Selasa, 05 Februari 2019



         Hiduplah seekor bangau di tepi danau besar. Dia biasa menangkap ikan dan memakannya. Tapi dia sudah menjadi tua dan tidak bisa menangkap ikan seperti sebelumnya. Dia pergi tanpa makanan selama beberapa hari bersama.

        “Aku harus memikirkan sebuah rencana. Kalau tidak, saya tidak akan hidup lama, "pikir bangau. Segera dia keluar dengan rencana yang cerdas. Bangau duduk di tepi air tampak tertekan dan penuh perhatian. Di danau yang sama hidup seekor kepiting yang ramah dan penuh perhatian. Setelah lewat, dia memperhatikan bagaimana bangau itu memandang dan bertanya kepadanya, "Mengapa kamu tampak tertekan teman saya?"

        "Apa yang bisa saya katakan," kata bangau dengan suara sedih. "Sesuatu yang mengerikan akan terjadi."

"Apa itu?" Tanya kepiting dengan cemas.

        “Ketika saya sedang dalam perjalanan ke sini pagi ini, saya mendengar seorang peramal mengatakan bahwa tidak akan ada hujan di bagian ini selama dua belas tahun ke depan. Danau akan mengering dan kita semua akan mati. Saya sudah cukup tua. Tidak masalah jika saya mati. Tapi kalian semua masih sangat muda. Ada begitu banyak untuk Anda lihat dan nikmati, "kata bangau.

         Kepiting pergi ke ikan-ikan di danau dan memberi tahu mereka apa yang dikatakan bangau kepadanya. Mereka semua dipenuhi ketakutan. "O tidak! Apa yang kita lakukan? Kita semua akan mati, "teriak mereka.

          “Ada danau yang sangat besar agak jauh dari sini. Saya bisa membawa kalian semua ke sana satu per satu. "Kuntul Bangau. Semua ikan terhibur dan mereka sepakat untuk dibawa ke danau yang lebih besar satu per satu.

          Setiap hari, bangau akan menerbangkan ikan satu per satu. Dia akan memegang satu dengan hati-hati di antara paruhnya yang panjang dan terbang menjauh. Tetapi alih-alih membawa mereka ke danau mana pun, ia akan mendarat di atas batu agak jauh dan memakannya. Kemudian dia akan beristirahat sampai malam dan kembali ke danau.

          Setelah beberapa hari, kepiting naik ke bangau. "Kamu membawa ikan-ikan itu ke danau yang lain. Kapan Anda akan membawa saya? "Tanyanya.

          Bangau berpikir, “Aku bosan makan ikan. Daging kepiting harus menjadi perubahan yang menyenangkan. "

Bangau setuju untuk membawa kepiting ke danau lainnya.

          Tetapi kepiting itu terlalu besar untuk dibawa oleh burung bangau di paruhnya. Jadi, kepiting naik ke punggung bangau dan mereka memulai perjalanan. Setelah beberapa saat, kepiting itu menjadi tidak sabar.

"Seberapa jauh danau itu?" Tanyanya pada bangau.

         "Kamu bodoh," tawa bangau. "Aku tidak akan membawamu ke danau mana pun. Aku akan menghancurkanmu di bebatuan itu dan memakanmu seperti aku memakan semua ikan itu."

"Aku bukan orang bodoh membiarkanmu membunuhku," kata kepiting.

Dia memegang leher bangau di cakarnya yang kuat dan mencekik bangau jahat itu sampai mati.


         Hiduplah seekor bangau di tepi danau besar. Dia biasa menangkap ikan dan memakannya. Tapi dia sudah menjadi tua dan tidak bisa menangkap ikan seperti sebelumnya. Dia pergi tanpa makanan selama beberapa hari bersama.

        “Aku harus memikirkan sebuah rencana. Kalau tidak, saya tidak akan hidup lama, "pikir bangau. Segera dia keluar dengan rencana yang cerdas. Bangau duduk di tepi air tampak tertekan dan penuh perhatian. Di danau yang sama hidup seekor kepiting yang ramah dan penuh perhatian. Setelah lewat, dia memperhatikan bagaimana bangau itu memandang dan bertanya kepadanya, "Mengapa kamu tampak tertekan teman saya?"

        "Apa yang bisa saya katakan," kata bangau dengan suara sedih. "Sesuatu yang mengerikan akan terjadi."

"Apa itu?" Tanya kepiting dengan cemas.

        “Ketika saya sedang dalam perjalanan ke sini pagi ini, saya mendengar seorang peramal mengatakan bahwa tidak akan ada hujan di bagian ini selama dua belas tahun ke depan. Danau akan mengering dan kita semua akan mati. Saya sudah cukup tua. Tidak masalah jika saya mati. Tapi kalian semua masih sangat muda. Ada begitu banyak untuk Anda lihat dan nikmati, "kata bangau.

         Kepiting pergi ke ikan-ikan di danau dan memberi tahu mereka apa yang dikatakan bangau kepadanya. Mereka semua dipenuhi ketakutan. "O tidak! Apa yang kita lakukan? Kita semua akan mati, "teriak mereka.

          “Ada danau yang sangat besar agak jauh dari sini. Saya bisa membawa kalian semua ke sana satu per satu. "Kuntul Bangau. Semua ikan terhibur dan mereka sepakat untuk dibawa ke danau yang lebih besar satu per satu.

