Apakah Anda memiliki masalah keluarga?

            "Ya, Yang Mulia, sebenarnya saya anak Dewi Sangkrah dari desa Wiyung. Dia mengatakan kepada saya bahwa saya harus melihat Anda dan menunjukkan liontin ini kepada Anda. Dia bilang liontin ini dari kamu.

             Sepuluh guntur menyerang pada saat yang sama lebih ringan daripada kata-kata Joko Bereg untuk Tumenggung Jayengrono.

             Dia tidak pernah mengharapkan kata-kata itu. Dia berpikir bahwa Joko adalah kepala desa biasa yang ingin melaporkan sesuatu. Karena dia bisa mengendalikan emosinya, dia bertanya lebih lanjut.

"Apa yang dia katakan padamu?"

            "Dia mengatakan bahwa dia bertemu dengan Anda di Wiyung dua puluh tahun yang lalu, lalu Anda mengatakan kepadanya bahwa Anda akan menikahinya. Ketika aku lahir kamu memberinya liontin ini.

              Dia mengatakan bahwa aku adalah putramu. Tapi kamu tidak pernah kembali. "

"Apakah dia menikahi lelaki lain setelah itu?"

              "Tidak, dia tidak melakukannya. Dia telah menunggu Anda untuk waktu yang lama '

                Tumenggung Jayengrono diam saja. Dia melihat halaman rumahnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sementara Joko Bereg juga diam.

                 Dia tidak berani mengatakan apa-apa. Dia hanya melihat ke lantai.

                "Joko, ini sangat mengejutkan bagi saya, tetapi saya harus mengakui bahwa saya telah mengabaikan Anda dan ibumu. Aku yang salah. Maafkan saya atas kesalahan saya.

             Saya juga harus meminta maaf kepada ibumu. Dia pasti sangat terluka. Jadi, ini keputusan saya. Mulai sekarang Anda adalah putra saya yang sah dari ibumu Dewi Sangkrah dan Anda akan tinggal di sini bersamaku.

               Saya akan memberi Anda nama baru - Sawung Galing. Besok Anda harus pulang ke Wiyung dan memberi tahu ibu Anda tentang hal itu. Dia juga istri sah saya tetapi dia tinggal di sana di Wiyung ’.

               Kabar bahwa Tumenggung Jayengrono memiliki istri baru dan seorang putra menyebar dengan cepat ke seluruh negeri. Semua orang terkejut terutama keluarga Jayengrono. Dia sudah punya istri dan dua putra - Sawung Rono dan Sawung Sari. Mereka sangat kecewa dan sangat kesal. Jadi mereka menyiapkan rencana untuk menghilangkan Sawung Galing.

               Hari pertama Sawung Galing tinggal di rumah ayahnya adalah yang paling sulit baginya. Banyak mata menatap curiga padanya. Istri dan anak-anak Jayengrono sangat membencinya tetapi mereka tidak berani menunjukkan kebencian mereka kepada Jayengrono. Suatu hari ketika Jayengrono sibuk mereka bertemu dengannya. Istri Jayengrono tidak bisa mengendalikan emosinya ketika dia bertemu dengannya.

           "Hei, kamu tidak seharusnya ada di sini. Kamu hanya anak desa yang bodoh! "

'Permisi? ‘

'Keluar dari rumah saya!'

            "Saya takut itu tidak benar. Saya di sini atas perintah Yang Mulia Jayengrono. Selain itu, saya juga putranya. Harap hanya

Sawungrono dan Sawungsari juga sangat marah.

              "Hei, kamu anak desa bodoh, kamu tidak punya hak untuk berdebat dengan ibuku. Dia adalah wanita yang dihormati dan kamu hanya bajingan! "

               Sawung Galing tidak dapat mengendalikan emosinya ketika dia mendengar kata-kata sarkastik dari saudara tirinya. Ketegangan memuncak dan mereka bertempur. Sawung Galing kalah jumlah tetapi dia adalah seorang anak yang kuat dan cerdas sementara saudara tirinya hanya anak-anak manja yang tidak pernah bekerja keras. Akhirnya Sawung Galing bisa mengalahkan saudara tirinya. Sementara itu para pelayan sangat senang melihat Sawung Galing dapat mengalahkan mereka. Sebenarnya mereka tidak suka Sawungrono dan Sawungsari yang arogan dan sarkastik.

              Sawung Galing adalah anak yang sopan. Meskipun dia memiliki posisi tinggi saat itu, dia tetap ramah kepada semua orang. Segera dia memenangkan rasa hormat banyak orang.

             Sementara penguasa kolonial Belanda tidak menyukai Tumenggung Jayengrono. Mereka berpikir bahwa Jayengrono adalah penghalang bagi ambisi kolonial mereka. Jadi mereka berusaha mencari cara untuk menggulingkannya dari kekuasaan. Lalu mereka mengadakan kompetisi. Di medan Surabaya mereka memasang bendera dan meminta orang-orang untuk menembak dengan panah. Siapa saja yang bisa menembaknya akan dipromosikan sebagai penguasa Surabaya.

              Banyak orang datang untuk ambil bagian dalam kompetisi termasuk putra-putra Jayengrono. Sawung Rono dan Sawung Sari tidak berhasil karena mereka hanya anak manja yang tidak bisa berbuat apa-apa. Sawung Galing segera mengambil gilirannya. Tembakannya bagus; dia bisa menembak bendera. Penguasa kolonial segera mempromosikannya sebagai penerus Jayengrono. Mereka yakin bahwa mereka bisa mendikte penguasa muda yang baru.

               Asumsi penguasa kolonial salah. Sawung Galing terbukti menjadi pemimpin yang baik. Dia tahu dari pengalaman tangan pertama orang-orang yang menderita sehingga ketika dia berkuasa dia berjuang untuk mereka. Dia tidak mau didikte oleh kolonialis. Dia membangun pasukan yang kuat dan dia bisa menahan serangan militer Belanda.

              Hari ini orang masih mengingatnya sebagai pahlawan dan legenda Surabaya. Makamnya terletak di distrik Wiyung di kota Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia. Dia dimakamkan di sana bersama ibunya, ayah besarnya dan kerabatnya. Banyak orang datang untuk berdoa baginya di makamnya.

             Sudah lama sekali, Surabaya sudah menjadi pelabuhan yang sibuk di bagian timur Pulau Jawa di Indonesia saat ini. Penguasa Surabaya adalah orang bijak, bernama Tumenggung Jayengrono. Dia suka berburu sangat banyak.

            Wiyung adalah nama daerah di mana dia biasanya pergi berburu dengan anak buahnya. Ada hutan kecil di sana di mana dia bisa berburu rusa dan hewan lain.

           Suatu hari ia melihat seorang gadis cantik bernama Dewi Sangkrah di desa Wiyung. Jayengrono langsung jatuh cinta padanya.

             Dewi Sangkrah tidak bisa menolak cintanya dan mereka menjadi kekasih. Beberapa bulan kemudian dia melahirkan bayi laki-laki.

              Bayi laki-laki itu bernama Joko Bereg. Jayengrono mengatakan kepada pacarnya untuk menjaga putranya dan memberikan gadis itu liontin yang indah.

               Hari demi hari berlalu dan Joko Bereg tumbuh sebagai bocah tampan dan cerdas yang tampak seperti ayahnya.

              Sayangnya dia tidak memiliki ayah jadi dia sering mendengar orang-orang bergosip tentang ibunya. Joko Bereg terluka oleh gosip itu sehingga suatu hari dia bertanya pada ibunya tentang hal itu.

"Bu, boleh saya bertanya sesuatu?"

'Ya tentu saja'

‘Saya telah memikirkan masalah ini selama beberapa bulan terakhir. Sebenarnya saya tidak berani bertanya tentang hal ini.

Saya takut saya akan melukai perasaan Anda

'Tentang apa ini? ‘

‘Orang-orang bergosip tentang kami’

             Ibunya terkejut. Dia terdiam sejenak. Dia berusaha sangat keras untuk mengendalikan emosinya.

              'Ok, ini bukan salahmu. Saya tahu apa yang kau rasakan. Ini adalah kesalahanku.

              Maafkan aku, putraku. Sekarang Anda sudah dewasa, sekarang saatnya bagi Anda untuk mengetahui kebenaran '

             "Jangan ibu, jika itu terlalu sulit untuk Anda, Anda tidak perlu memberi tahu saya. Saya akan mencoba memahami '

             "Tidak, Joko. Cepat atau lambat Anda harus tahu latar belakang Anda. Mendengarkan.

               Joko, kamu punya ayah. Ayahmu adalah orang yang sangat spesial. Dia adalah pria yang kuat. Namanya Tumenggung Jayengrono, penguasa Surabaya '.

Kali ini Joko Bereg terkejut. Dia terdiam.

‘Saya tidak mengerti ibu’

              'Dua puluh tahun yang lalu saya bertemu dia di sini di desa ini ketika dia pergi berburu di sini. Dia bilang dia akan menikahiku.

               Kemudian ketika kamu lahir dia mengatakan kepadaku untuk menjagamu dengan baik dan dia berjanji padaku untuk kembali dan membawaku ke rumahnya.

               Saya tidak tahu mengapa dia tidak pernah menyimpan kata-katanya. Tapi dia memberi saya sesuatu. Melihat. Dia memberi saya liontin ini ’.

              "Bu, kenapa kamu tidak melakukan apa-apa? Tidak adil baginya untuk meninggalkanmu seperti itu '

              ‘Joko, saya hanyalah wanita miskin yang tidak berdaya. Apa yang bisa saya lakukan pada pria yang begitu kuat? "

               "Bu, saya punya ide. Saya akan datang menemuinya di Surabaya ’

               ‘Ok, tapi berjanjilah padaku bahwa kamu harus menjaga sikapmu. Dia adalah pria yang dihormati dan berkuasa.

                Jangan membuatnya marah. Katakan padanya siapa Anda dengan baik dan sopan dan tunjukkan liontin ini kepadanya

                Keesokan harinya Joko Bereg pergi ke Surabaya sendirian. Meskipun dia hanya bocah malang yang berasal dari desa,

                 Joko sangat rapi dan sopan. Kemudian dia bertemu dengan penjaga di depan rumah Jayengrono.

                 'Permisi; Saya Joko Bereg dari desa Wiyung, di luar kota. Bolehkah saya meminta izin untuk mengadakan audiensi dengan Tumenggung Jayengrono? "

                 "Untuk apa" tanya penjaga itu dengan arogan.

               ‘Saya ingin melaporkan tentang situasi terbaru di desa saya, Wiyung’

               "Kamu harus menunggu beberapa hari karena Yang Mulia sangat sibuk".

              Jadi Joko Bereg harus menunggu beberapa hari. Kemudian suatu hari penjaga itu memanggil namanya dan dia diizinkan masuk. Tumenggung Jayengrono adalah pria yang baik hati. Dia sama sekali tidak sombong. Ketika dia melihat Joko, dia dengan hangat menyambutnya.

            "Maafkan saya Yang Mulia, bolehkah saya masuk?"

            "Hai anak muda, masuklah, duduk di sini. Siapa namamu? Mengapa Anda ingin melihat saya? "

              ‘Saya Joko Bereg dari Wiyung. Sebelum memberitahumu tentang alasanku menemuimu, biarkan aku memohon maaf jika kata-kataku akan membuatmu marah.

'Tentang apa ini?

'Tentang keluargaku'

            'Keluargamu? Apakah Anda memiliki masalah keluarga?

            "Ya, Yang Mulia, sebenarnya saya anak Dewi Sangkrah dari desa Wiyung. Dia mengatakan kepada saya bahwa saya harus melihat Anda dan menunjukkan liontin ini kepada Anda. Dia bilang liontin ini dari kamu.

             Sepuluh guntur menyerang pada saat yang sama lebih ringan daripada kata-kata Joko Bereg untuk Tumenggung Jayengrono.

             Dia tidak pernah mengharapkan kata-kata itu. Dia berpikir bahwa Joko adalah kepala desa biasa yang ingin melaporkan sesuatu. Karena dia bisa mengendalikan emosinya, dia bertanya lebih lanjut.

"Apa yang dia katakan padamu?"

            "Dia mengatakan bahwa dia bertemu dengan Anda di Wiyung dua puluh tahun yang lalu, lalu Anda mengatakan kepadanya bahwa Anda akan menikahinya. Ketika aku lahir kamu memberinya liontin ini.

              Dia mengatakan bahwa aku adalah putramu. Tapi kamu tidak pernah kembali. "

"Apakah dia menikahi lelaki lain setelah itu?"

              "Tidak, dia tidak melakukannya. Dia telah menunggu Anda untuk waktu yang lama '

                Tumenggung Jayengrono diam saja. Dia melihat halaman rumahnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sementara Joko Bereg juga diam.

                 Dia tidak berani mengatakan apa-apa. Dia hanya melihat ke lantai.

                "Joko, ini sangat mengejutkan bagi saya, tetapi saya harus mengakui bahwa saya telah mengabaikan Anda dan ibumu. Aku yang salah. Maafkan saya atas kesalahan saya.

             Saya juga harus meminta maaf kepada ibumu. Dia pasti sangat terluka. Jadi, ini keputusan saya. Mulai sekarang Anda adalah putra saya yang sah dari ibumu Dewi Sangkrah dan Anda akan tinggal di sini bersamaku.

               Saya akan memberi Anda nama baru - Sawung Galing. Besok Anda harus pulang ke Wiyung dan memberi tahu ibu Anda tentang hal itu. Dia juga istri sah saya tetapi dia tinggal di sana di Wiyung ’.

               Kabar bahwa Tumenggung Jayengrono memiliki istri baru dan seorang putra menyebar dengan cepat ke seluruh negeri. Semua orang terkejut terutama keluarga Jayengrono. Dia sudah punya istri dan dua putra - Sawung Rono dan Sawung Sari. Mereka sangat kecewa dan sangat kesal. Jadi mereka menyiapkan rencana untuk menghilangkan Sawung Galing.

               Hari pertama Sawung Galing tinggal di rumah ayahnya adalah yang paling sulit baginya. Banyak mata menatap curiga padanya. Istri dan anak-anak Jayengrono sangat membencinya tetapi mereka tidak berani menunjukkan kebencian mereka kepada Jayengrono. Suatu hari ketika Jayengrono sibuk mereka bertemu dengannya. Istri Jayengrono tidak bisa mengendalikan emosinya ketika dia bertemu dengannya.

           "Hei, kamu tidak seharusnya ada di sini. Kamu hanya anak desa yang bodoh! "

'Permisi? ‘

'Keluar dari rumah saya!'

            "Saya takut itu tidak benar. Saya di sini atas perintah Yang Mulia Jayengrono. Selain itu, saya juga putranya. Harap hanya

Sawungrono dan Sawungsari juga sangat marah.

              "Hei, kamu anak desa bodoh, kamu tidak punya hak untuk berdebat dengan ibuku. Dia adalah wanita yang dihormati dan kamu hanya bajingan! "

               Sawung Galing tidak dapat mengendalikan emosinya ketika dia mendengar kata-kata sarkastik dari saudara tirinya. Ketegangan memuncak dan mereka bertempur. Sawung Galing kalah jumlah tetapi dia adalah seorang anak yang kuat dan cerdas sementara saudara tirinya hanya anak-anak manja yang tidak pernah bekerja keras. Akhirnya Sawung Galing bisa mengalahkan saudara tirinya. Sementara itu para pelayan sangat senang melihat Sawung Galing dapat mengalahkan mereka. Sebenarnya mereka tidak suka Sawungrono dan Sawungsari yang arogan dan sarkastik.

              Sawung Galing adalah anak yang sopan. Meskipun dia memiliki posisi tinggi saat itu, dia tetap ramah kepada semua orang. Segera dia memenangkan rasa hormat banyak orang.

             Sementara penguasa kolonial Belanda tidak menyukai Tumenggung Jayengrono. Mereka berpikir bahwa Jayengrono adalah penghalang bagi ambisi kolonial mereka. Jadi mereka berusaha mencari cara untuk menggulingkannya dari kekuasaan. Lalu mereka mengadakan kompetisi. Di medan Surabaya mereka memasang bendera dan meminta orang-orang untuk menembak dengan panah. Siapa saja yang bisa menembaknya akan dipromosikan sebagai penguasa Surabaya.

              Banyak orang datang untuk ambil bagian dalam kompetisi termasuk putra-putra Jayengrono. Sawung Rono dan Sawung Sari tidak berhasil karena mereka hanya anak manja yang tidak bisa berbuat apa-apa. Sawung Galing segera mengambil gilirannya. Tembakannya bagus; dia bisa menembak bendera. Penguasa kolonial segera mempromosikannya sebagai penerus Jayengrono. Mereka yakin bahwa mereka bisa mendikte penguasa muda yang baru.

               Asumsi penguasa kolonial salah. Sawung Galing terbukti menjadi pemimpin yang baik. Dia tahu dari pengalaman tangan pertama orang-orang yang menderita sehingga ketika dia berkuasa dia berjuang untuk mereka. Dia tidak mau didikte oleh kolonialis. Dia membangun pasukan yang kuat dan dia bisa menahan serangan militer Belanda.

              Hari ini orang masih mengingatnya sebagai pahlawan dan legenda Surabaya. Makamnya terletak di distrik Wiyung di kota Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia. Dia dimakamkan di sana bersama ibunya, ayah besarnya dan kerabatnya. Banyak orang datang untuk berdoa baginya di makamnya.

         Pada suatu waktu hiduplah seorang ibu yang memiliki dua anak perempuan. Yang satu adalah anaknya sendiri, yang lain adalah anak tirinya. Dia sangat menyukai putrinya sendiri, tetapi dia tidak akan terlalu banyak melihat anak tirinya. Satu-satunya alasan adalah bahwa Maruša, anak tiri, lebih cantik daripada putrinya sendiri, Holena.

         Maruša yang berhati lembut tidak tahu betapa cantiknya dia, sehingga dia tidak pernah tahu mengapa ibunya begitu bersaling dengannya setiap kali dia memandangnya. Dia harus melakukan semua pekerjaan rumah, merapikan pondok, memasak, mencuci, dan menjahit, dan kemudian dia harus mengambil jerami untuk sapi dan menjaganya.

         Dia melakukan semua pekerjaan ini sendirian, sementara Holena menghabiskan waktu menghias diri dan bermalas-malasan. Tapi Maruša suka bekerja, karena dia adalah seorang gadis yang sabar, dan ketika ibunya memarahi dan memberinya nilai, dia memakainya seperti anak domba. Itu tidak

         Baik, namun, karena mereka tumbuh kejam dan kejam setiap hari, hanya karena Maruša tumbuh lebih cantik dan Holena jelek setiap hari.

         Akhirnya ibu berpikir: "Mengapa saya harus menjaga anak tiri yang cantik di rumah saya? Ketika para pemuda datang ke sini, mereka akan jatuh cinta pada Maruša dan mereka tidak akan melihat ke arah Holena."

         Sejak saat itu ibu tiri dan putrinya terus-menerus memikirkan bagaimana menyingkirkan Maruša yang miskin. Mereka kelaparan dan mereka memukulnya. Tapi dia menanggung semuanya, dan terlepas dari semua itu dia terus tumbuh semakin cantik setiap hari.

         Mereka menciptakan siksaan yang tidak akan pernah terpikirkan oleh orang-orang kejam. Suatu hari - saat itu di pertengahan Januari - Holena merasakan kerinduan akan aroma violet. "Pergilah, Maruša, dan ambilkan beberapa violet dari hutan; aku ingin memakainya di pinggangku dan untuk menciumnya," katanya kepada saudara perempuannya.

         "Astaga! Kakak. Sungguh gagasan aneh! Siapa yang pernah mendengar tentang bunga violet tumbuh di bawah salju?" kata Maruša yang malang.

         "Kau celaka! Beraninya kau berdebat ketika aku menyuruhmu melakukan sesuatu? Pergilah sekali saja, dan jika kau tidak membawakanku violet dari hutan, aku akan membunuhmu!" kata Holena mengancam.

         Ibu tiri menangkap Maruša, membuatnya keluar dari pintu, dan membantingnya ke arahnya. Dia pergi ke hutan menangis dengan sedih. Salju tergeletak dalam, dan tidak ada jejak manusia untuk dilihat.

         Maruša berkeliaran untuk waktu yang lama, disiksa oleh kelaparan dan gemetar kedinginan. Dia memohon Tuhan untuk membawanya dari dunia.

         Akhirnya dia melihat cahaya di kejauhan. Dia pergi menuju cahaya, dan akhirnya datang ke puncak gunung. Api besar membakar di sana, dan di sekeliling api itu ada dua belas batu dengan dua belas orang duduk di atasnya.

         Tiga dari mereka berjanggut seperti salju, tiga tidak terlalu tua, dan tiga masih lebih muda. Ketiga termuda adalah yang paling tampan dari mereka semua. Mereka tidak berbicara, tetapi semua duduk diam. Kedua belas orang ini adalah dua belas bulan.

         Great January duduk paling tinggi dari semuanya; rambut dan janggutnya seputih salju, dan di tangannya dia memegang sebuah klub.

         Maruša merasa takut. Dia berdiri diam untuk beberapa waktu dalam ketakutan, tetapi, semakin berani, dia mendekati mereka dan berkata: "Tolong, tuan yang baik, biarkan aku menghangatkan tanganku di apimu. Aku gemetar karena kedinginan."

         Great January mengangguk, dan bertanya: "Mengapa kamu datang ke sini, gadis kecil sayangku? Apa yang kamu cari?"

"Saya mencari bunga violet," jawab Maruša.

"Ini bukan waktunya untuk mencari violet, karena semuanya tertutup salju," jawab Great January.

         "Ya, saya tahu; tetapi saudari saya Holena dan ibu tiri saya mengatakan bahwa saya harus membawa mereka beberapa violet dari hutan. Jika saya tidak membawa mereka, mereka akan membunuh saya. Katakan kepada saya, ayah, tolong beri tahu saya di mana saya bisa Temukan mereka."

         Great January berdiri dan pergi ke salah satu bulan yang lebih muda - itu adalah Maret - dan, memberinya klub, dia berkata: "Saudara, duduklah di kursi tinggi."

         March mengambil kursi tinggi di atas batu dan melambai-lambaikan tongkat ke atas api. Api berkobar, salju mulai mencair, pepohonan mulai berkuncup, dan tanah di bawah pohon-pohon beech muda itu tertutup rumput dan tunas bunga daisy mulai mengintip melalui rumput. Saat itu musim semi.

         Di bawah semak-semak bunga violet bermekaran di antara daun-daun kecil mereka, dan sebelum Maruša sempat berpikir, begitu banyak dari mereka bermunculan bahwa mereka tampak seperti kain biru yang tersebar di tanah.

"Cepat pilih, Maruša!" diperintahkan Maret.

         Maruša mengambil mereka dengan sukacita sampai dia memiliki banyak sekali. Kemudian dia mengucapkan terima kasih pada bulan-bulan dengan sepenuh hati dan bergegas pulang ke rumah.

         Holena dan ibu tiri bertanya-tanya ketika mereka melihat Maruša membawa violet. Mereka membuka pintu untuknya, dan aroma bunga violet memenuhi semua pondok.

"Dari mana kamu mendapatkannya?" tanya Holena cemberut.

"Mereka tumbuh di bawah semak-semak di hutan di gunung-gunung tinggi."

         Holena menempatkan mereka di ikat pinggangnya. Dia membiarkan ibunya mencium bau mereka, tetapi dia tidak mengatakan pada adiknya: "Cium mereka."

         Suatu hari dia sedang berada di dekat tungku, dan sekarang dia merindukan beberapa stroberi. Jadi dia memanggil adiknya dan berkata: "Pergilah, Maruša, dan ambilkan saya stroberi dari hutan."

         "Aduh! Adik tercinta, di mana saya bisa menemukan stroberi? Siapa yang pernah mendengar stroberi tumbuh di bawah salju?" kata Maruša.

         "Kau sedikit kesal, beraninya kau berdebat ketika aku menyuruhmu melakukan sesuatu? Pergi dan beri aku stroberi, atau aku akan membunuhmu!"

         Ibu tiri menangkap Maruša dan mendorongnya keluar dari pintu dan menutupnya setelah dia. Maruša pergi ke hutan menangis dengan sedih. Salju tergeletak dalam, dan tidak ada jejak manusia untuk dilihat di mana pun. Dia berkeliaran untuk waktu yang lama, disiksa oleh kelaparan dan gemetar kedinginan.

         Akhirnya dia melihat cahaya yang dia lihat beberapa hari yang lalu. Sangat gembira, dia pergi ke arahnya. Dia datang ke api besar dengan dua belas bulan duduk di sekelilingnya.

V"Tolong, tuan-tuan yang baik, biarkan aku menghangatkan tanganku ke api. Aku gemetar kedinginan."

Great January mengangguk, dan bertanya: "Mengapa kamu datang lagi, dan apa yang kamu cari di sini?"

"Saya mencari stroberi."

"Tapi sekarang musim dingin, dan stroberi tidak tumbuh di salju," kata Januari.

         "Ya, saya tahu," kata Maruša dengan sedih; "Tapi kakakku Holena dan ibu tiriku memintaku membawakan mereka stroberi, dan jika aku tidak membawanya, mereka akan membunuhku. Katakan padaku, ayah, katakan padaku, tolong, di mana aku bisa menemukan mereka."

         Great January bangkit. Dia pergi ke bulan duduk di hadapannya - itu Juni - dan menyerahkan klub kepadanya, mengatakan: "Saudara, duduklah di kursi tinggi."

         June mengambil kursi tinggi di atas batu dan mengayunkan tongkat itu ke atas api. Api menyala, dan hawa panasnya melelehkan salju sesaat. Tanahnya hijau semua, pepohonan tertutup daun, burung-burung mulai bernyanyi, dan hutan dipenuhi dengan berbagai macam bunga. Saat itu musim panas. Tanah di bawah semak-semak ditutupi dengan bintang muda putih, bunga-bunga yang berbintang berubah menjadi stroberi setiap menit. Mereka matang sekaligus, dan sebelum Maruša sempat berpikir, ada begitu banyak dari mereka yang tampak seolah-olah darah telah ditaburkan di tanah.
       
         "Pilih mereka sekaligus, Maruša!" diperintahkan Juni. Maruša mengambil mereka dengan sukacita sampai dia mengisi penuh celemeknya. Kemudian dia mengucapkan terima kasih pada bulan-bulan dengan sepenuh hati dan bergegas pulang ke rumah. Holena dan ibu tiri bertanya-tanya ketika mereka melihat Maruša membawa stroberi. Celemeknya penuh dengan mereka. Mereka berlari untuk membukakan pintu untuknya, dan aroma stroberi memenuhi seluruh pondok.

"Di mana Anda mengambilnya?" tanya Holena cemberut.

         "Ada banyak dari mereka tumbuh di bawah pohon-pohon beech muda di hutan di gunung-gunung tinggi."

         Holena mengambil stroberi, dan terus memakannya sampai dia tidak bisa makan lagi. Begitu pula ibu tiri juga, tetapi mereka tidak mengatakan kepada Maruša: "Ini satu untuk Anda."

         Ketika Holena menikmati stroberi, dia menjadi serakah untuk tempat lain, dan pada hari ketiga dia merindukan apel merah.

         "Maruša, pergilah ke hutan dan ambilkan aku beberapa apel merah," katanya kepada saudara perempuannya.

         "Aduh! Saudari sayang, bagaimana aku mendapatkan apel untukmu di musim dingin?" Maruša memprotes.

         "Kau sedikit kesal, bagaimana berani kau berdebat ketika aku menyuruhmu melakukan sesuatu? Pergi ke hutan sekaligus, dan jika kau tidak membawakan apel itu, aku akan membunuhmu!" mengancam Holena.

         Ibu tiri menangkap Maruša dan mendorongnya keluar dari pintu dan menutupnya setelah dia. Maruša pergi ke hutan menangis dengan sedih. Salju itu sangat dalam; tidak ada jejak manusia untuk dilihat di mana saja. Tapi dia tidak berkeliaran kali ini.

                   Dia berlari lurus ke puncak gunung tempat api besar terbakar. Dua belas bulan duduk mengelilingi api; ya, mereka memang ada di sana, dan Great January duduk di kursi tinggi.

"Tolong, tuan-tuan yang baik, biarkan aku menghangatkan tanganku ke api. Aku gemetar kedinginan."

Great January mengangguk, dan bertanya: "Mengapa kamu datang ke sini, dan apa yang kamu cari?"

"Saya mencari apel merah."

"Sekarang musim dingin, dan apel merah tidak tumbuh di musim dingin," jawab Januari.

         "Ya, saya tahu," kata Maruša dengan sedih; "Tapi adikku dan ibu tiriku, juga, memintaku membawakan apel merah dari hutan. Jika aku tidak membawanya, mereka akan membunuhku. Katakan padaku, ayah, katakan padaku, tolong, di mana aku bisa menemukan mereka. "

         Great January bangkit. Dia pergi ke salah satu bulan yang lebih tua - itu September. Dia menyerahkan klub kepadanya dan berkata: "Saudaraku, duduklah di kursi tinggi."

         Bulan September mengambil kursi tinggi di atas batu dan mengayunkan tongkat di atas api. Api mulai terbakar dengan nyala merah, salju mulai mencair. Tetapi pohon-pohon itu tidak ditutupi daun; daun-daun itu bergoyang satu demi satu, dan angin dingin mendorong mereka ke sana kemari di tanah yang menguning.

         Kali ini Maruša tidak melihat begitu banyak bunga. Hanya merah jambu merah bermekaran di lereng bukit, dan safron padang rumput berbunga di lembah. Lumut pakis tinggi dan tebal tumbuh di bawah pohon beech muda. Tapi Maruša hanya mencari apel merah, dan akhirnya dia melihat pohon apel dengan apel merah menggantung tinggi di antara cabang-cabangnya.

"Kocok pohon sekaligus, Maruša!" memerintahkan bulan itu.

         Benar senang Maruša mengguncang pohon, dan satu apel jatuh. Dia mengguncangnya untuk kedua kalinya, dan apel lain jatuh.

"Sekarang, Maruša, cepat pulang!" teriak bulan itu.

         Maruša mematuhinya sekaligus. Dia mengambil apel, mengucapkan terima kasih kepada bulan dengan sepenuh hati, dan berlari pulang dengan riang.

         Holena dan ibu tiri bertanya-tanya ketika mereka melihat Maruša membawa apel. Mereka berlari untuk membukakan pintu untuknya, dan dia memberi mereka dua buah apel

         "Dari mana kamu mendapatkannya?" tanya Holena. "Ada banyak dari mereka di hutan di gunung yang tinggi."

         "Dan mengapa kamu tidak membawa lebih banyak? Atau apakah kamu memakannya dalam perjalanan pulang?" kata Holena dengan kasar.

         "Aduh! Saudaraku sayang, aku tidak makan satu pun. Tapi ketika aku telah mengguncang pohon sekali, satu apel jatuh, dan ketika aku mengguncangnya untuk kedua kalinya, apel lain jatuh, dan mereka tidak akan membiarkanku kocok lagi. Mereka berteriak kepada saya untuk langsung pulang, "protes Maruša.

         Holena mulai mengutuknya: "Semoga kau disambar sampai mati oleh petir!" dan dia akan memukulnya.

         Maruša mulai menangis dengan pahit, dan dia berdoa kepada Tuhan untuk membawanya ke Dirinya, atau dia akan dibunuh oleh saudaranya yang jahat dan ibu tirinya. Dia lari ke dapur.

         Greedy Holena berhenti memaki dan mulai memakan apel itu. Rasanya sangat lezat sehingga dia memberi tahu ibunya bahwa dia belum pernah merasakan sesuatu yang begitu menyenangkan di sepanjang hidupnya. Sang ibu tiri juga menyukainya. Ketika mereka selesai, mereka menginginkan lebih banyak lagi.

         "Ibu, beri aku mantel bulu saya. Saya akan pergi ke hutan sendiri. Bajingan kecil itu akan memakan mereka semua lagi dalam perjalanan pulang. Saya akan menemukan tempat itu, dan saya akan mengguncang mereka semua. , namun mereka meneriaki saya. "

         Ibunya berusaha mencegahnya, tetapi itu tidak baik. Dia mengambil mantel bulunya, membungkus kain di kepalanya, dan dia pergi ke hutan. Ibunya berdiri di ambang pintu, mengawasi bagaimana Holena bisa berjalan dalam cuaca musim dingin.

         Salju membentang dalam, dan tidak ada jejak manusia untuk dilihat di mana pun. Holena berkeliaran untuk waktu yang lama, tetapi keinginan dari buah apel manis terus mendorongnya. Akhirnya dia melihat cahaya di kejauhan.

         Dia pergi ke sana, dan naik ke puncak gunung di mana api besar terbakar, dan mengitari api pada dua belas batu yang dua belas bulan sedang duduk. Dia ketakutan pada awalnya, tetapi dia segera pulih. Dia melangkah ke api dan merentangkan tangannya untuk menghangatkan mereka, tetapi dia tidak mengatakan sebanyak "Saat Anda pergi" ke dua belas bulan; tidak, dia tidak mengatakan satu kata pun pada mereka.

"Mengapa kamu datang ke sini, dan apa yang kamu cari?" tanya Agung Januari dengan marah.

         "Mengapa kamu ingin tahu, kamu tua bodoh? Ini bukan urusanmu," jawab Holena dengan marah, dan dia berbalik dari api dan pergi ke hutan.

         Great January mengerutkan kening dan mengayunkan tongkat di atas kepalanya. Langit menjadi gelap sesaat, api membakar rendah, salju mulai turun setebal seolah-olah bulu-bulunya digoyang dari selimut yang turun, dan angin dingin mulai bertiup menembus hutan.

         Holena tidak bisa melihat satu langkah di depannya; dia tersesat sama sekali, dan beberapa kali dia jatuh ke salju. Kemudian anggota tubuhnya menjadi lemah dan mulai perlahan menjadi kaku. Salju terus berjatuhan dan angin dingin bertiup lebih dingin dari sebelumnya. Holena mulai mengutuk Maruša dan Tuhan Allah. Anggota tubuhnya mulai membeku, terlepas dari mantel bulunya.

         Ibunya sedang menunggu Holena; dia terus mencarinya, pertama di jendela, lalu di luar pintu, tetapi semuanya sia-sia.

         "Apakah dia sangat menyukai apel sehingga dia tidak bisa meninggalkannya, atau ada apa? Aku harus melihat sendiri di mana dia," akhirnya ibu tiri memutuskan. Jadi dia mengenakan mantel bulu, dia membungkus selendang di kepalanya, dan keluar untuk mencari Holena. Salju itu sangat dalam; tidak ada jejak manusia untuk dilihat; salju turun dengan cepat, dan angin dingin bertiup menembus hutan.

         Maruša telah memasak makan malam, dia telah melihat sapi itu, namun Holena dan ibunya tidak kembali. "Di mana mereka tinggal begitu lama?" pikir Maruša, ketika dia duduk untuk bekerja di distaf tersebut. Spindel sudah penuh dan itu cukup gelap di dalam ruangan, namun Holena dan ibu tiri belum kembali.

         "Aduh, Tuhan! Apa yang terjadi pada mereka?" teriak Maruša, mengintip dengan cemas melalui jendela. Langit cerah dan bumi berkilau, tetapi tidak ada jiwa manusia yang terlihat. . . . Sayangnya dia menutup jendela; dia menyilangkan dirinya, dan berdoa untuk saudara perempuannya dan ibunya. . . .

         Di pagi hari dia menunggu dengan sarapan, dia menunggu makan malam; tapi bagaimanapun dia menunggu, itu tidak baik. Baik ibunya maupun saudara perempuannya tidak pernah kembali. Keduanya mati beku di hutan.

         Maruša begitu baik mewarisi pondok, sebidang tanah pertanian dan sapi. Dia menikah dengan seorang suami yang baik, dan mereka berdua hidup bahagia selamanya.

         Pada suatu waktu hiduplah seorang ibu yang memiliki dua anak perempuan. Yang satu adalah anaknya sendiri, yang lain adalah anak tirinya. Dia sangat menyukai putrinya sendiri, tetapi dia tidak akan terlalu banyak melihat anak tirinya. Satu-satunya alasan adalah bahwa Maruša, anak tiri, lebih cantik daripada putrinya sendiri, Holena.

         Maruša yang berhati lembut tidak tahu betapa cantiknya dia, sehingga dia tidak pernah tahu mengapa ibunya begitu bersaling dengannya setiap kali dia memandangnya. Dia harus melakukan semua pekerjaan rumah, merapikan pondok, memasak, mencuci, dan menjahit, dan kemudian dia harus mengambil jerami untuk sapi dan menjaganya.