          Setiap hari, bangau akan menerbangkan ikan satu per satu. Dia akan memegang satu dengan hati-hati di antara paruhnya yang panjang dan terbang menjauh. Tetapi alih-alih membawa mereka ke danau mana pun, ia akan mendarat di atas batu agak jauh dan memakannya. Kemudian dia akan beristirahat sampai malam dan kembali ke danau.

          Setelah beberapa hari, kepiting naik ke bangau. "Kamu membawa ikan-ikan itu ke danau yang lain. Kapan Anda akan membawa saya? "Tanyanya.

          Bangau berpikir, “Aku bosan makan ikan. Daging kepiting harus menjadi perubahan yang menyenangkan. "

Bangau setuju untuk membawa kepiting ke danau lainnya.

          Tetapi kepiting itu terlalu besar untuk dibawa oleh burung bangau di paruhnya. Jadi, kepiting naik ke punggung bangau dan mereka memulai perjalanan. Setelah beberapa saat, kepiting itu menjadi tidak sabar.

"Seberapa jauh danau itu?" Tanyanya pada bangau.

         "Kamu bodoh," tawa bangau. "Aku tidak akan membawamu ke danau mana pun. Aku akan menghancurkanmu di bebatuan itu dan memakanmu seperti aku memakan semua ikan itu."

"Aku bukan orang bodoh membiarkanmu membunuhku," kata kepiting.

Dia memegang leher bangau di cakarnya yang kuat dan mencekik bangau jahat itu sampai mati.

Sabtu, 02 Februari 2019


         Di Tengah Hutan hidup Seekor kancil yang pintar Dan cerdas.Dia hidup Didalam Sebuah Goa Yang Besar Yang berada di tengah hutan.Lalu suatu ketika datanglah Seekor Musang yang besar kehadapan Kancil.Musang yang rakus itu Memanggil Kancil." Hei Kancil Apa Kabar ?? " Tanya musang kepada Kancil. Kancil Yang Sedang Berbaring di dalam Goa Nya Pun Menjawab." Kabar Baik Musang Kawanku".

         Lalu Kancil Bertanya Kepada Musang , " Ada Yang Membuatmu Kemarin Kawanku !" Dengan Sambil Menangis Musang Itu Menjawab " Wahai Kawanku Aku datang Ke Sini Untuk Minta Bantu Kepadamu" Lalu Kancil Yang Cerdas Itu Bertanya Ada Apa Teman LamaKu." kemarin Tempat Tinggal Ku Telah Terbakar Oleh Sebab Petir yang Membakar Sarang ku.

          Apa Itu telah Menghanguskan Semua Persediaaan Makan ku dan Tempat Tinggalku."Kasih Sekali Dirimu kawanku".Faktanya Musang itu Ternyata Berbohong Kepada Kancil, Tapi Kancil Tidak Menyadari Itu.Dengan Polosnya Kancil , Silahkan Kamu Tinggal dengan Ku saja Temanku.

           Aku Tak Keberatan Kamu Tinggal Si Sini.Setelah Sebulan Tinggal Bersamanya,Si Kancil Merasa Sedikit Merasa Tidak Suka Kelakuaan Musang.Karna Selama Dia Tingggal dengan kancil Dia Tidak pernah mencari Makan.

           Dia meMakan Hasil Carian Kancil yang Tiap Hari Dikumpulkan nya Di Goanya.Lalu Suatu Ketika Kancil Bertanya Kepada Musang." Musang kenapa selama kamu tinggal Bersamaku ,Kau Tak Mencari Makan." Musang Menjawab " Aku Lagi Malas Kawanku ." Oh Begitu Ya..Jawab Kancil.Kancil Yang Baik Hati Itu Tak Mempermasalahkannya Lagi.

          Lalu Pada Suatu Hari Kancil sedang mencari makan di Tepian sungai.Ia Melihat seeekor Harimau yang besar, Harimau itu pun melihat Kancil.Dengan Tak berpikir panjang Kancil dengan cepat lari ke Goa Tempat Tinggalnya.

          Sambil Berteriak "Tolong..tolong Musang.Di belakang kancil Ternyata Harimau mengikuti dengan Rasa lapar.Si Musang Mendengar Teriakkan Minta Tolong Si Kancil.Dengan Cepat Dia Keluar Goa untuk melihat apa yang Terjadi.

         Alangkah terkejutnya Musang melihat Harimau Besar di hadapan nya dan di hadapan Kancil.

       Harimau Besar yang kelaparan Itu Udah Hampir Memakan Kancil, Dengan Cepat Musang Menggigit Ekor Si Harimau Itu.

         Harimau Itu Mengaum Kesakitan, Lalu Menghampaskan Musang yang Menggigit Ekornya.Musang itu Lalu Terlempar Jauh Dari Harimau.Seketika Harimau itu malah menyerang Musang .Kancil yang melihat itu lalu berteriak Kepada musang , " Awas Musang "

       Musang itu terbangun Dan Berkata " Cepat Lari Kancil , Cepat Lari Biarkan Aku Menghambatnya Di Sini." Aku Tidak Mau kata Si Kancil, Kau Adalah Kawanku.Aku Tak kan Meninggalkan Mu Disini.

       Harimau Yang kelaparan Dengan cepat Menerkan Musang Dengan Kedua Cakarnya,Seketika Musang sudah di bawah Kaki Harimau yang besar itu." Cepat lari Kancil , Pergilah yang jauh Dari Sini."