         Dia melakukan semua pekerjaan ini sendirian, sementara Holena menghabiskan waktu menghias diri dan bermalas-malasan. Tapi Maruša suka bekerja, karena dia adalah seorang gadis yang sabar, dan ketika ibunya memarahi dan memberinya nilai, dia memakainya seperti anak domba. Itu tidak

         Baik, namun, karena mereka tumbuh kejam dan kejam setiap hari, hanya karena Maruša tumbuh lebih cantik dan Holena jelek setiap hari.

         Akhirnya ibu berpikir: "Mengapa saya harus menjaga anak tiri yang cantik di rumah saya? Ketika para pemuda datang ke sini, mereka akan jatuh cinta pada Maruša dan mereka tidak akan melihat ke arah Holena."

         Sejak saat itu ibu tiri dan putrinya terus-menerus memikirkan bagaimana menyingkirkan Maruša yang miskin. Mereka kelaparan dan mereka memukulnya. Tapi dia menanggung semuanya, dan terlepas dari semua itu dia terus tumbuh semakin cantik setiap hari.

         Mereka menciptakan siksaan yang tidak akan pernah terpikirkan oleh orang-orang kejam. Suatu hari - saat itu di pertengahan Januari - Holena merasakan kerinduan akan aroma violet. "Pergilah, Maruša, dan ambilkan beberapa violet dari hutan; aku ingin memakainya di pinggangku dan untuk menciumnya," katanya kepada saudara perempuannya.

         "Astaga! Kakak. Sungguh gagasan aneh! Siapa yang pernah mendengar tentang bunga violet tumbuh di bawah salju?" kata Maruša yang malang.

         "Kau celaka! Beraninya kau berdebat ketika aku menyuruhmu melakukan sesuatu? Pergilah sekali saja, dan jika kau tidak membawakanku violet dari hutan, aku akan membunuhmu!" kata Holena mengancam.

         Ibu tiri menangkap Maruša, membuatnya keluar dari pintu, dan membantingnya ke arahnya. Dia pergi ke hutan menangis dengan sedih. Salju tergeletak dalam, dan tidak ada jejak manusia untuk dilihat.

         Maruša berkeliaran untuk waktu yang lama, disiksa oleh kelaparan dan gemetar kedinginan. Dia memohon Tuhan untuk membawanya dari dunia.

         Akhirnya dia melihat cahaya di kejauhan. Dia pergi menuju cahaya, dan akhirnya datang ke puncak gunung. Api besar membakar di sana, dan di sekeliling api itu ada dua belas batu dengan dua belas orang duduk di atasnya.

         Tiga dari mereka berjanggut seperti salju, tiga tidak terlalu tua, dan tiga masih lebih muda. Ketiga termuda adalah yang paling tampan dari mereka semua. Mereka tidak berbicara, tetapi semua duduk diam. Kedua belas orang ini adalah dua belas bulan.

         Great January duduk paling tinggi dari semuanya; rambut dan janggutnya seputih salju, dan di tangannya dia memegang sebuah klub.

         Maruša merasa takut. Dia berdiri diam untuk beberapa waktu dalam ketakutan, tetapi, semakin berani, dia mendekati mereka dan berkata: "Tolong, tuan yang baik, biarkan aku menghangatkan tanganku di apimu. Aku gemetar karena kedinginan."

         Great January mengangguk, dan bertanya: "Mengapa kamu datang ke sini, gadis kecil sayangku? Apa yang kamu cari?"

"Saya mencari bunga violet," jawab Maruša.

"Ini bukan waktunya untuk mencari violet, karena semuanya tertutup salju," jawab Great January.

         "Ya, saya tahu; tetapi saudari saya Holena dan ibu tiri saya mengatakan bahwa saya harus membawa mereka beberapa violet dari hutan. Jika saya tidak membawa mereka, mereka akan membunuh saya. Katakan kepada saya, ayah, tolong beri tahu saya di mana saya bisa Temukan mereka."

         Great January berdiri dan pergi ke salah satu bulan yang lebih muda - itu adalah Maret - dan, memberinya klub, dia berkata: "Saudara, duduklah di kursi tinggi."

         March mengambil kursi tinggi di atas batu dan melambai-lambaikan tongkat ke atas api. Api berkobar, salju mulai mencair, pepohonan mulai berkuncup, dan tanah di bawah pohon-pohon beech muda itu tertutup rumput dan tunas bunga daisy mulai mengintip melalui rumput. Saat itu musim semi.

         Di bawah semak-semak bunga violet bermekaran di antara daun-daun kecil mereka, dan sebelum Maruša sempat berpikir, begitu banyak dari mereka bermunculan bahwa mereka tampak seperti kain biru yang tersebar di tanah.

"Cepat pilih, Maruša!" diperintahkan Maret.

         Maruša mengambil mereka dengan sukacita sampai dia memiliki banyak sekali. Kemudian dia mengucapkan terima kasih pada bulan-bulan dengan sepenuh hati dan bergegas pulang ke rumah.

         Holena dan ibu tiri bertanya-tanya ketika mereka melihat Maruša membawa violet. Mereka membuka pintu untuknya, dan aroma bunga violet memenuhi semua pondok.

"Dari mana kamu mendapatkannya?" tanya Holena cemberut.

"Mereka tumbuh di bawah semak-semak di hutan di gunung-gunung tinggi."

         Holena menempatkan mereka di ikat pinggangnya. Dia membiarkan ibunya mencium bau mereka, tetapi dia tidak mengatakan pada adiknya: "Cium mereka."

         Suatu hari dia sedang berada di dekat tungku, dan sekarang dia merindukan beberapa stroberi. Jadi dia memanggil adiknya dan berkata: "Pergilah, Maruša, dan ambilkan saya stroberi dari hutan."

         "Aduh! Adik tercinta, di mana saya bisa menemukan stroberi? Siapa yang pernah mendengar stroberi tumbuh di bawah salju?" kata Maruša.

         "Kau sedikit kesal, beraninya kau berdebat ketika aku menyuruhmu melakukan sesuatu? Pergi dan beri aku stroberi, atau aku akan membunuhmu!"

         Ibu tiri menangkap Maruša dan mendorongnya keluar dari pintu dan menutupnya setelah dia. Maruša pergi ke hutan menangis dengan sedih. Salju tergeletak dalam, dan tidak ada jejak manusia untuk dilihat di mana pun. Dia berkeliaran untuk waktu yang lama, disiksa oleh kelaparan dan gemetar kedinginan.

         Akhirnya dia melihat cahaya yang dia lihat beberapa hari yang lalu. Sangat gembira, dia pergi ke arahnya. Dia datang ke api besar dengan dua belas bulan duduk di sekelilingnya.

V"Tolong, tuan-tuan yang baik, biarkan aku menghangatkan tanganku ke api. Aku gemetar kedinginan."

Great January mengangguk, dan bertanya: "Mengapa kamu datang lagi, dan apa yang kamu cari di sini?"

"Saya mencari stroberi."

"Tapi sekarang musim dingin, dan stroberi tidak tumbuh di salju," kata Januari.

         "Ya, saya tahu," kata Maruša dengan sedih; "Tapi kakakku Holena dan ibu tiriku memintaku membawakan mereka stroberi, dan jika aku tidak membawanya, mereka akan membunuhku. Katakan padaku, ayah, katakan padaku, tolong, di mana aku bisa menemukan mereka."

         Great January bangkit. Dia pergi ke bulan duduk di hadapannya - itu Juni - dan menyerahkan klub kepadanya, mengatakan: "Saudara, duduklah di kursi tinggi."

         June mengambil kursi tinggi di atas batu dan mengayunkan tongkat itu ke atas api. Api menyala, dan hawa panasnya melelehkan salju sesaat. Tanahnya hijau semua, pepohonan tertutup daun, burung-burung mulai bernyanyi, dan hutan dipenuhi dengan berbagai macam bunga. Saat itu musim panas. Tanah di bawah semak-semak ditutupi dengan bintang muda putih, bunga-bunga yang berbintang berubah menjadi stroberi setiap menit. Mereka matang sekaligus, dan sebelum Maruša sempat berpikir, ada begitu banyak dari mereka yang tampak seolah-olah darah telah ditaburkan di tanah.
       
         "Pilih mereka sekaligus, Maruša!" diperintahkan Juni. Maruša mengambil mereka dengan sukacita sampai dia mengisi penuh celemeknya. Kemudian dia mengucapkan terima kasih pada bulan-bulan dengan sepenuh hati dan bergegas pulang ke rumah. Holena dan ibu tiri bertanya-tanya ketika mereka melihat Maruša membawa stroberi. Celemeknya penuh dengan mereka. Mereka berlari untuk membukakan pintu untuknya, dan aroma stroberi memenuhi seluruh pondok.

"Di mana Anda mengambilnya?" tanya Holena cemberut.

         "Ada banyak dari mereka tumbuh di bawah pohon-pohon beech muda di hutan di gunung-gunung tinggi."

         Holena mengambil stroberi, dan terus memakannya sampai dia tidak bisa makan lagi. Begitu pula ibu tiri juga, tetapi mereka tidak mengatakan kepada Maruša: "Ini satu untuk Anda."

         Ketika Holena menikmati stroberi, dia menjadi serakah untuk tempat lain, dan pada hari ketiga dia merindukan apel merah.

         "Maruša, pergilah ke hutan dan ambilkan aku beberapa apel merah," katanya kepada saudara perempuannya.

         "Aduh! Saudari sayang, bagaimana aku mendapatkan apel untukmu di musim dingin?" Maruša memprotes.

         "Kau sedikit kesal, bagaimana berani kau berdebat ketika aku menyuruhmu melakukan sesuatu? Pergi ke hutan sekaligus, dan jika kau tidak membawakan apel itu, aku akan membunuhmu!" mengancam Holena.

         Ibu tiri menangkap Maruša dan mendorongnya keluar dari pintu dan menutupnya setelah dia. Maruša pergi ke hutan menangis dengan sedih. Salju itu sangat dalam; tidak ada jejak manusia untuk dilihat di mana saja. Tapi dia tidak berkeliaran kali ini.

                   Dia berlari lurus ke puncak gunung tempat api besar terbakar. Dua belas bulan duduk mengelilingi api; ya, mereka memang ada di sana, dan Great January duduk di kursi tinggi.

"Tolong, tuan-tuan yang baik, biarkan aku menghangatkan tanganku ke api. Aku gemetar kedinginan."

Great January mengangguk, dan bertanya: "Mengapa kamu datang ke sini, dan apa yang kamu cari?"

"Saya mencari apel merah."

"Sekarang musim dingin, dan apel merah tidak tumbuh di musim dingin," jawab Januari.

         "Ya, saya tahu," kata Maruša dengan sedih; "Tapi adikku dan ibu tiriku, juga, memintaku membawakan apel merah dari hutan. Jika aku tidak membawanya, mereka akan membunuhku. Katakan padaku, ayah, katakan padaku, tolong, di mana aku bisa menemukan mereka. "

         Great January bangkit. Dia pergi ke salah satu bulan yang lebih tua - itu September. Dia menyerahkan klub kepadanya dan berkata: "Saudaraku, duduklah di kursi tinggi."

         Bulan September mengambil kursi tinggi di atas batu dan mengayunkan tongkat di atas api. Api mulai terbakar dengan nyala merah, salju mulai mencair. Tetapi pohon-pohon itu tidak ditutupi daun; daun-daun itu bergoyang satu demi satu, dan angin dingin mendorong mereka ke sana kemari di tanah yang menguning.

         Kali ini Maruša tidak melihat begitu banyak bunga. Hanya merah jambu merah bermekaran di lereng bukit, dan safron padang rumput berbunga di lembah. Lumut pakis tinggi dan tebal tumbuh di bawah pohon beech muda. Tapi Maruša hanya mencari apel merah, dan akhirnya dia melihat pohon apel dengan apel merah menggantung tinggi di antara cabang-cabangnya.

"Kocok pohon sekaligus, Maruša!" memerintahkan bulan itu.

         Benar senang Maruša mengguncang pohon, dan satu apel jatuh. Dia mengguncangnya untuk kedua kalinya, dan apel lain jatuh.

"Sekarang, Maruša, cepat pulang!" teriak bulan itu.

         Maruša mematuhinya sekaligus. Dia mengambil apel, mengucapkan terima kasih kepada bulan dengan sepenuh hati, dan berlari pulang dengan riang.

         Holena dan ibu tiri bertanya-tanya ketika mereka melihat Maruša membawa apel. Mereka berlari untuk membukakan pintu untuknya, dan dia memberi mereka dua buah apel

         "Dari mana kamu mendapatkannya?" tanya Holena. "Ada banyak dari mereka di hutan di gunung yang tinggi."

         "Dan mengapa kamu tidak membawa lebih banyak? Atau apakah kamu memakannya dalam perjalanan pulang?" kata Holena dengan kasar.

         "Aduh! Saudaraku sayang, aku tidak makan satu pun. Tapi ketika aku telah mengguncang pohon sekali, satu apel jatuh, dan ketika aku mengguncangnya untuk kedua kalinya, apel lain jatuh, dan mereka tidak akan membiarkanku kocok lagi. Mereka berteriak kepada saya untuk langsung pulang, "protes Maruša.

         Holena mulai mengutuknya: "Semoga kau disambar sampai mati oleh petir!" dan dia akan memukulnya.

         Maruša mulai menangis dengan pahit, dan dia berdoa kepada Tuhan untuk membawanya ke Dirinya, atau dia akan dibunuh oleh saudaranya yang jahat dan ibu tirinya. Dia lari ke dapur.

         Greedy Holena berhenti memaki dan mulai memakan apel itu. Rasanya sangat lezat sehingga dia memberi tahu ibunya bahwa dia belum pernah merasakan sesuatu yang begitu menyenangkan di sepanjang hidupnya. Sang ibu tiri juga menyukainya. Ketika mereka selesai, mereka menginginkan lebih banyak lagi.

         "Ibu, beri aku mantel bulu saya. Saya akan pergi ke hutan sendiri. Bajingan kecil itu akan memakan mereka semua lagi dalam perjalanan pulang. Saya akan menemukan tempat itu, dan saya akan mengguncang mereka semua. , namun mereka meneriaki saya. "

         Ibunya berusaha mencegahnya, tetapi itu tidak baik. Dia mengambil mantel bulunya, membungkus kain di kepalanya, dan dia pergi ke hutan. Ibunya berdiri di ambang pintu, mengawasi bagaimana Holena bisa berjalan dalam cuaca musim dingin.

         Salju membentang dalam, dan tidak ada jejak manusia untuk dilihat di mana pun. Holena berkeliaran untuk waktu yang lama, tetapi keinginan dari buah apel manis terus mendorongnya. Akhirnya dia melihat cahaya di kejauhan.

         Dia pergi ke sana, dan naik ke puncak gunung di mana api besar terbakar, dan mengitari api pada dua belas batu yang dua belas bulan sedang duduk. Dia ketakutan pada awalnya, tetapi dia segera pulih. Dia melangkah ke api dan merentangkan tangannya untuk menghangatkan mereka, tetapi dia tidak mengatakan sebanyak "Saat Anda pergi" ke dua belas bulan; tidak, dia tidak mengatakan satu kata pun pada mereka.

"Mengapa kamu datang ke sini, dan apa yang kamu cari?" tanya Agung Januari dengan marah.

         "Mengapa kamu ingin tahu, kamu tua bodoh? Ini bukan urusanmu," jawab Holena dengan marah, dan dia berbalik dari api dan pergi ke hutan.

         Great January mengerutkan kening dan mengayunkan tongkat di atas kepalanya. Langit menjadi gelap sesaat, api membakar rendah, salju mulai turun setebal seolah-olah bulu-bulunya digoyang dari selimut yang turun, dan angin dingin mulai bertiup menembus hutan.

         Holena tidak bisa melihat satu langkah di depannya; dia tersesat sama sekali, dan beberapa kali dia jatuh ke salju. Kemudian anggota tubuhnya menjadi lemah dan mulai perlahan menjadi kaku. Salju terus berjatuhan dan angin dingin bertiup lebih dingin dari sebelumnya. Holena mulai mengutuk Maruša dan Tuhan Allah. Anggota tubuhnya mulai membeku, terlepas dari mantel bulunya.

         Ibunya sedang menunggu Holena; dia terus mencarinya, pertama di jendela, lalu di luar pintu, tetapi semuanya sia-sia.

         "Apakah dia sangat menyukai apel sehingga dia tidak bisa meninggalkannya, atau ada apa? Aku harus melihat sendiri di mana dia," akhirnya ibu tiri memutuskan. Jadi dia mengenakan mantel bulu, dia membungkus selendang di kepalanya, dan keluar untuk mencari Holena. Salju itu sangat dalam; tidak ada jejak manusia untuk dilihat; salju turun dengan cepat, dan angin dingin bertiup menembus hutan.

         Maruša telah memasak makan malam, dia telah melihat sapi itu, namun Holena dan ibunya tidak kembali. "Di mana mereka tinggal begitu lama?" pikir Maruša, ketika dia duduk untuk bekerja di distaf tersebut. Spindel sudah penuh dan itu cukup gelap di dalam ruangan, namun Holena dan ibu tiri belum kembali.

         "Aduh, Tuhan! Apa yang terjadi pada mereka?" teriak Maruša, mengintip dengan cemas melalui jendela. Langit cerah dan bumi berkilau, tetapi tidak ada jiwa manusia yang terlihat. . . . Sayangnya dia menutup jendela; dia menyilangkan dirinya, dan berdoa untuk saudara perempuannya dan ibunya. . . .

         Di pagi hari dia menunggu dengan sarapan, dia menunggu makan malam; tapi bagaimanapun dia menunggu, itu tidak baik. Baik ibunya maupun saudara perempuannya tidak pernah kembali. Keduanya mati beku di hutan.

         Maruša begitu baik mewarisi pondok, sebidang tanah pertanian dan sapi. Dia menikah dengan seorang suami yang baik, dan mereka berdua hidup bahagia selamanya.


         Dahulu kala di pulau Jawa, Indonesia, tinggal sepasang petani. Mereka telah menikah selama beberapa tahun tetapi mereka tidak memiliki anak. Jadi mereka berdoa kepada monster bernama Buta Ijo untuk memberi mereka anak-anak.
       
         Buta Ijo adalah monster yang ganas dan kuat. Dia mengabulkan keinginan mereka dengan satu syarat. Ketika anak-anak mereka tumbuh dewasa, mereka harus mengorbankan mereka ke Buta Ijo. Dia suka makan daging manusia segar. Para petani setuju dengan kondisinya. Beberapa bulan kemudian sang istri hamil.

         Dia melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. Mereka menamai dia Timun Emas. Para petani merasa senang. Timun Emas sangat sehat dan gadis yang sangat pintar. Dia juga sangat rajin. Ketika dia remaja Buta Ijo datang ke rumah mereka.

         Timun Emas ketakutan sehingga dia lari untuk bersembunyi. Para petani kemudian memberi tahu Buta Ijo bahwa Timun Emas masih anak-anak. Mereka memintanya untuk menunda. Buta Ijo setuju. Dia berjanji akan datang lagi. Tahun berikutnya Buta Ijo datang lagi. Tetapi lagi dan lagi orang tua mereka mengatakan bahwa Timun Emas masih anak-anak.

         Ketika ketiga kalinya Buta Ijo datang orang tua mereka telah menyiapkan sesuatu untuknya. Mereka memberi Timun Emas beberapa jarum bambu, biji mentimun, saus dan garam.

‘Timun, ambil barang-barang ini’

'Benda apa ini?'

         "Ini adalah senjatamu. Buta Ijo akan mengejarmu. Dia akan memakanmu hidup-hidup. Jadi larilah secepat yang Anda bisa. Dan jika dia akan menangkap Anda menyebarkan ini ke tanah. Pergi sekarang!'

         Timun Emas ketakutan sehingga dia berlari secepat yang dia bisa. Ketika Buta Ijo tiba, dia jauh dari rumah. Dia sangat marah ketika dia menyadari bahwa mangsanya telah pergi. Jadi dia berlari mengejarnya. Dia memiliki hidung yang tajam sehingga dia tahu ke mana arah mangsanya berlari.

         Timun Emas hanyalah seorang gadis, sementara Buta Ijo adalah monster sehingga dia bisa dengan mudah menangkapnya. Ketika dia hanya beberapa langkah di belakang Timun Emas dengan cepat menyebarkan benih mentimun.

          Dalam hitungan detik mereka berubah menjadi banyak tanaman mentimun. Buta Ijo yang kelelahan sangat haus sehingga dia meraih dan memakannya. Ketika Buta Ijo sibuk makan mentimun Timun Emas bisa kabur.

         Namun, segera Buta Ijo sadar dan mulai berlari lagi. Ketika dia hanya beberapa langkah di belakang Timun Emas melemparkan jarum bambunya. Segera mereka berubah menjadi pohon bambu yang lebat. Buta Ijo merasa sulit untuk lewat. Butuh beberapa waktu baginya untuk memecahkan hutan bambu lebat. Sementara itu Timun Emas bisa berlari lebih jauh.

         Buta Ijo mengejarnya lagi. Ketika dia hampir menangkapnya lagi dan lagi Timun Emas melemparkan pakaiannya. Kali ini berubah menjadi danau. Buta Ijo sibuk menyelamatkan dirinya sendiri sehingga Timun Emas berlari. Tapi Buta Ijo bisa mengatasinya dan terus mengejarnya.

         Akhirnya ketika Timun Emas hampir tertangkap dia melempar garamnya. Segera tanah tempat Buta Ijo berdiri berubah menjadi lautan. Buta Ijo tenggelam dan mati seketika.

Timun Emas bersyukur kepada Tuhan dan kembali ke rumahnya.


         Dahulu kala di pulau Jawa, Indonesia, tinggal sepasang petani. Mereka telah menikah selama beberapa tahun tetapi mereka tidak memiliki anak. Jadi mereka berdoa kepada monster bernama Buta Ijo untuk memberi mereka anak-anak.
       
         Buta Ijo adalah monster yang ganas dan kuat. Dia mengabulkan keinginan mereka dengan satu syarat. Ketika anak-anak mereka tumbuh dewasa, mereka harus mengorbankan mereka ke Buta Ijo. Dia suka makan daging manusia segar. Para petani setuju dengan kondisinya. Beberapa bulan kemudian sang istri hamil.

         Dia melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. Mereka menamai dia Timun Emas. Para petani merasa senang. Timun Emas sangat sehat dan gadis yang sangat pintar. Dia juga sangat rajin. Ketika dia remaja Buta Ijo datang ke rumah mereka.

         Timun Emas ketakutan sehingga dia lari untuk bersembunyi. Para petani kemudian memberi tahu Buta Ijo bahwa Timun Emas masih anak-anak. Mereka memintanya untuk menunda. Buta Ijo setuju. Dia berjanji akan datang lagi. Tahun berikutnya Buta Ijo datang lagi. Tetapi lagi dan lagi orang tua mereka mengatakan bahwa Timun Emas masih anak-anak.

         Ketika ketiga kalinya Buta Ijo datang orang tua mereka telah menyiapkan sesuatu untuknya. Mereka memberi Timun Emas beberapa jarum bambu, biji mentimun, saus dan garam.

‘Timun, ambil barang-barang ini’

'Benda apa ini?'

         "Ini adalah senjatamu. Buta Ijo akan mengejarmu. Dia akan memakanmu hidup-hidup. Jadi larilah secepat yang Anda bisa. Dan jika dia akan menangkap Anda menyebarkan ini ke tanah. Pergi sekarang!'

         Timun Emas ketakutan sehingga dia berlari secepat yang dia bisa. Ketika Buta Ijo tiba, dia jauh dari rumah. Dia sangat marah ketika dia menyadari bahwa mangsanya telah pergi. Jadi dia berlari mengejarnya. Dia memiliki hidung yang tajam sehingga dia tahu ke mana arah mangsanya berlari.

         Timun Emas hanyalah seorang gadis, sementara Buta Ijo adalah monster sehingga dia bisa dengan mudah menangkapnya. Ketika dia hanya beberapa langkah di belakang Timun Emas dengan cepat menyebarkan benih mentimun.

          Dalam hitungan detik mereka berubah menjadi banyak tanaman mentimun. Buta Ijo yang kelelahan sangat haus sehingga dia meraih dan memakannya. Ketika Buta Ijo sibuk makan mentimun Timun Emas bisa kabur.

         Namun, segera Buta Ijo sadar dan mulai berlari lagi. Ketika dia hanya beberapa langkah di belakang Timun Emas melemparkan jarum bambunya. Segera mereka berubah menjadi pohon bambu yang lebat. Buta Ijo merasa sulit untuk lewat. Butuh beberapa waktu baginya untuk memecahkan hutan bambu lebat. Sementara itu Timun Emas bisa berlari lebih jauh.

         Buta Ijo mengejarnya lagi. Ketika dia hampir menangkapnya lagi dan lagi Timun Emas melemparkan pakaiannya. Kali ini berubah menjadi danau. Buta Ijo sibuk menyelamatkan dirinya sendiri sehingga Timun Emas berlari. Tapi Buta Ijo bisa mengatasinya dan terus mengejarnya.

         Akhirnya ketika Timun Emas hampir tertangkap dia melempar garamnya. Segera tanah tempat Buta Ijo berdiri berubah menjadi lautan. Buta Ijo tenggelam dan mati seketika.

Timun Emas bersyukur kepada Tuhan dan kembali ke rumahnya.


         Di Kalimantan Timur ada sungai yang terkenal dari Sungai Mahakam. Di sungai ada ikan yang sangat khas bentuknya yaitu Irrawady Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) adalah lumba-lumba air tawar Indonesia.

         Badan yang kuat, sirip dorsal kecil dan segitiga dan kepala membulat / menumpulkan jawaban dengan mata kecil. Diklasifikasikan sebagai lumba-lumba kecil, lumba-lumba Irrawaddy memiliki panjang dewasa 2,0 hingga 2,75 m, 1,0 m. Bayi lumba-lumba sangat aktif, kadang-kadang melompat rendah). Sebenarnya Irrawaddy Dolphin bukan ikan tetapi mamalia air seperti lumba-lumba dan ikan paus. Menurut penduduk di sekitar sungai Irrawady bukanlah sembarang ikan melainkan merupakan inkarnasi manusia.

         Kisah di zaman dahulu kala di Mahakam, ada sebuah desa yang dihuni oleh beberapa keluarga. Mereka hidup sebagai petani dan nelayan. Setiap tahun setelah panen, penduduk desa biasanya biasa mengadakan pesta yang diisi dengan berbagai pertunjukan dan ketangkasan artistik.

         Di tengah orang-orang yang tinggal di dusun, ada keluarga yang hidup dalam harmoni dan kedamaian di sebuah pondok sederhana.

         Mereka terdiri dari suami dan istri serta dua putra dan putri. Kebutuhan hidup mereka tidak terlalu sulit untuk dicapai karena mereka memiliki kebun yang ditanami berbagai jenis buah dan sayuran.

         Begitu pula segala macam kesulitan dapat diatasi dengan bijaksana, sehingga mereka hidup bahagia selama bertahun-tahun.

         Pada satu titik, sang ibu terserang penyakit. Meskipun beberapa orang telah dirawat oleh dokter, tetapi ibunya tidak pernah pulih sampai akhirnya dia meninggal. Setelah kematian ibu, keluarga itu hidup dalam kesedihan.

         Mereka sangat sedih kehilangan orang yang sangat mereka cintai. Sang ayah menjadi menarik diri dan murung, sementara kedua anaknya selalu kewalahan dengan perasaan bingung, tidak tahu harus berbuat apa.

         Rumah mereka dan kebun mereka sekarang tidak lagi dipertahankan. Beberapa tetua desa telah mencoba untuk menasehati ayahnya agar tidak larut dalam kesedihan, tetapi nasihat mereka tidak dapat membuat perubahan apa pun. Situasi ini berlangsung cukup lama.

         Suatu hari di pesta desa kembali diadakan panen adat. Berbagai pertunjukan dan hiburan diadakan lagi. Di salah satu pertunjukan panggung, ada seorang gadis yang sangat cantik dan mempesona, dia selalu menarik pemuda desa ketika dia beraksi.

         Mendengar berita semacam itu, itu juga menggerakkan hati sang ayah untuk menonton juga, dia ingin melihat pertunjukan seperti apa yang sangat dipuji di antara para penduduk desa dan membuat banyak pemuda begitu gila.

         Malam itu adalah malam ke tujuh dari acara itu, diadakan orang banyak. Perlahan-lahan ayahnya berjalan ke tempat di mana dia akan bermain. Dia sengaja berdiri di depan sehingga bisa dengan jelas menyaksikan pertandingan dan menghadapi gadis itu. Akhirnya acara dimulai. Berbeda dengan penonton lain, sang ayah tidak banyak tertawa geli atau memuji penampilan gadis itu. Namun sesekali ada juga sang ayah tersenyum kecil.

         Gadis itu melemparkan senyum ceria kepada penonton yang memujinya serta menggoda. Suatu kali, gadis itu melihat ayahnya, itu terjadi berkali-kali. Keduanya jatuh cinta satu sama lain tanpa tahu kapan cinta itu mulai dimulai di hati mereka. Banyak orang, terutama pemuda desa itu tidak berharap bahwa gadis muda itu ingin menikahinya, yang sudah memiliki dua anak.

         Segera setelah itu, dengan persetujuan kedua belah pihak dan berkat dari para tetua mereka menikah setelah pesta adat di desa berakhir. Dan juga kesuraman atas keluarga, sekarang mereka mulai mempersiapkan kehidupan baru. Mereka mulai mengerjakan kegiatan yang sebelumnya mereka tidak coba lagi.
       
         Sang ayah kembali bertani giat dengan bantuan kedua anaknya, sementara ibu tirinya tinggal di rumah menyiapkan makanan untuk keluarga mereka. Dan seterusnya selama berbulan-bulan sampai hidup mereka kembali cerah.

         Masyarakat desa melihat keluarga yang bahagia, tetapi tidak ada yang tahu kebenaran bahwa saudara itu hidup dalam situasi yang berbeda.

         Kedua anak diberi makan hanya setelah ada sisa makanan dari ayahnya. Sang ayah hanya bisa mentolerir tindakan istrinya; dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia benar-benar mencintainya. Akhirnya, seluruh rumah tangga diatur di tangan istri muda yang serakah. Saudara itu bekerja keras setiap hari tanpa lelah dan bahkan diperintahkan untuk melakukan hal-hal di luar kemampuan mereka.

         Pada satu titik, ibu tirinya telah membuat rencana jahat. Dia memberi tahu kedua anak tirinya untuk mencari kayu bakar di hutan.

         "Kalian berdua, pergi tumpukan kayu bakar lagi hari ini!" Memerintahkan ibu, "Seharusnya ada tiga kali lebih banyak dari yang kamu hasilkan kemarin. Dan ingat! Jangan pulang sebelum kayunya banyak dikoleksi. Mengerti ?!"

         "Tapi, Bu ..." putranya menjawab, "Mengapa Anda membutuhkan begitu banyak kayu ...?. Persediaan kayu kami masih cukup banyak. Kita bisa mengambil lagi ketika stok hampir kosong.

         "Apa! Kamu berani berdebat denganku? Apakah kamu ingin aku mengatakan kepada ayahmu bahwa kamu malas! Ayo, pergi sekarang !!" ibu tiri marah.

         Anak-anak muda itu kemudian menarik tangan adiknya untuk pergi. Dia tahu bahwa ayahnya dipengaruhi oleh ibu tirinya, jadi tidak ada gunanya berdebat karena mereka akan disalahkan juga. Setelah membawa beberapa persediaan, mereka berangkat ke hutan. Hingga senja mendekat, kayu yang mereka kumpulkan tidak cukup seperti yang dipersyaratkan oleh ibu tiri mereka. Mereka dipaksa untuk bermalam di hutan, di bekas rumah penduduk desa untuk melanjutkan pekerjaan mereka di hari berikutnya. Mereka bisa tidur meski lapar masih membungkus perut mereka.

         Keesokan paginya, mereka mulai mengumpulkan sebanyak mungkin kayu. Pada tengah hari, rasa lapar tak tertahankan lagi; akhirnya mereka berbaring di tanah selama beberapa saat. Tanpa disadari, seorang lelaki tua mendatangi mereka.

         "Apa yang kamu lakukan di sini, anak-anak ?!" Orang tua itu bertanya pada mereka. Kedua anak malang itu kemudian diberitahu semua orang, termasuk perilaku ibu tiri mereka dan keadaan mereka yang belum makan nasi sejak kemarin hingga tidak lagi bisa melanjutkan pekerjaan.

         "Yah ..., kamu turun seperti itu." Orang tua itu berkata sambil menunjuk ke arah pagar tanaman. "Ada banyak pohon buah. Makan semuanya sampai kamu kenyang. Tapi ingat, jangan cari lagi keesokan harinya karena akan sia-sia. Pergilah sekarang!"

         Setelah mengucapkan terima kasih, kedua saudara perempuan itu bergegas menuju tempat itu. Memang benar apa yang dikatakan kakek sebelumnya, ada banyak jenis pohon buah. Durian, nangka, mirip dengan buah nangka, mangga dan pepaya yang telah matang sepenuhnya tersebar di tanah. Buah-buahan lain seperti pisang, rambutan dan kelapa terlihat tergantung di pohon. Mereka kemudian memakan buahnya hingga badan terasa segar kembali.

         Setelah beristirahat sebentar, mereka dapat kembali melanjutkan pekerjaan mengumpulkan kayu sesuai dengan yang diminta ibu tirinya.

         Menjelang sore, mereka berhasil memasangnya di rumah. Mereka mengatur kayu tanpa tekun. Setelah selesai, kemudian mereka masuk ke rumah untuk melapor ke ibu tirinya, tetapi terkejut ketika mereka melihat rumah yang telah kosong.

         Rupanya ayah dan ibu tiri mereka telah meninggalkan rumah. Semua properti di dalam rumah telah diambil bersama, ini berarti mereka meninggalkan keduanya dan tidak pernah kembali lagi ke rumah. Saudara muda itu hanya menangis.

         Mendengar tangisan kedua orang itu, tetangga-tetangga sekitarnya datang ke rumah untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Mereka terkejut setelah mengetahui bahwa ayah dan ibu tirinya dari anak-anak telah dipindahkan secara diam-diam.

         Keesokan harinya, anak-anak bertekad untuk menemukan orang tuanya. Mereka mengumumkan rencana ke tetangga terdekat.

         Beberapa tetangga yang mengasihani kemudian menukar kayu bakar dengan persediaan makanan untuk perjalanan dua bersaudara. Pada tengah hari, mereka pergi mencari ayah dan ibu tiri mereka.

         Sudah dua hari mereka berlari tetapi belum menemukan orang tua mereka, sementara persediaan makanan telah habis. Pada hari ketiga, mereka datang di daerah berbukit dan terlihat oleh asap mereka yang mengepul di kejauhan.

         Mereka langsung menuju ke tempat yang baru saja ditanyakan warga mungkin kenal atau melihat kedua orang tua mereka.

         Mereka akhirnya menemukan sebuah pondok jompo. Sepertinya seorang lelaki tua duduk di depan kabin. Dua saudara perempuan dan beri penghormatan kepada orang tua dan memberi hormat.

"Di mana kalian? Apa maksudmu datang ke tempatku jauh terpencil ini?

         "Maaf" Anak itu berkata, "Kami sedang mencari orang tua kami. Apakah kamu pernah melihat seorang pria dan seorang wanita muda lewat sini?"

         Orang tua itu berhenti sejenak sambil mengerutkan dahinya; rupanya dia berusaha keras untuk mengingat sesuatu.

         "Hmmm ..., beberapa hari yang lalu ada seorang suami dan istri yang datang ke sini." "Mereka membawa banyak barang. Apakah itu yang Anda cari?"

         "Tidak diragukan lagi" Anak itu berkata dengan penuh semangat, "Mereka pasti orang tua kita! Ke mana mereka pergi, Pak?"

         "Saat itu mereka meminjam perahu untuk menyeberangi sungai. Mereka mengatakan ingin menetap di sana di sisi lain dan ingin membuat pondok dan perkebunan baru. Coba cari di sisi lain."

         "Terima kasih, Pak ..." kata putra sulung itu, "Tapi ..., bisakah kamu membantu kami menyeberangi sungai?"

         "Aku sudah anak-anak tua ... Aku tidak punya kekuatan untuk mendayung perahu!" Kata kakek itu dengan tawa kecil, "Jika Anda ingin menangkap mereka, gunakan perahu yang ada sendirian di tepi sungai."

         Keduanya memiliki keberanian untuk membawa perahu sang kakek. Mereka berjanji akan mengembalikan perahu jika berhasil menemukan orang tua mereka. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka kemudian naik ke perahu dan pergi menyeberang.

         Keduanya tidak menyadari rasa lapar yang membelit perut mereka karena rasa sukacita setelah mengetahui keberadaan orang tua mereka. Akhirnya mereka sampai di sisi lain dan perahu tertambat di sungai kecil.