       Mendengarkan Ucapan Itu dan keadaan Yang semakin Mengerikan Kancil Pun Pergi jauh dari Goa nya Sambil Menangis Untuk Menyelamatkan Diri.

     Merasa Telah jauh Berlari dan merasa Kecapeaan Kancil pun berhenti Untuk Istirahat.Dia Merasa Sedih Kenapa Dia Meninggalkan Musang, Yang Dalam Bahaya.Setelah Beberapa Lama Kancil Kembali Lagi Ke Sarangnya , Dia Semakin Sedih Dia Tidak melihat Musang di manapun.

      Dia Hanya Menangis Di dalam Goanya karna Tak Dapat Menolong kawannnya Itu.Musang yang Sudah di makan Harimau Dengan Baiknya Merelakkan dirinya untuk membantu Kancil Agar Terhindar Dari Harimau.

         Di Tengah Hutan hidup Seekor kancil yang pintar Dan cerdas.Dia hidup Didalam Sebuah Goa Yang Besar Yang berada di tengah hutan.Lalu suatu ketika datanglah Seekor Musang yang besar kehadapan Kancil.Musang yang rakus itu Memanggil Kancil." Hei Kancil Apa Kabar ?? " Tanya musang kepada Kancil. Kancil Yang Sedang Berbaring di dalam Goa Nya Pun Menjawab." Kabar Baik Musang Kawanku".

         Lalu Kancil Bertanya Kepada Musang , " Ada Yang Membuatmu Kemarin Kawanku !" Dengan Sambil Menangis Musang Itu Menjawab " Wahai Kawanku Aku datang Ke Sini Untuk Minta Bantu Kepadamu" Lalu Kancil Yang Cerdas Itu Bertanya Ada Apa Teman LamaKu." kemarin Tempat Tinggal Ku Telah Terbakar Oleh Sebab Petir yang Membakar Sarang ku.

          Apa Itu telah Menghanguskan Semua Persediaaan Makan ku dan Tempat Tinggalku."Kasih Sekali Dirimu kawanku".Faktanya Musang itu Ternyata Berbohong Kepada Kancil, Tapi Kancil Tidak Menyadari Itu.Dengan Polosnya Kancil , Silahkan Kamu Tinggal dengan Ku saja Temanku.

           Aku Tak Keberatan Kamu Tinggal Si Sini.Setelah Sebulan Tinggal Bersamanya,Si Kancil Merasa Sedikit Merasa Tidak Suka Kelakuaan Musang.Karna Selama Dia Tingggal dengan kancil Dia Tidak pernah mencari Makan.

           Dia meMakan Hasil Carian Kancil yang Tiap Hari Dikumpulkan nya Di Goanya.Lalu Suatu Ketika Kancil Bertanya Kepada Musang." Musang kenapa selama kamu tinggal Bersamaku ,Kau Tak Mencari Makan." Musang Menjawab " Aku Lagi Malas Kawanku ." Oh Begitu Ya..Jawab Kancil.Kancil Yang Baik Hati Itu Tak Mempermasalahkannya Lagi.

          Lalu Pada Suatu Hari Kancil sedang mencari makan di Tepian sungai.Ia Melihat seeekor Harimau yang besar, Harimau itu pun melihat Kancil.Dengan Tak berpikir panjang Kancil dengan cepat lari ke Goa Tempat Tinggalnya.

          Sambil Berteriak "Tolong..tolong Musang.Di belakang kancil Ternyata Harimau mengikuti dengan Rasa lapar.Si Musang Mendengar Teriakkan Minta Tolong Si Kancil.Dengan Cepat Dia Keluar Goa untuk melihat apa yang Terjadi.

         Alangkah terkejutnya Musang melihat Harimau Besar di hadapan nya dan di hadapan Kancil.

       Harimau Besar yang kelaparan Itu Udah Hampir Memakan Kancil, Dengan Cepat Musang Menggigit Ekor Si Harimau Itu.

         Harimau Itu Mengaum Kesakitan, Lalu Menghampaskan Musang yang Menggigit Ekornya.Musang itu Lalu Terlempar Jauh Dari Harimau.Seketika Harimau itu malah menyerang Musang .Kancil yang melihat itu lalu berteriak Kepada musang , " Awas Musang "

       Musang itu terbangun Dan Berkata " Cepat Lari Kancil , Cepat Lari Biarkan Aku Menghambatnya Di Sini." Aku Tidak Mau kata Si Kancil, Kau Adalah Kawanku.Aku Tak kan Meninggalkan Mu Disini.

       Harimau Yang kelaparan Dengan cepat Menerkan Musang Dengan Kedua Cakarnya,Seketika Musang sudah di bawah Kaki Harimau yang besar itu." Cepat lari Kancil , Pergilah yang jauh Dari Sini."

       Mendengarkan Ucapan Itu dan keadaan Yang semakin Mengerikan Kancil Pun Pergi jauh dari Goa nya Sambil Menangis Untuk Menyelamatkan Diri.

     Merasa Telah jauh Berlari dan merasa Kecapeaan Kancil pun berhenti Untuk Istirahat.Dia Merasa Sedih Kenapa Dia Meninggalkan Musang, Yang Dalam Bahaya.Setelah Beberapa Lama Kancil Kembali Lagi Ke Sarangnya , Dia Semakin Sedih Dia Tidak melihat Musang di manapun.

      Dia Hanya Menangis Di dalam Goanya karna Tak Dapat Menolong kawannnya Itu.Musang yang Sudah di makan Harimau Dengan Baiknya Merelakkan dirinya untuk membantu Kancil Agar Terhindar Dari Harimau.

Minggu, 27 Januari 2019


              Pada sutu hari di sebuah peternakan, tinggalah seorang anak gembala. Dia biasa menggembalakan dombanya di sebuah padang rumput. Tapi serigala sering datang dan memangsa domba-domba yang di gembalakanya.

             Akhirnya tinggal satu anak kambing saja yang dia miliki. Merasa butuh bantuan, anak itu memutuskan untuk pergi ke desa yang berada di pinggir hutan untuk mencari petolongan menghadapi serigala-serigala itu. Karena jika terus di biarkan, maka peternakanya tak akan dapat di gunakan lagi karena tak aman. 

            Sementara dia pergi, dia menaruh anak kambingnya yang tinggal satu ekor di atas atap. Tujuanya agar anak kambing itu aman selama kepergianya. Tak lupa dia juga menyiapkan rumput di samping anak kambing itu.

            Setelah anak gembala itu pergi, para kawanan serigala datang lagi ke area peternakan. Merasa aman karena tak ada orang, mereka dengan leluasa memasuki area peternakan dan menjelajah dari satu gudang ke gudang yang lain. 

            Tapi mereka sedikit kecewa, karena mereka tak mendapati apa-apa. Waktu itu bertepatan si anak kambing yang berada di atas atap ingin memakan rumput yang di taruh di pinggir atap itu. Melihat para serigala yang datang, anak kambing itu melihat mereka sejenak. “ Ah, mereka itu bodoh. Tak mungkin mereka bisa naik ke atas sini”. Fikir anak kambing itu.

            Merasa dirinya aman, anak kambing itu bukanya bersembunyi malah memanggil para serigala itu. Tentu saja para serigala langsung mendatangi dan berkerumun di bawahnya. Tapi karena anak kambing itu merasa aman berada di atas atap, malah muncul sifat sombongnya dan mengejek para serigala yang ada di bawahnya. 

            Para serigala hanya diam saja, seakan ada yang mereka tunggu. Tak sepatah kata pun mereka ucapkan untuk membalas anak kambing itu. Akhirnya karena lelah berteriak mengejek para serigala, anak kambing itu merasa lapar. Dan dia berniat memakan rumput yang berada di pinggir atap. Tapi sial, karena dia ceroboh akhirnya anak kambing itu terpeleset dan jatuh dari atap. Dan tanpa menunggu waktu lama, para serigala pun langsung memangsanya.

              Pada sutu hari di sebuah peternakan, tinggalah seorang anak gembala. Dia biasa menggembalakan dombanya di sebuah padang rumput. Tapi serigala sering datang dan memangsa domba-domba yang di gembalakanya.

             Akhirnya tinggal satu anak kambing saja yang dia miliki. Merasa butuh bantuan, anak itu memutuskan untuk pergi ke desa yang berada di pinggir hutan untuk mencari petolongan menghadapi serigala-serigala itu. Karena jika terus di biarkan, maka peternakanya tak akan dapat di gunakan lagi karena tak aman. 

            Sementara dia pergi, dia menaruh anak kambingnya yang tinggal satu ekor di atas atap. Tujuanya agar anak kambing itu aman selama kepergianya. Tak lupa dia juga menyiapkan rumput di samping anak kambing itu.

            Setelah anak gembala itu pergi, para kawanan serigala datang lagi ke area peternakan. Merasa aman karena tak ada orang, mereka dengan leluasa memasuki area peternakan dan menjelajah dari satu gudang ke gudang yang lain. 

            Tapi mereka sedikit kecewa, karena mereka tak mendapati apa-apa. Waktu itu bertepatan si anak kambing yang berada di atas atap ingin memakan rumput yang di taruh di pinggir atap itu. Melihat para serigala yang datang, anak kambing itu melihat mereka sejenak. “ Ah, mereka itu bodoh. Tak mungkin mereka bisa naik ke atas sini”. Fikir anak kambing itu.

            Merasa dirinya aman, anak kambing itu bukanya bersembunyi malah memanggil para serigala itu. Tentu saja para serigala langsung mendatangi dan berkerumun di bawahnya. Tapi karena anak kambing itu merasa aman berada di atas atap, malah muncul sifat sombongnya dan mengejek para serigala yang ada di bawahnya. 

            Para serigala hanya diam saja, seakan ada yang mereka tunggu. Tak sepatah kata pun mereka ucapkan untuk membalas anak kambing itu. Akhirnya karena lelah berteriak mengejek para serigala, anak kambing itu merasa lapar. Dan dia berniat memakan rumput yang berada di pinggir atap. Tapi sial, karena dia ceroboh akhirnya anak kambing itu terpeleset dan jatuh dari atap. Dan tanpa menunggu waktu lama, para serigala pun langsung memangsanya.

              Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang lelaki yang bernama Towjatuwa di tepian sungai Tami di tanah Irian Jaya.

              Lelaki itu sedang merasa gundah, karena istrinya yang sedang hamil tua mengalami kesulitan dalam melahirkan. Untuk membantu melahirkan anaknya itu, ia membutuhkan operasi yang menggunakan batu tajam dari sungan Tami.