         Setelah dua hari berjalan dengan perut kosong, maka mereka bertemu tepi dusun yang jarang penduduknya.

         Mereka berdua melihat pondok yang baru dibangun. Perlahan-lahan mereka mendekati kabin. Dengan perasaan cemas dan ragu, saudara itu bangun di tangga dan memanggil penghuninya, sementara adik lelaki itu berjalan di sekitar kabin sampai dia menemukan kuda pakaian yang ada di belakang kabin.

         Dia juga ingat pakaian ayahnya; setelah dia mendekat maka yakinlah bahwa itu memang pakaian ayahnya. Segera dia berlari ke saudara perempuannya ketika dia menunjukkan ayahnya telah menemukan pakaian di belakang.

         Tanpa berpikir lagi mereka memasuki pondok dan pondok itu memang berisi barang-barang milik ayah mereka.

         Rupanya orang tua mereka sedang terburu-buru pergi, jadi di dapur ada panci yang diletakkan di atas api yang masih menyala. Di dalam pot ada beras yang menjadi bubur. Karena perutnya kelaparan, saudara-saudara akhirnya memakan bubur nasi.

         Kakaknya yang baru saja mengikuti ke dapur terkejut dengan apa yang dia lakukan, dia segera mengambil panci yang isinya rendah. Kelaparan, dia langsung makan bubur nasi sekaligus.

         Karena bubur yang masih panas, suhu tubuh mereka naik. Dalam keadaan seperti itu, mereka berlari untuk mencari sungai. Mereka memeluk setiap pohon pisang yang mereka temui di kedua sisi jalan ke sungai, pohon pisang menjadi layu.

                  Begitu mereka tiba di tepi sungai, mereka segera melompat ke sana. Hampir pada saat yang sama, para penghuni pondok yang memang ayah dari saudara itu tercengang ketika melihat banyak pohon pisang di sekitar pondok mereka menjadi layu dan hangus.

         Tapi mereka sangat terkejut ketika masuk ke gubuk dan menemukan satu pak dan dua saber milik kedua anaknya. Sang istri terus memeriksa isi pondok itu ke dapur, dan dia tidak menemukan pot yang lebih lama yang tertinggal.

          Dia kemudian melaporkannya kepada suaminya. Mereka kemudian bergegas turun dari gubuk dan mengikuti jalan ke sungai di kiri-kanan bahwa ada banyak pohon pisang yang telah layu dan hangus.

         Sesampai di tepi sungai, mereka melihat dua makhluk yang bergerak ke sana kemari di air sambil menyemprotkan air dari kepalanya. Pikiran sang suami mengingat urutan kejadian yang mungkin pernah ada hubungannya dengan keluarga.

         Dia terkejut karena tiba-tiba istrinya tidak ada di sampingnya. Rupanya dia menghilang secara misterius. Sekarang sang suami menyadari bahwa istrinya bukanlah nenek moyang manusia yang umum.

         Sejak pernikahan mereka, sang istri tidak pernah ingin memberi tahu asal-usul mereka. Dia hampir menjadi korban dari penyihir jahat. Terima kasih kepada anak-anak yang sudah makan bubur

         Belum lama ini, penduduk desa datang berbondong-bondong ke tepi sungai untuk menyaksikan keanehan yang baru saja terjadi.

         Dua ikan yang kepalanya mirip dengan kepala manusia bergerak ke sana kemari di tengah sungai ketika ia sesekali muncul di permukaan dan menyemprotkan air dari kepalanya. Orang-orang yang berada di tempat itu memperkirakan bahwa semburan air dari dua entitas panas yang dapat menyebabkan ikan bayi mati jika terkena.

         Oleh orang Kutai, ikan itu diberi nama pesut (Irrawady dolphin). Sedangkan komunitas di pedalaman Mahakam bernama ikan Bawoi.


         Di Kalimantan Timur ada sungai yang terkenal dari Sungai Mahakam. Di sungai ada ikan yang sangat khas bentuknya yaitu Irrawady Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) adalah lumba-lumba air tawar Indonesia.

         Badan yang kuat, sirip dorsal kecil dan segitiga dan kepala membulat / menumpulkan jawaban dengan mata kecil. Diklasifikasikan sebagai lumba-lumba kecil, lumba-lumba Irrawaddy memiliki panjang dewasa 2,0 hingga 2,75 m, 1,0 m. Bayi lumba-lumba sangat aktif, kadang-kadang melompat rendah). Sebenarnya Irrawaddy Dolphin bukan ikan tetapi mamalia air seperti lumba-lumba dan ikan paus. Menurut penduduk di sekitar sungai Irrawady bukanlah sembarang ikan melainkan merupakan inkarnasi manusia.

         Kisah di zaman dahulu kala di Mahakam, ada sebuah desa yang dihuni oleh beberapa keluarga. Mereka hidup sebagai petani dan nelayan. Setiap tahun setelah panen, penduduk desa biasanya biasa mengadakan pesta yang diisi dengan berbagai pertunjukan dan ketangkasan artistik.

         Di tengah orang-orang yang tinggal di dusun, ada keluarga yang hidup dalam harmoni dan kedamaian di sebuah pondok sederhana.

         Mereka terdiri dari suami dan istri serta dua putra dan putri. Kebutuhan hidup mereka tidak terlalu sulit untuk dicapai karena mereka memiliki kebun yang ditanami berbagai jenis buah dan sayuran.

         Begitu pula segala macam kesulitan dapat diatasi dengan bijaksana, sehingga mereka hidup bahagia selama bertahun-tahun.

         Pada satu titik, sang ibu terserang penyakit. Meskipun beberapa orang telah dirawat oleh dokter, tetapi ibunya tidak pernah pulih sampai akhirnya dia meninggal. Setelah kematian ibu, keluarga itu hidup dalam kesedihan.

         Mereka sangat sedih kehilangan orang yang sangat mereka cintai. Sang ayah menjadi menarik diri dan murung, sementara kedua anaknya selalu kewalahan dengan perasaan bingung, tidak tahu harus berbuat apa.

         Rumah mereka dan kebun mereka sekarang tidak lagi dipertahankan. Beberapa tetua desa telah mencoba untuk menasehati ayahnya agar tidak larut dalam kesedihan, tetapi nasihat mereka tidak dapat membuat perubahan apa pun. Situasi ini berlangsung cukup lama.

         Suatu hari di pesta desa kembali diadakan panen adat. Berbagai pertunjukan dan hiburan diadakan lagi. Di salah satu pertunjukan panggung, ada seorang gadis yang sangat cantik dan mempesona, dia selalu menarik pemuda desa ketika dia beraksi.

         Mendengar berita semacam itu, itu juga menggerakkan hati sang ayah untuk menonton juga, dia ingin melihat pertunjukan seperti apa yang sangat dipuji di antara para penduduk desa dan membuat banyak pemuda begitu gila.

         Malam itu adalah malam ke tujuh dari acara itu, diadakan orang banyak. Perlahan-lahan ayahnya berjalan ke tempat di mana dia akan bermain. Dia sengaja berdiri di depan sehingga bisa dengan jelas menyaksikan pertandingan dan menghadapi gadis itu. Akhirnya acara dimulai. Berbeda dengan penonton lain, sang ayah tidak banyak tertawa geli atau memuji penampilan gadis itu. Namun sesekali ada juga sang ayah tersenyum kecil.

         Gadis itu melemparkan senyum ceria kepada penonton yang memujinya serta menggoda. Suatu kali, gadis itu melihat ayahnya, itu terjadi berkali-kali. Keduanya jatuh cinta satu sama lain tanpa tahu kapan cinta itu mulai dimulai di hati mereka. Banyak orang, terutama pemuda desa itu tidak berharap bahwa gadis muda itu ingin menikahinya, yang sudah memiliki dua anak.

         Segera setelah itu, dengan persetujuan kedua belah pihak dan berkat dari para tetua mereka menikah setelah pesta adat di desa berakhir. Dan juga kesuraman atas keluarga, sekarang mereka mulai mempersiapkan kehidupan baru. Mereka mulai mengerjakan kegiatan yang sebelumnya mereka tidak coba lagi.
       
         Sang ayah kembali bertani giat dengan bantuan kedua anaknya, sementara ibu tirinya tinggal di rumah menyiapkan makanan untuk keluarga mereka. Dan seterusnya selama berbulan-bulan sampai hidup mereka kembali cerah.

         Masyarakat desa melihat keluarga yang bahagia, tetapi tidak ada yang tahu kebenaran bahwa saudara itu hidup dalam situasi yang berbeda.

         Kedua anak diberi makan hanya setelah ada sisa makanan dari ayahnya. Sang ayah hanya bisa mentolerir tindakan istrinya; dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia benar-benar mencintainya. Akhirnya, seluruh rumah tangga diatur di tangan istri muda yang serakah. Saudara itu bekerja keras setiap hari tanpa lelah dan bahkan diperintahkan untuk melakukan hal-hal di luar kemampuan mereka.

         Pada satu titik, ibu tirinya telah membuat rencana jahat. Dia memberi tahu kedua anak tirinya untuk mencari kayu bakar di hutan.

         "Kalian berdua, pergi tumpukan kayu bakar lagi hari ini!" Memerintahkan ibu, "Seharusnya ada tiga kali lebih banyak dari yang kamu hasilkan kemarin. Dan ingat! Jangan pulang sebelum kayunya banyak dikoleksi. Mengerti ?!"

         "Tapi, Bu ..." putranya menjawab, "Mengapa Anda membutuhkan begitu banyak kayu ...?. Persediaan kayu kami masih cukup banyak. Kita bisa mengambil lagi ketika stok hampir kosong.

         "Apa! Kamu berani berdebat denganku? Apakah kamu ingin aku mengatakan kepada ayahmu bahwa kamu malas! Ayo, pergi sekarang !!" ibu tiri marah.

         Anak-anak muda itu kemudian menarik tangan adiknya untuk pergi. Dia tahu bahwa ayahnya dipengaruhi oleh ibu tirinya, jadi tidak ada gunanya berdebat karena mereka akan disalahkan juga. Setelah membawa beberapa persediaan, mereka berangkat ke hutan. Hingga senja mendekat, kayu yang mereka kumpulkan tidak cukup seperti yang dipersyaratkan oleh ibu tiri mereka. Mereka dipaksa untuk bermalam di hutan, di bekas rumah penduduk desa untuk melanjutkan pekerjaan mereka di hari berikutnya. Mereka bisa tidur meski lapar masih membungkus perut mereka.

         Keesokan paginya, mereka mulai mengumpulkan sebanyak mungkin kayu. Pada tengah hari, rasa lapar tak tertahankan lagi; akhirnya mereka berbaring di tanah selama beberapa saat. Tanpa disadari, seorang lelaki tua mendatangi mereka.

         "Apa yang kamu lakukan di sini, anak-anak ?!" Orang tua itu bertanya pada mereka. Kedua anak malang itu kemudian diberitahu semua orang, termasuk perilaku ibu tiri mereka dan keadaan mereka yang belum makan nasi sejak kemarin hingga tidak lagi bisa melanjutkan pekerjaan.

         "Yah ..., kamu turun seperti itu." Orang tua itu berkata sambil menunjuk ke arah pagar tanaman. "Ada banyak pohon buah. Makan semuanya sampai kamu kenyang. Tapi ingat, jangan cari lagi keesokan harinya karena akan sia-sia. Pergilah sekarang!"

         Setelah mengucapkan terima kasih, kedua saudara perempuan itu bergegas menuju tempat itu. Memang benar apa yang dikatakan kakek sebelumnya, ada banyak jenis pohon buah. Durian, nangka, mirip dengan buah nangka, mangga dan pepaya yang telah matang sepenuhnya tersebar di tanah. Buah-buahan lain seperti pisang, rambutan dan kelapa terlihat tergantung di pohon. Mereka kemudian memakan buahnya hingga badan terasa segar kembali.

         Setelah beristirahat sebentar, mereka dapat kembali melanjutkan pekerjaan mengumpulkan kayu sesuai dengan yang diminta ibu tirinya.

         Menjelang sore, mereka berhasil memasangnya di rumah. Mereka mengatur kayu tanpa tekun. Setelah selesai, kemudian mereka masuk ke rumah untuk melapor ke ibu tirinya, tetapi terkejut ketika mereka melihat rumah yang telah kosong.

         Rupanya ayah dan ibu tiri mereka telah meninggalkan rumah. Semua properti di dalam rumah telah diambil bersama, ini berarti mereka meninggalkan keduanya dan tidak pernah kembali lagi ke rumah. Saudara muda itu hanya menangis.

         Mendengar tangisan kedua orang itu, tetangga-tetangga sekitarnya datang ke rumah untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Mereka terkejut setelah mengetahui bahwa ayah dan ibu tirinya dari anak-anak telah dipindahkan secara diam-diam.

         Keesokan harinya, anak-anak bertekad untuk menemukan orang tuanya. Mereka mengumumkan rencana ke tetangga terdekat.

         Beberapa tetangga yang mengasihani kemudian menukar kayu bakar dengan persediaan makanan untuk perjalanan dua bersaudara. Pada tengah hari, mereka pergi mencari ayah dan ibu tiri mereka.

         Sudah dua hari mereka berlari tetapi belum menemukan orang tua mereka, sementara persediaan makanan telah habis. Pada hari ketiga, mereka datang di daerah berbukit dan terlihat oleh asap mereka yang mengepul di kejauhan.

         Mereka langsung menuju ke tempat yang baru saja ditanyakan warga mungkin kenal atau melihat kedua orang tua mereka.

         Mereka akhirnya menemukan sebuah pondok jompo. Sepertinya seorang lelaki tua duduk di depan kabin. Dua saudara perempuan dan beri penghormatan kepada orang tua dan memberi hormat.

"Di mana kalian? Apa maksudmu datang ke tempatku jauh terpencil ini?

         "Maaf" Anak itu berkata, "Kami sedang mencari orang tua kami. Apakah kamu pernah melihat seorang pria dan seorang wanita muda lewat sini?"

         Orang tua itu berhenti sejenak sambil mengerutkan dahinya; rupanya dia berusaha keras untuk mengingat sesuatu.

         "Hmmm ..., beberapa hari yang lalu ada seorang suami dan istri yang datang ke sini." "Mereka membawa banyak barang. Apakah itu yang Anda cari?"

         "Tidak diragukan lagi" Anak itu berkata dengan penuh semangat, "Mereka pasti orang tua kita! Ke mana mereka pergi, Pak?"

         "Saat itu mereka meminjam perahu untuk menyeberangi sungai. Mereka mengatakan ingin menetap di sana di sisi lain dan ingin membuat pondok dan perkebunan baru. Coba cari di sisi lain."

         "Terima kasih, Pak ..." kata putra sulung itu, "Tapi ..., bisakah kamu membantu kami menyeberangi sungai?"

         "Aku sudah anak-anak tua ... Aku tidak punya kekuatan untuk mendayung perahu!" Kata kakek itu dengan tawa kecil, "Jika Anda ingin menangkap mereka, gunakan perahu yang ada sendirian di tepi sungai."

         Keduanya memiliki keberanian untuk membawa perahu sang kakek. Mereka berjanji akan mengembalikan perahu jika berhasil menemukan orang tua mereka. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka kemudian naik ke perahu dan pergi menyeberang.

         Keduanya tidak menyadari rasa lapar yang membelit perut mereka karena rasa sukacita setelah mengetahui keberadaan orang tua mereka. Akhirnya mereka sampai di sisi lain dan perahu tertambat di sungai kecil.

         Setelah dua hari berjalan dengan perut kosong, maka mereka bertemu tepi dusun yang jarang penduduknya.

         Mereka berdua melihat pondok yang baru dibangun. Perlahan-lahan mereka mendekati kabin. Dengan perasaan cemas dan ragu, saudara itu bangun di tangga dan memanggil penghuninya, sementara adik lelaki itu berjalan di sekitar kabin sampai dia menemukan kuda pakaian yang ada di belakang kabin.

         Dia juga ingat pakaian ayahnya; setelah dia mendekat maka yakinlah bahwa itu memang pakaian ayahnya. Segera dia berlari ke saudara perempuannya ketika dia menunjukkan ayahnya telah menemukan pakaian di belakang.

         Tanpa berpikir lagi mereka memasuki pondok dan pondok itu memang berisi barang-barang milik ayah mereka.

         Rupanya orang tua mereka sedang terburu-buru pergi, jadi di dapur ada panci yang diletakkan di atas api yang masih menyala. Di dalam pot ada beras yang menjadi bubur. Karena perutnya kelaparan, saudara-saudara akhirnya memakan bubur nasi.

         Kakaknya yang baru saja mengikuti ke dapur terkejut dengan apa yang dia lakukan, dia segera mengambil panci yang isinya rendah. Kelaparan, dia langsung makan bubur nasi sekaligus.

         Karena bubur yang masih panas, suhu tubuh mereka naik. Dalam keadaan seperti itu, mereka berlari untuk mencari sungai. Mereka memeluk setiap pohon pisang yang mereka temui di kedua sisi jalan ke sungai, pohon pisang menjadi layu.

                  Begitu mereka tiba di tepi sungai, mereka segera melompat ke sana. Hampir pada saat yang sama, para penghuni pondok yang memang ayah dari saudara itu tercengang ketika melihat banyak pohon pisang di sekitar pondok mereka menjadi layu dan hangus.

         Tapi mereka sangat terkejut ketika masuk ke gubuk dan menemukan satu pak dan dua saber milik kedua anaknya. Sang istri terus memeriksa isi pondok itu ke dapur, dan dia tidak menemukan pot yang lebih lama yang tertinggal.

          Dia kemudian melaporkannya kepada suaminya. Mereka kemudian bergegas turun dari gubuk dan mengikuti jalan ke sungai di kiri-kanan bahwa ada banyak pohon pisang yang telah layu dan hangus.

         Sesampai di tepi sungai, mereka melihat dua makhluk yang bergerak ke sana kemari di air sambil menyemprotkan air dari kepalanya. Pikiran sang suami mengingat urutan kejadian yang mungkin pernah ada hubungannya dengan keluarga.

         Dia terkejut karena tiba-tiba istrinya tidak ada di sampingnya. Rupanya dia menghilang secara misterius. Sekarang sang suami menyadari bahwa istrinya bukanlah nenek moyang manusia yang umum.

         Sejak pernikahan mereka, sang istri tidak pernah ingin memberi tahu asal-usul mereka. Dia hampir menjadi korban dari penyihir jahat. Terima kasih kepada anak-anak yang sudah makan bubur

         Belum lama ini, penduduk desa datang berbondong-bondong ke tepi sungai untuk menyaksikan keanehan yang baru saja terjadi.