             Keesokan harinya, Towjatuwa pun memutuskan untuk pergi ke tepi sungai Tami untuk mencari batu tersebut. Dalam perjalanan Towjatuwa pun berpikir apakah dirinya bisa mendapat batu tersebut.

              Sesampainya di sungai Tami, ia pun mulai mencari batu tersebut. Ketika ia sedang sibuk mencari batu tajam tersebut, ia mendengar suara yang aneh dari sisi belakangnya. Alangkah terkejutnya Towjatuwa ketika ia melihat seekor buaya yang sangat besar di depannya. Ia pun sangat ketakutan dan hampir pingsan. 

             Buaya besar itu pun perlahan bergerak mendekati Towjatuwa. Tidak seperti buaya lainnya, binatang ini memiliki bulu-bulu dari burung Kaswari di punggungnya. Sehingga ketika buaya itu bergerak, binatang itu nampak menyeramkan dan menakutkan.

             Towjatuwa pun berpikir untuk lari dan berhenti untuk mencari batu tajam. Namun, saat Towjatuwa hendak melarikan diri, buaya tersebut menyapanya dengan ramah.

“Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” Tanya Si Buaya.
“Saya sedang mencari batu tajam,” sahut Towjatuwa dengan rasa gugup ketakutan.
“Untuk apa batu tajam itu?” balas Si Buaya.
“Istri saya sedang hamil tua dan membutuhkan batu tersebut untuk membantu proses melahirkannya!!!” jawab Towjatuwa.
“Tidak usah khawatir, saya akan datang kerumahmu nanti malam. Saya akan menolong istrimu melahirkan.”

             Dengan rasa penasaran disertai rasa gembira Towjatuwa pun beranjak pulang ke rumahnya menemui sang isteri tersebut. Dengan rasa sangat bahagia, ia pun menceritakan perihal pertemuannya dengan seekor buaya ajaib di sunagi Tami.

             Malam itu pun tiba, seperti yang dijanjikan, buaya ajaib itu datang ke rumah Towjatuwa. Buaya itu pun memasuki rumah Towjatuwa. Dengan kekuatan ajaibnya, buaya yang bernama Watuwe itu menolong proses kelahiran seorang bayi laki-laki dengan selamat.

             Bayi laki-laki itu pun diberi nama Narrowa. Watuwe meramalkan bahwa kelak bayi tersebut akan tumbuh menjadi seorang pemburu yang handal.

             Watuwe lalu mengingatkan agar Towjatuwa dan keturunannya tidak membunuh dan memakan daging buaya. Apabila larangan itu dilanggar, maka Towjatuwa dan seluruh keturunannya akan mati. Sejak saat itulah, Towjatuwa dan keturunannya berjanji untuk melindungi binatang yang berada di sekitar sungai Tami terutama buaya dari para pemburu.

              Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang lelaki yang bernama Towjatuwa di tepian sungai Tami di tanah Irian Jaya.

              Lelaki itu sedang merasa gundah, karena istrinya yang sedang hamil tua mengalami kesulitan dalam melahirkan. Untuk membantu melahirkan anaknya itu, ia membutuhkan operasi yang menggunakan batu tajam dari sungan Tami.

             Keesokan harinya, Towjatuwa pun memutuskan untuk pergi ke tepi sungai Tami untuk mencari batu tersebut. Dalam perjalanan Towjatuwa pun berpikir apakah dirinya bisa mendapat batu tersebut.

              Sesampainya di sungai Tami, ia pun mulai mencari batu tersebut. Ketika ia sedang sibuk mencari batu tajam tersebut, ia mendengar suara yang aneh dari sisi belakangnya. Alangkah terkejutnya Towjatuwa ketika ia melihat seekor buaya yang sangat besar di depannya. Ia pun sangat ketakutan dan hampir pingsan. 

             Buaya besar itu pun perlahan bergerak mendekati Towjatuwa. Tidak seperti buaya lainnya, binatang ini memiliki bulu-bulu dari burung Kaswari di punggungnya. Sehingga ketika buaya itu bergerak, binatang itu nampak menyeramkan dan menakutkan.

             Towjatuwa pun berpikir untuk lari dan berhenti untuk mencari batu tajam. Namun, saat Towjatuwa hendak melarikan diri, buaya tersebut menyapanya dengan ramah.

“Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” Tanya Si Buaya.
“Saya sedang mencari batu tajam,” sahut Towjatuwa dengan rasa gugup ketakutan.
“Untuk apa batu tajam itu?” balas Si Buaya.
“Istri saya sedang hamil tua dan membutuhkan batu tersebut untuk membantu proses melahirkannya!!!” jawab Towjatuwa.
“Tidak usah khawatir, saya akan datang kerumahmu nanti malam. Saya akan menolong istrimu melahirkan.”

             Dengan rasa penasaran disertai rasa gembira Towjatuwa pun beranjak pulang ke rumahnya menemui sang isteri tersebut. Dengan rasa sangat bahagia, ia pun menceritakan perihal pertemuannya dengan seekor buaya ajaib di sunagi Tami.

             Malam itu pun tiba, seperti yang dijanjikan, buaya ajaib itu datang ke rumah Towjatuwa. Buaya itu pun memasuki rumah Towjatuwa. Dengan kekuatan ajaibnya, buaya yang bernama Watuwe itu menolong proses kelahiran seorang bayi laki-laki dengan selamat.

             Bayi laki-laki itu pun diberi nama Narrowa. Watuwe meramalkan bahwa kelak bayi tersebut akan tumbuh menjadi seorang pemburu yang handal.

             Watuwe lalu mengingatkan agar Towjatuwa dan keturunannya tidak membunuh dan memakan daging buaya. Apabila larangan itu dilanggar, maka Towjatuwa dan seluruh keturunannya akan mati. Sejak saat itulah, Towjatuwa dan keturunannya berjanji untuk melindungi binatang yang berada di sekitar sungai Tami terutama buaya dari para pemburu.


            Di suatu hutan, seekor Serigala mengejar Tikus untuk dijadikan santapan makan malamnya. "Waduh, Serigala mengejarku, bagaimana ini ? Batin tikus yang ketakutan lalu lari secepat-cepatnya. Setelah beberapa saat mengejar, tertangkaplah si Tikus. 

           "Hap  kena juga kamu, Tikus!" kata Serigala setelah tertangkap, si Tikus berpikir keras bagaimana bisa lolos dari Serigala.

           "Tolong  tolong.!" teriak Tikus, Serigala menggigit Tikus dan membawanya ke sarang. Tikus yang berada di antara gigi-gigi serigala meronta-ronta ketakutan.
"Hei, pak Serigala, tolong lepaskan aku !" kata Tikus.

          "Memang kenapa, Tikus./. aku sudah lapar sekali ni . . !" jawab Serigala.
Tikus ketakutan karena sebentar lagi ia akan menjadi santapan malam Serigala. Serigala sombong tertawa keras-keras mendengar ucapan Tikus, sepertinya tak mungkin hewan sekuat serigala meminta tolong kepada hewan selemah tikus. "Ha . . . ha . . . ha . . .!" Serigala tertawa, sehingga mulutnya terbuka. Lalu Tikus terlepas dari gigitan Serigala dan langsung melompat.

           Setelah melompat, Tikus lalu lari dengan sekencang-kencangnya ke arah semak-semak dan tikus bernapas lega. Tinggalah Serigala menyesali hilangnya mangsa yang sudah ada di mulunya.

           Beberapa hari kemudian, Serigala sedang berjalan-jalan di hutan untuk mencari mangsa untuk santap malam. Serigala tidak menyadari ada jaring yang di pasang pemburu untuk menjebak hewan-hewan. Karen Serigala sombong, maka Serigala tidak menyadari ada bahaya mengintai, dan srreet . . . Serigala terjebak jaring pemburu. "Waduh, bagaimana ini ,aku minta tolong dengan siapa ya . . ?" Pikir Serigala.

          Serigala setengah hari terjerat oleh jaring, tiba-tiba seekor Tikus melihatnya. "Lho .itu Serigala jahat, yang mau memakanku" Kata Tikus.
"Tolong  tolong . !" teriak Serigala.

           Serigala setengah hari terjerat oleh jaring, tiba-tiba seekor tikus melihatnya. "Lho itu Serigala jahat yang mau memakanku" kata Tikus.

            "Kasihan juga, aku tolonglah  !" kata Tikus, lalu menggigit-gigit jaring hingga putus. Serigala malu melihat tikus menolongnya karena giginya tajam maka dengan sekejab robeklah jaring itu.

             Setelah jaringnya sobek besar, maka Serigala bisa keluar dari jaring, lalu mereka menatap jaring yang tergantung di pohon. Serigala menghampiri Tikus, lalu mengajaknya berjabat tangan. "Tikus , aku minta maaf atas kejadian kemarin ya ?" kata Serigala. " Ya ,sudahlah, yang penting sekarang kamu selamat, kan!" kata Tikus.

            Lalu keduanya duduk-duduk, karena tikus badannya kecil, maka tikus duduk diatas batu. "Betulkan Serigala , hewan sekuat dan sebesarmu, juga membutuhkan pertolongan kepada hewan sekecilku .!" kata Tikus. " Ia sih makanya aku sangat menyesal sering menyakiti hewan-hewan yang lebih kecil, sekarang aku sadar !" Kata serigala dengan menyesal.

           Serigala lalu pulang ke rumahnya, dan merenungi diri sendiri, lalu menyadari betapa jahatnya dia selama ini, maka mulai saat itu serigala berubah menjadi tidak jahat lagi.

          Lalu keesokan harinya Serigala bersama Tikus menghampiri hewan-hewan di hutan ini untuk meminta maaf. " Hore hore !" hewan-hewan berteriak kegirangan, melihat serigala berubah menjadi baik.

          Sejak itu serigala sering terlihat berdua di hutan dengan Tikus sahabat baiknya yang baru, bermain dan mencari makanan selalu dilakukan berdua. Serigala semakin banyak teman, karena sekarang ia menjadi baik dan tidak sombong lagi.


            Di suatu hutan, seekor Serigala mengejar Tikus untuk dijadikan santapan makan malamnya. "Waduh, Serigala mengejarku, bagaimana ini ? Batin tikus yang ketakutan lalu lari secepat-cepatnya. Setelah beberapa saat mengejar, tertangkaplah si Tikus. 

           "Hap  kena juga kamu, Tikus!" kata Serigala setelah tertangkap, si Tikus berpikir keras bagaimana bisa lolos dari Serigala.