         Dua ikan yang kepalanya mirip dengan kepala manusia bergerak ke sana kemari di tengah sungai ketika ia sesekali muncul di permukaan dan menyemprotkan air dari kepalanya. Orang-orang yang berada di tempat itu memperkirakan bahwa semburan air dari dua entitas panas yang dapat menyebabkan ikan bayi mati jika terkena.

         Oleh orang Kutai, ikan itu diberi nama pesut (Irrawady dolphin). Sedangkan komunitas di pedalaman Mahakam bernama ikan Bawoi.


         Damar Wulan lahir di desa Paluh Amba, tidak jauh dari ibu kota Majapahit. Dia adalah putra Udara, mantan perdana menteri Majapahit. Karena ayahnya telah pensiun, keluarganya tinggal di desa yang tenang dan makmur di luar ibu kota.         

         Damar adalah anak yang pintar sehingga dia bisa dengan mudah mempelajari pelajaran yang diajarkan ayahnya. Dia belajar seni bela diri, agama, politik, dan sastra. Dia sangat bagus dalam semua hal itu.

         Ketika ayahnya berpikir bahwa dia cukup dewasa, dia meminta Damar untuk mencari pekerjaan di Majapahit. Dia memberi tahu Damar untuk melamar pekerjaan di kantor Perdana Menteri. Dia berharap bahwa hubungan dekatnya dengan perdana menteri baru akan membantunya mendapatkan perhatian perdana menteri.

          Lebih jauh Damar adalah anak yang pintar sehingga ayahnya yakin Damar mampu melakukan pekerjaan apa pun.

Damar sangat yakin dia akan mendapat posisi yang bagus di kantor perdana menteri. Pagi harinya dia meninggalkan desanya. Pada tengah hari dia sampai ke Majapahit dan dia langsung pergi ke rumah perdana menteri. Perdana Menteri Logender adalah namanya. Para penjaga secara sarkastik bertanya kepadanya ketika dia memberi tahu mereka bahwa dia akan menemui perdana menteri.

'Kamu pikir kamu siapa?'

         'Saya Damar Wulan. Saya putra mantan perdana menteri Udara. Ayah saya mengatakan kepada saya untuk melihat perdana menteri di sini '

         “Jika Anda berpikir Anda bisa membuat kami terkesan dengan menceritakan tentang ayah Anda, Anda benar-benar anak nakal yang salah. Putra seorang perdana menteri tidak akan pernah pergi ke mana pun dengan berjalan kaki '

'Tapi, itu benar. Ayah saya mengatakan kepada saya untuk mencari pekerjaan di sini '

         'Dengar anak miskin, perdana menteri adalah orang yang sangat sibuk. Dia tidak punya waktu untuk pencari kerja sepertimu. Tetapi jika Anda membutuhkan pekerjaan, ada posisi yang kosong di sini. Biarkan saya melaporkan kepala saya '

         Kemudian prajurit itu melaporkan kepada atasannya. Setelah itu seseorang memanggil Damar untuk masuk ke kamar komandan.

         Dia memberi tahu Damar bahwa kantor perdana menteri membutuhkan beberapa anak laki-laki untuk merawat kuda-kuda itu. Damar terkejut karena dia mengharapkan pekerjaan administrasi tetapi kemudian dia menerima tawaran itu. Sejak hari itu ia tinggal di sebuah gubuk sederhana di belakang rumah perdana menteri.

         Damar melakukan pekerjaan dengan baik sehingga atasannya puas dengannya. Dia juga sangat ramah. Segera dia memiliki hubungan baik dengan perdana menteri dan keluarganya. Perdana menteri memiliki dua putra - Layang Seto dan Layang Kumitir dan seorang putri - Anjasmoro. Putranya sangat arogan dan malas.

         Mereka memperlakukan Damar dengan kejam. Mereka ingin Damar melakukan apa pun yang mereka inginkan. Setiap tubuh membenci mereka tetapi tidak ada yang berani mengekspresikan perasaan mereka. Anjasmoro, di sisi lain, sangat menyukai Damar.

         Lambat laun ia jatuh cinta pada Damar. Begitu juga Damar. Mereka memiliki cinta rahasia. Ketika Layang Seto dan Layang Kumitir tahu apa yang terjadi pada Damar dan Anjasmoro, mereka sangat marah. Mereka memperlakukan Damar dengan lebih kejam.

         Pada waktu itu kerajaan Majapahit menghadapi masalah yang sangat serius karena pemberontakan Menak Jinggo.

         Dia adalah saudara tiri dari Ratu Kecono Wungu. Dia adalah seorang pangeran Majapahit dan jenderal yang sangat dihormati dari tentara Majapahit. Atas prestasinya yang luar biasa untuk negaranya, ayahnya menunjuknya sebagai penguasa untuk kerajaan Blambangan, sebuah negara bawahan di bawah Majapahit.

          Ketika ayahnya meninggal dia yakin bahwa dia akan menjadi penerus. Tapi dia sangat kecewa ketika ayahnya menunjuk saudara perempuannya sebagai gantinya. Dia berpikir bahwa dia lebih mampu daripada Kencono Wungu jadi dia memberontak.

         Menak Jinggo terbukti jenderal yang baik. Di bawah kepemimpinannya, pasukan Blambangan dapat memenangkan beberapa pertempuran dengan tentara Majapahit. Wilayah Majapahit satu persatu jatuh ke Blambangan.
       
          Pada saat itu moral pasukan Majapahit sudah turun. Mereka tidak yakin mereka bisa memenangkan perang. Jadi ratu dan perdana menteri bertemu setiap hari untuk membahas situasi yang memburuk. Beberapa minggu berlalu tetapi tetap saja mereka tidak punya ide untuk memecahkan masalah. Setiap laporan yang mereka terima tentang perang hanyalah tentang kekalahan tentara Majapahit.

         Perdana Menteri Logender terkejut ketika istrinya melaporkan kepadanya tentang perselingkuhan Anjasmoro dan Damar Wulan. Untuk orang yang sangat dihormati seperti dia, itu adalah pukulan yang sangat serius bagi egonya.

         Dia adalah orang yang sangat terhormat sementara putrinya berkencan dengan seorang anak lelaki miskin. Itu penghinaan serius. Dia tidak bisa menerimanya. Fakta ini membuatnya sangat marah. Dia berpikir sangat keras untuk menemukan solusi. Tiba-tiba sebuah ide muncul dalam pikirannya yang tajam ketika dia bermeditasi di tengah malam.

Pagi-pagi dia pergi ke istana dan meminta ratu untuk hadirin. Kemudian dia menjelaskan rencananya.

'Yang Mulia, tadi malam saya punya ide'

'Beritahu aku tentang itu'

         'Tentara kami tidak bisa menang karena kami menerapkan strategi yang salah. Tentara Blambangan sangat bagus dalam perang terbuka frontal seperti itu. Selanjutnya semangat tentara kita sekarang sedang menurun. Jadi kita harus menghindari peperangan terbuka.

         Sejak sekarang kami harus meluncurkan taktik baru operasi rahasia. Kami harus mengirim unit tentara kecil untuk membunuh Menak Jinggo secara diam-diam '

'Siapa yang akan melakukan itu?'

         'Saya memiliki penjaga tubuh. Keterampilannya dalam seni bela diri sangat bagus. Dia sangat mampu dalam pertarungan individu. Jadi dia siap untuk tugas ini. Saya yakin dia adalah orang yang tepat '

         'OK, saya pikir kamu benar. Kirim dia secepatnya ke Blambangan. Jika dia bisa melakukan pekerjaannya dengan baik, saya akan memberinya hadiah besar '

         Ketika Logender tiba di rumah, dia memanggil Damar Wulan segera. Dia bertanya kepadanya tentang keterampilan seni bela dirinya. Damar mengatakan dia telah menguasai beberapa keterampilan bertarung.

         Ayahnya telah melatihnya Pencak Silat, seni bela diri Indonesia. Akibatnya, dia sangat terampil dalam menggunakan pedang, tombak, serta teknik bertarung tangan kosong. Kemudian Logender memintanya untuk melawan Layang Seto dan Layang Kumitir. Keduanya berjuang secara emosional karena mereka sangat membenci Damar.

         Tapi Damar pintar, terampil, kuat, dan tegar. Hanya dalam beberapa menit dia bisa mengalahkan mereka berdua tanpa kesulitan. Logender marah tetapi juga puas karena dia menemukan cara untuk menyingkirkan kedua masalah - rumahnya dan negaranya.

         'Damar, kamu adalah petarung hebat. Saya sangat bangga padamu. Dan itulah mengapa Anda akan menerima kehormatan besar untuk memperjuangkan negara Anda. Sekarang ada pemberontakan di Majapahit. Raja Blambangan telah melakukan kejahatan.

         Namanya Menak Jinggo. Temukan dia di istananya dan Blambangan dan bunuh dia. Apakah kamu siap?'

'Saya siap setiap saat Pak'

         'Baik. Hari ini Anda harus mempersiapkan segalanya dan besok Anda harus berangkat ke Blambangan diam-diam. Jangan beri tahu siapa pun tentang tugas ini. Bahkan tidak Anjasmoro. Jangan takut karena tentara Majapahit akan sepenuhnya mendukung Anda. Mereka akan mendukung Anda dan menyediakan semua kebutuhan Anda.

         Ketika Anda bisa membunuh Menak Jinggo memenggal kepalanya dan membawa kepalanya ke sini. Jika Anda dapat melakukan pekerjaan ini dengan baik Anda akan dipromosikan ke posisi tinggi sebagai komandan pasukan Majapahit '

'Ya pak. Saya sangat senang menerima pesanan ini. Aku akan melakukan yang terbaik'

         Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Damar Wulan meninggalkan Majapahit sendirian. Sementara Perdana Menteri Logender telah menerapkan rencananya sendiri. Dia menyiapkan unit tentara kecil di bawah kepemimpinan kedua putranya.

         Mereka pergi ke belakang Damar dalam jarak yang jauh sehingga Damar tidak memperhatikan mereka. Mereka pergi secara diam-diam jadi tidak ada yang tahu itu. Tugas mereka bukan untuk melindungi Damar tetapi untuk membunuhnya dan menangkap kepala Menak Jinggo jika dia bisa membunuh Menak Jinggo. Tetapi jika Damar terbunuh maka mereka tidak ada hubungannya.

         Beberapa hari kemudian Damar Wulan tiba di Blambangan. Tentara Majapahit terus memata-matai dia. Mereka terkejut melihat Damar tidak langsung menyerang istana. Dia melamar pekerjaan sebagai gantinya.

         Sekali lagi dia diterima bekerja di istana untuk merawat kuda-kuda. Semua orang termasuk raja Menak Jinggo menyukainya karena dia sangat sopan dan dia melakukan pekerjaannya dengan baik. Dia juga sangat tampan sehingga dua orang istri raja jatuh cinta padanya. Waito dan Puyengan adalah istri Raja Menak Jinggo.

         Saat semua orang mempercayainya, mudah bagi Damar untuk mencari istana. Dia tahu di mana Menak Jinggo tinggal. Suatu malam dia diam-diam melompat ke dinding istana untuk membunuh raja. Akhirnya dia berada di dalam kamar raja.

         Namun sayangnya sang raja siap menyambutnya. Sebuah unit tentara kecil ada di sana untuk menangkapnya. Dia bukan tandingan untuk Menak Jinggo. Tapi Menak Jinggo adalah orang yang pintar. Dia tidak membunuh Damar seketika. Dia ingin mengumpulkan informasi darinya. Jadi dia memerintahkan pengawalnya.

'Jangan bunuh dia. Biarkan dia hidup, perlakukan dia dengan baik. Saya akan menanyainya besok '.

'Ya yang Mulia'

         Dia memerintahkan anak buahnya untuk memperlakukannya dengan baik. Dia bahkan membiarkan Waito dan Puyengan menemui Damar. Dengan melakukan itu dia berharap Damar memberinya informasi yang berharga.

         Tapi Damar juga orang yang pintar. Dia berkencan dengan Waito dan Puyengan dan dia meminta mereka cara untuk membunuh Menak Jinggo. Karena kedua wanita itu mencintai Damar, mereka mengungkapkan sebuah rahasia.

         'Tidak ada yang bisa menyakitinya. Dia adalah pria yang tangguh dan dia dilindungi oleh tuhan. Tuhan memberinya senjata rahasia bernama Wesi Kuning '

'Apa itu?'

         'Itu jimat emas. Itu hanya sebuah jimat kecil, sekecil jempol tetapi sangat kuat. Bentuknya seperti tongkat. Itu disimpan di kamar tidurnya '

         'Dia adalah pria yang berbahaya. Kita harus menghentikannya. Bisakah Anda membantu saya menemukan jimatnya?

'Aku akan membantumu jika kamu menikah denganku'

'Tentu aku akan menikahi kalian berdua segera setelah aku bisa menangkapnya'

         Ketika giliran mereka untuk menghibur raja tiba Waito dan Puyengan bisa masuk ke kamar raja. Mereka menggunakan kesempatan itu untuk mencuri jimat. Kemudian mereka memberikannya kepada Damar Wulan.

         Menak Jinggo tidak menyadari konspirasi mereka. Ketika malam sangat sunyi mereka membuka pintu untuk Damar Wulan. Terjadi perkelahian, tetapi sudah terlambat bagi Menak Jinggo. Serangan mendadak itu tidak memberinya banyak kesempatan untuk bertahan hidup. Akibatnya Damar bisa mengalahkan musuhnya dan Menak Jinggo dipenggal kepalanya.

         Damar Wulan segera meninggalkan istana Blambangan malam itu sambil menjanjikan Waito dan Puyengan untuk kembali setelah ia menerima rewa tersebut.


         Damar Wulan lahir di desa Paluh Amba, tidak jauh dari ibu kota Majapahit. Dia adalah putra Udara, mantan perdana menteri Majapahit. Karena ayahnya telah pensiun, keluarganya tinggal di desa yang tenang dan makmur di luar ibu kota.         

         Damar adalah anak yang pintar sehingga dia bisa dengan mudah mempelajari pelajaran yang diajarkan ayahnya. Dia belajar seni bela diri, agama, politik, dan sastra. Dia sangat bagus dalam semua hal itu.

         Ketika ayahnya berpikir bahwa dia cukup dewasa, dia meminta Damar untuk mencari pekerjaan di Majapahit. Dia memberi tahu Damar untuk melamar pekerjaan di kantor Perdana Menteri. Dia berharap bahwa hubungan dekatnya dengan perdana menteri baru akan membantunya mendapatkan perhatian perdana menteri.

          Lebih jauh Damar adalah anak yang pintar sehingga ayahnya yakin Damar mampu melakukan pekerjaan apa pun.

Damar sangat yakin dia akan mendapat posisi yang bagus di kantor perdana menteri. Pagi harinya dia meninggalkan desanya. Pada tengah hari dia sampai ke Majapahit dan dia langsung pergi ke rumah perdana menteri. Perdana Menteri Logender adalah namanya. Para penjaga secara sarkastik bertanya kepadanya ketika dia memberi tahu mereka bahwa dia akan menemui perdana menteri.

'Kamu pikir kamu siapa?'

         'Saya Damar Wulan. Saya putra mantan perdana menteri Udara. Ayah saya mengatakan kepada saya untuk melihat perdana menteri di sini '

         “Jika Anda berpikir Anda bisa membuat kami terkesan dengan menceritakan tentang ayah Anda, Anda benar-benar anak nakal yang salah. Putra seorang perdana menteri tidak akan pernah pergi ke mana pun dengan berjalan kaki '

'Tapi, itu benar. Ayah saya mengatakan kepada saya untuk mencari pekerjaan di sini '

         'Dengar anak miskin, perdana menteri adalah orang yang sangat sibuk. Dia tidak punya waktu untuk pencari kerja sepertimu. Tetapi jika Anda membutuhkan pekerjaan, ada posisi yang kosong di sini. Biarkan saya melaporkan kepala saya '

         Kemudian prajurit itu melaporkan kepada atasannya. Setelah itu seseorang memanggil Damar untuk masuk ke kamar komandan.

         Dia memberi tahu Damar bahwa kantor perdana menteri membutuhkan beberapa anak laki-laki untuk merawat kuda-kuda itu. Damar terkejut karena dia mengharapkan pekerjaan administrasi tetapi kemudian dia menerima tawaran itu. Sejak hari itu ia tinggal di sebuah gubuk sederhana di belakang rumah perdana menteri.

         Damar melakukan pekerjaan dengan baik sehingga atasannya puas dengannya. Dia juga sangat ramah. Segera dia memiliki hubungan baik dengan perdana menteri dan keluarganya. Perdana menteri memiliki dua putra - Layang Seto dan Layang Kumitir dan seorang putri - Anjasmoro. Putranya sangat arogan dan malas.

         Mereka memperlakukan Damar dengan kejam. Mereka ingin Damar melakukan apa pun yang mereka inginkan. Setiap tubuh membenci mereka tetapi tidak ada yang berani mengekspresikan perasaan mereka. Anjasmoro, di sisi lain, sangat menyukai Damar.

         Lambat laun ia jatuh cinta pada Damar. Begitu juga Damar. Mereka memiliki cinta rahasia. Ketika Layang Seto dan Layang Kumitir tahu apa yang terjadi pada Damar dan Anjasmoro, mereka sangat marah. Mereka memperlakukan Damar dengan lebih kejam.

         Pada waktu itu kerajaan Majapahit menghadapi masalah yang sangat serius karena pemberontakan Menak Jinggo.

         Dia adalah saudara tiri dari Ratu Kecono Wungu. Dia adalah seorang pangeran Majapahit dan jenderal yang sangat dihormati dari tentara Majapahit. Atas prestasinya yang luar biasa untuk negaranya, ayahnya menunjuknya sebagai penguasa untuk kerajaan Blambangan, sebuah negara bawahan di bawah Majapahit.

          Ketika ayahnya meninggal dia yakin bahwa dia akan menjadi penerus. Tapi dia sangat kecewa ketika ayahnya menunjuk saudara perempuannya sebagai gantinya. Dia berpikir bahwa dia lebih mampu daripada Kencono Wungu jadi dia memberontak.

         Menak Jinggo terbukti jenderal yang baik. Di bawah kepemimpinannya, pasukan Blambangan dapat memenangkan beberapa pertempuran dengan tentara Majapahit. Wilayah Majapahit satu persatu jatuh ke Blambangan.
       