           "Tolong  tolong.!" teriak Tikus, Serigala menggigit Tikus dan membawanya ke sarang. Tikus yang berada di antara gigi-gigi serigala meronta-ronta ketakutan.
"Hei, pak Serigala, tolong lepaskan aku !" kata Tikus.

          "Memang kenapa, Tikus./. aku sudah lapar sekali ni . . !" jawab Serigala.
Tikus ketakutan karena sebentar lagi ia akan menjadi santapan malam Serigala. Serigala sombong tertawa keras-keras mendengar ucapan Tikus, sepertinya tak mungkin hewan sekuat serigala meminta tolong kepada hewan selemah tikus. "Ha . . . ha . . . ha . . .!" Serigala tertawa, sehingga mulutnya terbuka. Lalu Tikus terlepas dari gigitan Serigala dan langsung melompat.

           Setelah melompat, Tikus lalu lari dengan sekencang-kencangnya ke arah semak-semak dan tikus bernapas lega. Tinggalah Serigala menyesali hilangnya mangsa yang sudah ada di mulunya.

           Beberapa hari kemudian, Serigala sedang berjalan-jalan di hutan untuk mencari mangsa untuk santap malam. Serigala tidak menyadari ada jaring yang di pasang pemburu untuk menjebak hewan-hewan. Karen Serigala sombong, maka Serigala tidak menyadari ada bahaya mengintai, dan srreet . . . Serigala terjebak jaring pemburu. "Waduh, bagaimana ini ,aku minta tolong dengan siapa ya . . ?" Pikir Serigala.

          Serigala setengah hari terjerat oleh jaring, tiba-tiba seekor Tikus melihatnya. "Lho .itu Serigala jahat, yang mau memakanku" Kata Tikus.
"Tolong  tolong . !" teriak Serigala.

           Serigala setengah hari terjerat oleh jaring, tiba-tiba seekor tikus melihatnya. "Lho itu Serigala jahat yang mau memakanku" kata Tikus.

            "Kasihan juga, aku tolonglah  !" kata Tikus, lalu menggigit-gigit jaring hingga putus. Serigala malu melihat tikus menolongnya karena giginya tajam maka dengan sekejab robeklah jaring itu.

             Setelah jaringnya sobek besar, maka Serigala bisa keluar dari jaring, lalu mereka menatap jaring yang tergantung di pohon. Serigala menghampiri Tikus, lalu mengajaknya berjabat tangan. "Tikus , aku minta maaf atas kejadian kemarin ya ?" kata Serigala. " Ya ,sudahlah, yang penting sekarang kamu selamat, kan!" kata Tikus.

            Lalu keduanya duduk-duduk, karena tikus badannya kecil, maka tikus duduk diatas batu. "Betulkan Serigala , hewan sekuat dan sebesarmu, juga membutuhkan pertolongan kepada hewan sekecilku .!" kata Tikus. " Ia sih makanya aku sangat menyesal sering menyakiti hewan-hewan yang lebih kecil, sekarang aku sadar !" Kata serigala dengan menyesal.

           Serigala lalu pulang ke rumahnya, dan merenungi diri sendiri, lalu menyadari betapa jahatnya dia selama ini, maka mulai saat itu serigala berubah menjadi tidak jahat lagi.

          Lalu keesokan harinya Serigala bersama Tikus menghampiri hewan-hewan di hutan ini untuk meminta maaf. " Hore hore !" hewan-hewan berteriak kegirangan, melihat serigala berubah menjadi baik.

          Sejak itu serigala sering terlihat berdua di hutan dengan Tikus sahabat baiknya yang baru, bermain dan mencari makanan selalu dilakukan berdua. Serigala semakin banyak teman, karena sekarang ia menjadi baik dan tidak sombong lagi.
 


              Di pagi yang cerah, berjalan Pak Tani, anaknya, dan seekor keledai, nereka hendak pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Tak jauh di belakang mereka bertiga, berjalan rombongan Pemuda yang nampaknya juga hendak pergi ke pasar. Anak anak itu segera menyusul langkah Pak Tani, dan ketika mereka sudah dekat terdengar mereka sedang menertawakannya. 

              Salah seorang anak itu berteriak dengan kasar padanya,"Lihat orang orang dungu itu! Mereka berjalan kaki sedangkan mereka bisa saja naik keledai!" Anak anak itu terus berlalu mendahului pak Tani dan anaknya. "Mereka benar, Anakku!" kata Pak Tani. "Kita orang orang bodoh." Dia lalu menaikkan anaknya di atas punggung keledai, mereka lalu melanjutkan perjalanan.

             Tak berapa lama mereka berpapasan dengan beberapa orang Pedagang. "Lihat!" kata seorang di antara mereka sambil menunjuk keledai dan anak yang menumpanginya. "Itulah yang baru saja kukatakan! Anak muda sekarang tidak peduli pada orangtuanya. 

             Lihat lah anak itu, dia enak-enakan naik keledai sedangkan bapaknya harus berjalan kaki!" Ketika para lelaki itu telah lewat, Pak Tani berkata, "Turunlah anakku, sekarang bapak yang akan naik keledai."

             Pak Tani kemudian duduk di punggung keledai dan mereka berjalan lagi menaiki jalanan yang agak menanjak. Kemudian mereka bertemu seorang nenek tua. Dia memegang erat erat syal yang membungkus bahunya yang kurus.