          Pada saat itu moral pasukan Majapahit sudah turun. Mereka tidak yakin mereka bisa memenangkan perang. Jadi ratu dan perdana menteri bertemu setiap hari untuk membahas situasi yang memburuk. Beberapa minggu berlalu tetapi tetap saja mereka tidak punya ide untuk memecahkan masalah. Setiap laporan yang mereka terima tentang perang hanyalah tentang kekalahan tentara Majapahit.

         Perdana Menteri Logender terkejut ketika istrinya melaporkan kepadanya tentang perselingkuhan Anjasmoro dan Damar Wulan. Untuk orang yang sangat dihormati seperti dia, itu adalah pukulan yang sangat serius bagi egonya.

         Dia adalah orang yang sangat terhormat sementara putrinya berkencan dengan seorang anak lelaki miskin. Itu penghinaan serius. Dia tidak bisa menerimanya. Fakta ini membuatnya sangat marah. Dia berpikir sangat keras untuk menemukan solusi. Tiba-tiba sebuah ide muncul dalam pikirannya yang tajam ketika dia bermeditasi di tengah malam.

Pagi-pagi dia pergi ke istana dan meminta ratu untuk hadirin. Kemudian dia menjelaskan rencananya.

'Yang Mulia, tadi malam saya punya ide'

'Beritahu aku tentang itu'

         'Tentara kami tidak bisa menang karena kami menerapkan strategi yang salah. Tentara Blambangan sangat bagus dalam perang terbuka frontal seperti itu. Selanjutnya semangat tentara kita sekarang sedang menurun. Jadi kita harus menghindari peperangan terbuka.

         Sejak sekarang kami harus meluncurkan taktik baru operasi rahasia. Kami harus mengirim unit tentara kecil untuk membunuh Menak Jinggo secara diam-diam '

'Siapa yang akan melakukan itu?'

         'Saya memiliki penjaga tubuh. Keterampilannya dalam seni bela diri sangat bagus. Dia sangat mampu dalam pertarungan individu. Jadi dia siap untuk tugas ini. Saya yakin dia adalah orang yang tepat '

         'OK, saya pikir kamu benar. Kirim dia secepatnya ke Blambangan. Jika dia bisa melakukan pekerjaannya dengan baik, saya akan memberinya hadiah besar '

         Ketika Logender tiba di rumah, dia memanggil Damar Wulan segera. Dia bertanya kepadanya tentang keterampilan seni bela dirinya. Damar mengatakan dia telah menguasai beberapa keterampilan bertarung.

         Ayahnya telah melatihnya Pencak Silat, seni bela diri Indonesia. Akibatnya, dia sangat terampil dalam menggunakan pedang, tombak, serta teknik bertarung tangan kosong. Kemudian Logender memintanya untuk melawan Layang Seto dan Layang Kumitir. Keduanya berjuang secara emosional karena mereka sangat membenci Damar.

         Tapi Damar pintar, terampil, kuat, dan tegar. Hanya dalam beberapa menit dia bisa mengalahkan mereka berdua tanpa kesulitan. Logender marah tetapi juga puas karena dia menemukan cara untuk menyingkirkan kedua masalah - rumahnya dan negaranya.

         'Damar, kamu adalah petarung hebat. Saya sangat bangga padamu. Dan itulah mengapa Anda akan menerima kehormatan besar untuk memperjuangkan negara Anda. Sekarang ada pemberontakan di Majapahit. Raja Blambangan telah melakukan kejahatan.

         Namanya Menak Jinggo. Temukan dia di istananya dan Blambangan dan bunuh dia. Apakah kamu siap?'

'Saya siap setiap saat Pak'

         'Baik. Hari ini Anda harus mempersiapkan segalanya dan besok Anda harus berangkat ke Blambangan diam-diam. Jangan beri tahu siapa pun tentang tugas ini. Bahkan tidak Anjasmoro. Jangan takut karena tentara Majapahit akan sepenuhnya mendukung Anda. Mereka akan mendukung Anda dan menyediakan semua kebutuhan Anda.

         Ketika Anda bisa membunuh Menak Jinggo memenggal kepalanya dan membawa kepalanya ke sini. Jika Anda dapat melakukan pekerjaan ini dengan baik Anda akan dipromosikan ke posisi tinggi sebagai komandan pasukan Majapahit '

'Ya pak. Saya sangat senang menerima pesanan ini. Aku akan melakukan yang terbaik'

         Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Damar Wulan meninggalkan Majapahit sendirian. Sementara Perdana Menteri Logender telah menerapkan rencananya sendiri. Dia menyiapkan unit tentara kecil di bawah kepemimpinan kedua putranya.

         Mereka pergi ke belakang Damar dalam jarak yang jauh sehingga Damar tidak memperhatikan mereka. Mereka pergi secara diam-diam jadi tidak ada yang tahu itu. Tugas mereka bukan untuk melindungi Damar tetapi untuk membunuhnya dan menangkap kepala Menak Jinggo jika dia bisa membunuh Menak Jinggo. Tetapi jika Damar terbunuh maka mereka tidak ada hubungannya.

         Beberapa hari kemudian Damar Wulan tiba di Blambangan. Tentara Majapahit terus memata-matai dia. Mereka terkejut melihat Damar tidak langsung menyerang istana. Dia melamar pekerjaan sebagai gantinya.

         Sekali lagi dia diterima bekerja di istana untuk merawat kuda-kuda. Semua orang termasuk raja Menak Jinggo menyukainya karena dia sangat sopan dan dia melakukan pekerjaannya dengan baik. Dia juga sangat tampan sehingga dua orang istri raja jatuh cinta padanya. Waito dan Puyengan adalah istri Raja Menak Jinggo.

         Saat semua orang mempercayainya, mudah bagi Damar untuk mencari istana. Dia tahu di mana Menak Jinggo tinggal. Suatu malam dia diam-diam melompat ke dinding istana untuk membunuh raja. Akhirnya dia berada di dalam kamar raja.

         Namun sayangnya sang raja siap menyambutnya. Sebuah unit tentara kecil ada di sana untuk menangkapnya. Dia bukan tandingan untuk Menak Jinggo. Tapi Menak Jinggo adalah orang yang pintar. Dia tidak membunuh Damar seketika. Dia ingin mengumpulkan informasi darinya. Jadi dia memerintahkan pengawalnya.

'Jangan bunuh dia. Biarkan dia hidup, perlakukan dia dengan baik. Saya akan menanyainya besok '.

'Ya yang Mulia'

         Dia memerintahkan anak buahnya untuk memperlakukannya dengan baik. Dia bahkan membiarkan Waito dan Puyengan menemui Damar. Dengan melakukan itu dia berharap Damar memberinya informasi yang berharga.

         Tapi Damar juga orang yang pintar. Dia berkencan dengan Waito dan Puyengan dan dia meminta mereka cara untuk membunuh Menak Jinggo. Karena kedua wanita itu mencintai Damar, mereka mengungkapkan sebuah rahasia.

         'Tidak ada yang bisa menyakitinya. Dia adalah pria yang tangguh dan dia dilindungi oleh tuhan. Tuhan memberinya senjata rahasia bernama Wesi Kuning '

'Apa itu?'

         'Itu jimat emas. Itu hanya sebuah jimat kecil, sekecil jempol tetapi sangat kuat. Bentuknya seperti tongkat. Itu disimpan di kamar tidurnya '

         'Dia adalah pria yang berbahaya. Kita harus menghentikannya. Bisakah Anda membantu saya menemukan jimatnya?

'Aku akan membantumu jika kamu menikah denganku'

'Tentu aku akan menikahi kalian berdua segera setelah aku bisa menangkapnya'

         Ketika giliran mereka untuk menghibur raja tiba Waito dan Puyengan bisa masuk ke kamar raja. Mereka menggunakan kesempatan itu untuk mencuri jimat. Kemudian mereka memberikannya kepada Damar Wulan.

         Menak Jinggo tidak menyadari konspirasi mereka. Ketika malam sangat sunyi mereka membuka pintu untuk Damar Wulan. Terjadi perkelahian, tetapi sudah terlambat bagi Menak Jinggo. Serangan mendadak itu tidak memberinya banyak kesempatan untuk bertahan hidup. Akibatnya Damar bisa mengalahkan musuhnya dan Menak Jinggo dipenggal kepalanya.

         Damar Wulan segera meninggalkan istana Blambangan malam itu sambil menjanjikan Waito dan Puyengan untuk kembali setelah ia menerima rewa tersebut.


         Dulu, di daerah di sumatera barat, ada gunung berapi yang sangat aktif bernama Gunung Tinjau. Di satu desa di kaki saudara Tinjau, tinggal sepuluh orang yang terdiri dari sembilan pria dan satu wanita.

         Warga biasa tentang panggilan mereka Bujang Sembilan. Sepuluh bersaudara ini adalah Kukuban, Kudun, Bayua, Malintang, Galapuang, Balok, Batang, Bayang, dan lelaki termuda bernama Kaciak. Sementara saudara laki-laki mereka yang termuda adalah seorang gadis bernama Siti Rasani, yang dijuluki Sani.

         Kedua orang tua mereka sudah lama meninggal, jadi Kukuban sebagai putra sulung menjadi kepala rumah tangga. Semua keputusan ada di tangannya.

         Saudara yang kesepuluh tinggal di rumah warisan orang tua mereka. Untuk memenuhi kebutuhan, mereka bekerja di ladang warisan yang cukup besar dari orang tua mereka. Mereka sangat terampil bertani, karena mereka rajin membantu ayah dan ibunya ketika mereka masih hidup. Selain itu, mereka juga dipandu oleh paman mereka bernama Datuk Limbatang, yang mereka sebut Engku familier.

         Datuk Limbatang adalah seorang mamak di desa dan memiliki seorang putra bernama Giran. Sebagai seorang mamak, Datuk Limbatang memiliki tanggung jawab besar untuk mendidik dan mengawasi kehidupan warganya, termasuk keponakan laki-laki kesepuluh. Untuk itu, setiap hari, ia mengunjungi rumah Kukuban bersaudara untuk mengajari mereka keterampilan bertani dan berbagai prosedur kepabeanan untuk daerah tersebut.

         Tidak jarang Datuk Limbatang juga mengajak istri dan putranya untuk ikut serta dengannya.

Indahnya Danau Maninjau

         Pada suatu hari, ketika Datuk Limbatang bersama istrinya dan mengunjungi rumah Bujang Sembilan, Sani secara tidak sengaja menukar Giran. Ternyata, baik anak laki-laki dan perempuan sama-sama ditempatkan hati.

         Sani diundang untuk bertemu Giran di sebuah ladang di tepi sungai. Dengan hati berdebar, Giran bahkan mengungkapkan perasaannya kepada Sani.

         Datuk Limbatang ingin menikahi putranya dengan Sani. Tetapi kakak laki-laki Sani, Kukuban, tidak setuju karena Giran telah mempermalukannya di arena seni bela diri. Namun akhirnya Datuk Limbatang tidak memaksakan.

         Suatu hari, Giran menemukan mengobati luka di paha Sani. Tetapi orang-orang berpikir mereka melakukan distorsi khusus. Sani dan Garin dibawa ke pengadilan. Mereka berusaha meyakinkan warga bahwa mereka tidak melakukan apa-apa.

         Setelah itu, Giran kedua mengangkat tangannya ke langit dan berdoa. "Ya Tuhan! Tolong dengar dan terimalah doa kita. Jika kita benar-benar bersalah, hancurkan tubuh kita di air panas kawah gunung ini. Namun, jika kita tidak bersalah, gunung ini letuskanlah dan kutukan Bujang Sembilan untuk memancing!"

         Ternyata doa itu dijawab. Sani dan Giran melompat turun dan tenggelam di kawah air. Gunung meletus, Bujang Sembilan menjadi ikan. Seiring waktu, kawah Gunung View melebar dan membentuk danau yang sekarang kita kenal sebagai Danau Maninjau


         Dulu, di daerah di sumatera barat, ada gunung berapi yang sangat aktif bernama Gunung Tinjau. Di satu desa di kaki saudara Tinjau, tinggal sepuluh orang yang terdiri dari sembilan pria dan satu wanita.

         Warga biasa tentang panggilan mereka Bujang Sembilan. Sepuluh bersaudara ini adalah Kukuban, Kudun, Bayua, Malintang, Galapuang, Balok, Batang, Bayang, dan lelaki termuda bernama Kaciak. Sementara saudara laki-laki mereka yang termuda adalah seorang gadis bernama Siti Rasani, yang dijuluki Sani.

         Kedua orang tua mereka sudah lama meninggal, jadi Kukuban sebagai putra sulung menjadi kepala rumah tangga. Semua keputusan ada di tangannya.

         Saudara yang kesepuluh tinggal di rumah warisan orang tua mereka. Untuk memenuhi kebutuhan, mereka bekerja di ladang warisan yang cukup besar dari orang tua mereka. Mereka sangat terampil bertani, karena mereka rajin membantu ayah dan ibunya ketika mereka masih hidup. Selain itu, mereka juga dipandu oleh paman mereka bernama Datuk Limbatang, yang mereka sebut Engku familier.

         Datuk Limbatang adalah seorang mamak di desa dan memiliki seorang putra bernama Giran. Sebagai seorang mamak, Datuk Limbatang memiliki tanggung jawab besar untuk mendidik dan mengawasi kehidupan warganya, termasuk keponakan laki-laki kesepuluh. Untuk itu, setiap hari, ia mengunjungi rumah Kukuban bersaudara untuk mengajari mereka keterampilan bertani dan berbagai prosedur kepabeanan untuk daerah tersebut.

         Tidak jarang Datuk Limbatang juga mengajak istri dan putranya untuk ikut serta dengannya.

Indahnya Danau Maninjau

         Pada suatu hari, ketika Datuk Limbatang bersama istrinya dan mengunjungi rumah Bujang Sembilan, Sani secara tidak sengaja menukar Giran. Ternyata, baik anak laki-laki dan perempuan sama-sama ditempatkan hati.

         Sani diundang untuk bertemu Giran di sebuah ladang di tepi sungai. Dengan hati berdebar, Giran bahkan mengungkapkan perasaannya kepada Sani.

         Datuk Limbatang ingin menikahi putranya dengan Sani. Tetapi kakak laki-laki Sani, Kukuban, tidak setuju karena Giran telah mempermalukannya di arena seni bela diri. Namun akhirnya Datuk Limbatang tidak memaksakan.

         Suatu hari, Giran menemukan mengobati luka di paha Sani. Tetapi orang-orang berpikir mereka melakukan distorsi khusus. Sani dan Garin dibawa ke pengadilan. Mereka berusaha meyakinkan warga bahwa mereka tidak melakukan apa-apa.

         Setelah itu, Giran kedua mengangkat tangannya ke langit dan berdoa. "Ya Tuhan! Tolong dengar dan terimalah doa kita. Jika kita benar-benar bersalah, hancurkan tubuh kita di air panas kawah gunung ini. Namun, jika kita tidak bersalah, gunung ini letuskanlah dan kutukan Bujang Sembilan untuk memancing!"

         Ternyata doa itu dijawab. Sani dan Giran melompat turun dan tenggelam di kawah air. Gunung meletus, Bujang Sembilan menjadi ikan. Seiring waktu, kawah Gunung View melebar dan membentuk danau yang sekarang kita kenal sebagai Danau Maninjau


         Dahulu kala di Jawa Barat ada sebuah kerajaan. Sang raja adalah Prabu Tapak Agung. Dia memiliki dua putri yang cantik dan tidak memiliki putra. Purba Rarang adalah putri pertamanya, dan Purba Sari adalah putri keduanya. Ketika raja hampir meninggal ia menyerahkan tahta pada putri keduanya, Purba Sari.

         Purba Rarang sangat kecewa. Dia berpikir bahwa dia layak menggantikan ayahnya sebagai penguasa. Dia mendiskusikan situasi dengan tunangannya, Indrajaya.

         Lalu dia mendapat ide jahat. Dia meminta seorang penyihir untuk merapal mantra ke Purba Sari. Segera setelah itu Purba Sari mengalami penyakit kulit yang aneh. Ada titik-titik hitam di kulitnya. Dia juga memiliki ruam kulit.

         Akibatnya Purba Rarang memiliki alasan untuk memberitahu orang-orang bahwa saudara perempuannya memiliki dosa besar dan dia dikutuk oleh tuhan. Dia mengatakan kepada orang-orangnya bahwa orang seperti itu tidak memenuhi syarat untuk menjadi seorang pemimpin.

         Setelah itu dia memerintahkan tentara untuk mengirim Purba Sari ke kayu dan diasingkan di sana. Tentara kemudian membangun rumah kayu untuk Purba Sari di hutan. Jadi Purba Sari tinggal di hutan. Karena ada banyak binatang di hutan dia bisa bersama mereka dengan baik.

         Sahabatnya adalah monyet hitam. Dia memanggil monyet Lutung Kasarung. Lutung sangat penuh perhatian dan sangat baik padanya. Dia memberi buah dan sayuran ke Purba Sari.

         Lutung Kasarung bukanlah monyet biasa. Dia sering bermeditasi seperti manusia. Suatu malam ketika ada bulan purnama dia duduk bermeditasi.

         Dia sedang berdoa kepada Tuhan. Tiba-tiba muncul mata air di samping Lutung. Itu menjadi lebih besar dan lebih besar dan akhirnya menjadi danau. Airnya sangat jernih dan aromatik.

         Keesokan harinya Lutung datang untuk melihat Purba Sari. Dia memintanya untuk mengikutinya. Lutung membawanya ke danau dan memintanya untuk mandi.

         Ketika Purba Sari mandi di danau, sesuatu yang aneh terjadi. Penyakit kulitnya hilang dan kulitnya yang halus mulus kembali. Purba Sari sangat bahagia dan bersyukur kepada Tuhan.

         Sementara Purba Rarang yang tinggal di istana ingin melihat saudara perempuannya. Jadi dia pergi ke hutan dengan prajuritnya. Dia sangat terkejut ketika melihat Purba Sari dalam kondisi baik dan terlihat cantik.

         Hatinya yang jahat membimbingnya untuk menemukan cara untuk mengalahkan saudara perempuannya. Kemudian dia meminta saudara perempuannya untuk mengukur panjang rambut mereka. Orang yang memiliki rambut terpanjang akan menang. Rambut Purba Sari terbukti lebih panjang dari Purba Rarang.

         Purba Rarang sangat cemburu kepada saudara perempuannya. Dia berpikir keras untuk menemukan cara mengalahkan Purba Sari. Lalu dia mendapat ide lain. Dia meminta saudara perempuannya untuk membandingkan tunangan mereka.

         Purba Rarang yakin dia akan menang karena Indra Jaya sangat tampan. Dia yakin bahwa Purba Sari tidak memiliki tunangan. Ketika Purba Rarang menunjukkan Indra Jaya, Purba Sari bingung. Jadi dia hanya menunjuk Lutung Kasarung sebagai tunangannya.

Purba Rarang tertawa terbahak-bahak.

"Jadi tunanganmu monyet?"

         Lutung Kasarung lalu duduk di tanah. Dia sedang bermeditasi dan berdoa kepada Tuhan. Kemudian luar biasa dia berubah menjadi pria yang sangat tampan. Awalnya Lutung Kasarung adalah pria tampan yang dihukum oleh Tuhan dan menjadi seekor monyet.

         Setelah beberapa tahun hari itu dia mendapat grasi dari Tuhan dan dia menjadi manusia lagi.

         Purba Rarang sangat terkejut. Dia tidak punya pilihan selain menerima bahwa kakaknya lebih baik darinya. Dia meminta maaf. Purba Sari memberikan permintaan maafnya. Setelah itu mereka kembali ke istana. Purba Sari menjadi ratu dan menikah dengan Lutung Kasarung.


         Dahulu kala di Jawa Barat ada sebuah kerajaan. Sang raja adalah Prabu Tapak Agung. Dia memiliki dua putri yang cantik dan tidak memiliki putra. Purba Rarang adalah putri pertamanya, dan Purba Sari adalah putri keduanya. Ketika raja hampir meninggal ia menyerahkan tahta pada putri keduanya, Purba Sari.

         Purba Rarang sangat kecewa. Dia berpikir bahwa dia layak menggantikan ayahnya sebagai penguasa. Dia mendiskusikan situasi dengan tunangannya, Indrajaya.

         Lalu dia mendapat ide jahat. Dia meminta seorang penyihir untuk merapal mantra ke Purba Sari. Segera setelah itu Purba Sari mengalami penyakit kulit yang aneh. Ada titik-titik hitam di kulitnya. Dia juga memiliki ruam kulit.

         Akibatnya Purba Rarang memiliki alasan untuk memberitahu orang-orang bahwa saudara perempuannya memiliki dosa besar dan dia dikutuk oleh tuhan. Dia mengatakan kepada orang-orangnya bahwa orang seperti itu tidak memenuhi syarat untuk menjadi seorang pemimpin.

         Setelah itu dia memerintahkan tentara untuk mengirim Purba Sari ke kayu dan diasingkan di sana. Tentara kemudian membangun rumah kayu untuk Purba Sari di hutan. Jadi Purba Sari tinggal di hutan. Karena ada banyak binatang di hutan dia bisa bersama mereka dengan baik.

         Sahabatnya adalah monyet hitam. Dia memanggil monyet Lutung Kasarung. Lutung sangat penuh perhatian dan sangat baik padanya. Dia memberi buah dan sayuran ke Purba Sari.

         Lutung Kasarung bukanlah monyet biasa. Dia sering bermeditasi seperti manusia. Suatu malam ketika ada bulan purnama dia duduk bermeditasi.

         Dia sedang berdoa kepada Tuhan. Tiba-tiba muncul mata air di samping Lutung. Itu menjadi lebih besar dan lebih besar dan akhirnya menjadi danau. Airnya sangat jernih dan aromatik.

         Keesokan harinya Lutung datang untuk melihat Purba Sari. Dia memintanya untuk mengikutinya. Lutung membawanya ke danau dan memintanya untuk mandi.

         Ketika Purba Sari mandi di danau, sesuatu yang aneh terjadi. Penyakit kulitnya hilang dan kulitnya yang halus mulus kembali. Purba Sari sangat bahagia dan bersyukur kepada Tuhan.

         Sementara Purba Rarang yang tinggal di istana ingin melihat saudara perempuannya. Jadi dia pergi ke hutan dengan prajuritnya. Dia sangat terkejut ketika melihat Purba Sari dalam kondisi baik dan terlihat cantik.

         Hatinya yang jahat membimbingnya untuk menemukan cara untuk mengalahkan saudara perempuannya. Kemudian dia meminta saudara perempuannya untuk mengukur panjang rambut mereka. Orang yang memiliki rambut terpanjang akan menang. Rambut Purba Sari terbukti lebih panjang dari Purba Rarang.

         Purba Rarang sangat cemburu kepada saudara perempuannya. Dia berpikir keras untuk menemukan cara mengalahkan Purba Sari. Lalu dia mendapat ide lain. Dia meminta saudara perempuannya untuk membandingkan tunangan mereka.

         Purba Rarang yakin dia akan menang karena Indra Jaya sangat tampan. Dia yakin bahwa Purba Sari tidak memiliki tunangan. Ketika Purba Rarang menunjukkan Indra Jaya, Purba Sari bingung. Jadi dia hanya menunjuk Lutung Kasarung sebagai tunangannya.

Purba Rarang tertawa terbahak-bahak.

"Jadi tunanganmu monyet?"

         Lutung Kasarung lalu duduk di tanah. Dia sedang bermeditasi dan berdoa kepada Tuhan. Kemudian luar biasa dia berubah menjadi pria yang sangat tampan. Awalnya Lutung Kasarung adalah pria tampan yang dihukum oleh Tuhan dan menjadi seekor monyet.

         Setelah beberapa tahun hari itu dia mendapat grasi dari Tuhan dan dia menjadi manusia lagi.

         Purba Rarang sangat terkejut. Dia tidak punya pilihan selain menerima bahwa kakaknya lebih baik darinya. Dia meminta maaf. Purba Sari memberikan permintaan maafnya. Setelah itu mereka kembali ke istana. Purba Sari menjadi ratu dan menikah dengan Lutung Kasarung.


           Banyuwangi adalah nama sebuah kabupaten di provinsi Jawa Timur, Indonesia. Terletak di bagian paling utara dari pulau Jawa, di samping Bali. Selat Bali adalah antara Banyuwangi dan pulau Bali.

           Budaya Banyuwangi adalah unik karena merupakan perpaduan pengaruh Jawa, Bali dan Madura. Inilah legenda terkenal tentang Banyuwangi.

           Lama-lama Banyuwangi disebut Blambangan. Itu adalah sebuah kerajaan di bawah raja yang bijaksana yang memiliki seorang putra yang tampan dan cerdas. Raden Banterang adalah namanya. Dia suka berburu sangat banyak.

           Dia sering pergi ke hutan di sekitar Blambangan untuk berburu binatang. Suatu hari ketika dia berada di hutan dia melihat seekor rusa. Dia mengejarnya dan rusa berlari lebih dalam ke hutan. Kudanya sangat bagus dan kuat sehingga dia meninggalkan pengawalnya di belakang. Sayangnya dia kehilangan rusa itu.

           Saat dia beristirahat di bawah pohon beringin besar tiba-tiba seorang wanita cantik muncul di depannya. Raden Banterang sangat terkejut melihat seorang gadis cantik sendirian di hutan. Dia curiga bahwa dia bukan manusia. Jadi dia bertanya padanya.

'Maafkan saya, wanita cantik, apakah Anda tinggal di sekitar sini?'

           'Tidak, saya tidak. Saya dari Klungkung, Bali. Nama saya Surati. Saya seorang putri, putri raja Klungkung. Saya membutuhkan bantuan Anda'

"Aku akan dengan senang hati membantu Anda, tapi tolong katakan padaku apa masalahmu adalah '

           "Aku dalam bahaya. Terjadi pemberontakan di Klungkung. Pemberontak itu membunuh ayah saya tetapi saya bisa melarikan diri. Penjaga saya membawa saya ke sini tetapi saya kehilangan mereka. Sekarang saya sendiri. Saya tidak tahu ke mana harus pergi. Saya tidak memiliki saudara di sini. Tolong bantu aku'
         
           'Anda datang ke orang yang tepat. Saya pangeran Banterang dari kerajaan Blambangan. Aku akan melindungimu. Silakan ikut saya. '

           Kemudian Raden Banterang membawa pulang Surati. Dia jatuh cinta padanya dan kemudian beberapa bulan kemudian dia menikahinya. Suatu hari ketika Surati berada di jalan dia bertemu seorang pria. Pria itu memanggilnya.

'Surati, Surati'

           Dia terkejut ketika menyadari bahwa lelaki itu adalah saudara laki-lakinya Rupaksa. Rupaksa mengatakan kepadanya bahwa itu adalah Raden Banterang yang membunuh ayah mereka. Dia datang ke Blambangan untuk membalas dendam dan meminta surati untuk bergabung dengannya. Surati terkejut tetapi dia menolak untuk bergabung.

           'Saya benar-benar terkejut mendengar berita itu. Tapi saya tidak yakin. Raden Banterang sekarang adalah suamiku. Dia sangat baik padaku. Dia tidak pernah menyakitiku. Dia melindungiku. Sebagai istri yang baik, saya tidak akan pernah mengkhianatinya. Adalah tugas saya untuk melayaninya. '

'Tapi dia membunuh ayah kita'.

           'Sulit bagiku untuk mempercayainya. Ketika saya bertemu dengannya dia ada di sini, tidak di Klungkung '

Rupaksa kecewa dengan saudara perempuannya. Dia juga sangat marah padanya.

           Baiklah kalau begitu. Aku harus pergi sekarang. Tapi tolong jaga kepalaku. Taruh di bawah bantal Anda '

           Rupaksa memberikan gaun kepalanya kepada saudara perempuannya, Surati. Untuk menghormati kakaknya, Surati meletakkannya di bawah bantalnya. Beberapa hari kemudian Raden Banterang sedang berburu di hutan ketika dia bertemu dengan seorang lelaki yang terlihat seperti seorang pendeta. Pria itu menyambutnya dengan sopan. Lalu dia mengatakan sesuatu.

'Hidupmu dalam bahaya. Seseorang memiliki niat jahat kepada Anda '

'Siapa dia?'

"Istrimu Surati '

"Surati? Bagaimana kamu tahu?"

           'Saya seorang pendeta. Saya memiliki visi spiritual yang jelas. Saya hanya ingin menyelamatkan Anda. Cari kamarnya. Jika Anda menemukan gaun kepala di bawah bantal, maka kata-kata saya benar. Ini dari seorang pria yang akan membantunya membunuhmu '

'Terima kasih, Yang Mulia'

           Raden Banterang kaget. Dia sangat marah kepada istrinya, maka dia segera pulang ke rumah. Ketika sampai di istana, dia segera mencari kamar tidur Surati. Ketika dia menemukan gaun kepala di bawah bantalnya, dia yakin pastor itu benar.

           'Kamu adalah istri yang tidak setia. Saya tahu bahwa Anda menginginkan saya mati. Ini adalah buktinya. Ini dari seorang pria yang akan membantumu membunuhku. Katakan padaku siapa dia '

Surati kaget dan menangis.

          ' Ini adalah gaun kepala kakakku. Saya bertemu dengannya beberapa hari yang lalu ketika Anda pergi berburu. Dia memberi saya gaun kepalanya dan menyuruh saya meletakkannya di bawah bantal saya. Jadi saya menaruhnya di sana untuk menghormatinya. Itu dia yang ingin membunuhmu, bukan aku '

           Tetapi Raden Banterang tidak memercayainya. Dia memberinya hukuman mati. Dia membawa istrinya ke tepi sungai karena dia akan menikam istrinya dan membuang tubuhnya ke sungai.

'Sebelum aku mati, izinkan saya mengucapkan beberapa kata'

'Silakan lakukan'

           'Setelah aku mati, buang saja tubuhku ke sungai. Jika air menjadi kotor dan bau, itu artinya saya bersalah. Tetapi jika air menjadi jernih dan harum keluar darinya, itu berarti saya tidak bersalah '.

           Kemudian ketika Raden Banterang menikam istrinya dengan keris, Surati melemparkan dirinya ke sungai. Hebatnya air menjadi jernih dan harum keluar darinya. Surati tidak bersalah! Raden Banterang menyesali perilaku emosinya. Sejak saat itu ia mengubah nama kerajaannya menjadi Banyuwangi. Banyu berarti aroma air dan Wangi Menas.


           Banyuwangi adalah nama sebuah kabupaten di provinsi Jawa Timur, Indonesia. Terletak di bagian paling utara dari pulau Jawa, di samping Bali. Selat Bali adalah antara Banyuwangi dan pulau Bali.

           Budaya Banyuwangi adalah unik karena merupakan perpaduan pengaruh Jawa, Bali dan Madura. Inilah legenda terkenal tentang Banyuwangi.

           Lama-lama Banyuwangi disebut Blambangan. Itu adalah sebuah kerajaan di bawah raja yang bijaksana yang memiliki seorang putra yang tampan dan cerdas. Raden Banterang adalah namanya. Dia suka berburu sangat banyak.

           Dia sering pergi ke hutan di sekitar Blambangan untuk berburu binatang. Suatu hari ketika dia berada di hutan dia melihat seekor rusa. Dia mengejarnya dan rusa berlari lebih dalam ke hutan. Kudanya sangat bagus dan kuat sehingga dia meninggalkan pengawalnya di belakang. Sayangnya dia kehilangan rusa itu.

           Saat dia beristirahat di bawah pohon beringin besar tiba-tiba seorang wanita cantik muncul di depannya. Raden Banterang sangat terkejut melihat seorang gadis cantik sendirian di hutan. Dia curiga bahwa dia bukan manusia. Jadi dia bertanya padanya.

'Maafkan saya, wanita cantik, apakah Anda tinggal di sekitar sini?'

           'Tidak, saya tidak. Saya dari Klungkung, Bali. Nama saya Surati. Saya seorang putri, putri raja Klungkung. Saya membutuhkan bantuan Anda'

"Aku akan dengan senang hati membantu Anda, tapi tolong katakan padaku apa masalahmu adalah '

           "Aku dalam bahaya. Terjadi pemberontakan di Klungkung. Pemberontak itu membunuh ayah saya tetapi saya bisa melarikan diri. Penjaga saya membawa saya ke sini tetapi saya kehilangan mereka. Sekarang saya sendiri. Saya tidak tahu ke mana harus pergi. Saya tidak memiliki saudara di sini. Tolong bantu aku'
         
           'Anda datang ke orang yang tepat. Saya pangeran Banterang dari kerajaan Blambangan. Aku akan melindungimu. Silakan ikut saya. '

           Kemudian Raden Banterang membawa pulang Surati. Dia jatuh cinta padanya dan kemudian beberapa bulan kemudian dia menikahinya. Suatu hari ketika Surati berada di jalan dia bertemu seorang pria. Pria itu memanggilnya.

'Surati, Surati'

           Dia terkejut ketika menyadari bahwa lelaki itu adalah saudara laki-lakinya Rupaksa. Rupaksa mengatakan kepadanya bahwa itu adalah Raden Banterang yang membunuh ayah mereka. Dia datang ke Blambangan untuk membalas dendam dan meminta surati untuk bergabung dengannya. Surati terkejut tetapi dia menolak untuk bergabung.

           'Saya benar-benar terkejut mendengar berita itu. Tapi saya tidak yakin. Raden Banterang sekarang adalah suamiku. Dia sangat baik padaku. Dia tidak pernah menyakitiku. Dia melindungiku. Sebagai istri yang baik, saya tidak akan pernah mengkhianatinya. Adalah tugas saya untuk melayaninya. '

'Tapi dia membunuh ayah kita'.

           'Sulit bagiku untuk mempercayainya. Ketika saya bertemu dengannya dia ada di sini, tidak di Klungkung '

Rupaksa kecewa dengan saudara perempuannya. Dia juga sangat marah padanya.

           Baiklah kalau begitu. Aku harus pergi sekarang. Tapi tolong jaga kepalaku. Taruh di bawah bantal Anda '

           Rupaksa memberikan gaun kepalanya kepada saudara perempuannya, Surati. Untuk menghormati kakaknya, Surati meletakkannya di bawah bantalnya. Beberapa hari kemudian Raden Banterang sedang berburu di hutan ketika dia bertemu dengan seorang lelaki yang terlihat seperti seorang pendeta. Pria itu menyambutnya dengan sopan. Lalu dia mengatakan sesuatu.

'Hidupmu dalam bahaya. Seseorang memiliki niat jahat kepada Anda '

'Siapa dia?'

"Istrimu Surati '

"Surati? Bagaimana kamu tahu?"

           'Saya seorang pendeta. Saya memiliki visi spiritual yang jelas. Saya hanya ingin menyelamatkan Anda. Cari kamarnya. Jika Anda menemukan gaun kepala di bawah bantal, maka kata-kata saya benar. Ini dari seorang pria yang akan membantunya membunuhmu '

'Terima kasih, Yang Mulia'

           Raden Banterang kaget. Dia sangat marah kepada istrinya, maka dia segera pulang ke rumah. Ketika sampai di istana, dia segera mencari kamar tidur Surati. Ketika dia menemukan gaun kepala di bawah bantalnya, dia yakin pastor itu benar.

           'Kamu adalah istri yang tidak setia. Saya tahu bahwa Anda menginginkan saya mati. Ini adalah buktinya. Ini dari seorang pria yang akan membantumu membunuhku. Katakan padaku siapa dia '

Surati kaget dan menangis.

          ' Ini adalah gaun kepala kakakku. Saya bertemu dengannya beberapa hari yang lalu ketika Anda pergi berburu. Dia memberi saya gaun kepalanya dan menyuruh saya meletakkannya di bawah bantal saya. Jadi saya menaruhnya di sana untuk menghormatinya. Itu dia yang ingin membunuhmu, bukan aku '

           Tetapi Raden Banterang tidak memercayainya. Dia memberinya hukuman mati. Dia membawa istrinya ke tepi sungai karena dia akan menikam istrinya dan membuang tubuhnya ke sungai.

'Sebelum aku mati, izinkan saya mengucapkan beberapa kata'

'Silakan lakukan'

           'Setelah aku mati, buang saja tubuhku ke sungai. Jika air menjadi kotor dan bau, itu artinya saya bersalah. Tetapi jika air menjadi jernih dan harum keluar darinya, itu berarti saya tidak bersalah '.

           Kemudian ketika Raden Banterang menikam istrinya dengan keris, Surati melemparkan dirinya ke sungai. Hebatnya air menjadi jernih dan harum keluar darinya. Surati tidak bersalah! Raden Banterang menyesali perilaku emosinya. Sejak saat itu ia mengubah nama kerajaannya menjadi Banyuwangi. Banyu berarti aroma air dan Wangi Menas.

Most Viewed

► RECOMMENDED

CopyRight © 2016 DongengLah | BLOG RIEZKYAA RK | R.K | RIZKY KUSWARA |