            "Bagaimana mungkin kamu membiarkan anakmu berlari kelelahan di belakangmu sedangkan kamu enak naik keledai!" sambil lewat wanita itu mencela Pak Tani. Pak Tani dengan malu lalu mengangkat anaknya naik bersama di atas keledai.

             Baru saja mereka hendak memulai perjalanan, menyusul beberapa orang lelaki. "Cukup jelas!" tuduh seorang di antara mereka. "Keledai itu pasti bukan punyamu! Kalau punyamu, pasti kamu tidak akan membiarkan binatang itu dinaiki dua orang. Punggungnya bisa patah!" Sekarang Pak Tani mulai bingung. 

             Dia menurunkan anaknya, lalu mengikat kaki keledai dan lalu menggendong keledai itu di punggungnya. Si keledai melenguh dan meronta ronta tidak nyaman. Ketika mereka melewati sebuah jembatan, keledai itu lepas dari gendongan lalu jatuh tercebur ke dalam sungai. 

             Dengan cepat keledai itu berenang ke pinggir sungai lalu lari cepat-cepat ke padang rumput. Pak Tani mencoba menyenangkan semua orang, tapi dia bahkan dia tidak bisa menyenangkan keledainya.
 


              Di pagi yang cerah, berjalan Pak Tani, anaknya, dan seekor keledai, nereka hendak pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Tak jauh di belakang mereka bertiga, berjalan rombongan Pemuda yang nampaknya juga hendak pergi ke pasar. Anak anak itu segera menyusul langkah Pak Tani, dan ketika mereka sudah dekat terdengar mereka sedang menertawakannya. 

              Salah seorang anak itu berteriak dengan kasar padanya,"Lihat orang orang dungu itu! Mereka berjalan kaki sedangkan mereka bisa saja naik keledai!" Anak anak itu terus berlalu mendahului pak Tani dan anaknya. "Mereka benar, Anakku!" kata Pak Tani. "Kita orang orang bodoh." Dia lalu menaikkan anaknya di atas punggung keledai, mereka lalu melanjutkan perjalanan.

             Tak berapa lama mereka berpapasan dengan beberapa orang Pedagang. "Lihat!" kata seorang di antara mereka sambil menunjuk keledai dan anak yang menumpanginya. "Itulah yang baru saja kukatakan! Anak muda sekarang tidak peduli pada orangtuanya. 

             Lihat lah anak itu, dia enak-enakan naik keledai sedangkan bapaknya harus berjalan kaki!" Ketika para lelaki itu telah lewat, Pak Tani berkata, "Turunlah anakku, sekarang bapak yang akan naik keledai."

             Pak Tani kemudian duduk di punggung keledai dan mereka berjalan lagi menaiki jalanan yang agak menanjak. Kemudian mereka bertemu seorang nenek tua. Dia memegang erat erat syal yang membungkus bahunya yang kurus.

            "Bagaimana mungkin kamu membiarkan anakmu berlari kelelahan di belakangmu sedangkan kamu enak naik keledai!" sambil lewat wanita itu mencela Pak Tani. Pak Tani dengan malu lalu mengangkat anaknya naik bersama di atas keledai.

             Baru saja mereka hendak memulai perjalanan, menyusul beberapa orang lelaki. "Cukup jelas!" tuduh seorang di antara mereka. "Keledai itu pasti bukan punyamu! Kalau punyamu, pasti kamu tidak akan membiarkan binatang itu dinaiki dua orang. Punggungnya bisa patah!" Sekarang Pak Tani mulai bingung. 

             Dia menurunkan anaknya, lalu mengikat kaki keledai dan lalu menggendong keledai itu di punggungnya. Si keledai melenguh dan meronta ronta tidak nyaman. Ketika mereka melewati sebuah jembatan, keledai itu lepas dari gendongan lalu jatuh tercebur ke dalam sungai. 

             Dengan cepat keledai itu berenang ke pinggir sungai lalu lari cepat-cepat ke padang rumput. Pak Tani mencoba menyenangkan semua orang, tapi dia bahkan dia tidak bisa menyenangkan keledainya.


                   Kerajaan Palembang pada zaman dahulu diperintah oleh penguasa yang bergelar Suhunan. Suhunan yang memerintah ketika itu melaksanakan pemerintahannya dengan adil dan bijaksana. Segenap rakyat Palembang menghormati, mencintai, dan mematuhi titah Suhunan.

                   Suatu hari Suhunan mendengarakan tibanya pasukan Belanda untuk menyerang dan menjajah Palembang. Suhunan lantas menyiagakan segenap kekuatan untuk menghadapinya. Rakyat Palembang pun bersatu padu di belakang Suhunan. 

                   Mereka tidak ingin menjadi jajahan bangsa asing yang terkenal serakah, kejam, dan sewenang-wenang. Mereka nyatakan kesanggupan mereka untuk berkorban jiwa dan raga demi negeri tercinta.

                   Suhunan menunjuk dan menugaskan tiga kesatria perempuan Palembang untuk membantu pertahanan Kerajaan Palembang. Ketiganya adalah Putri Kembang Mustika, Putri Darah Putih, dan Putri Iran. Ketiganya ternama kesaktian dan keperwiraannya. Suhunan memerintahkan pula bagi mereka untuk menjadi pengawal pribadinya.

                   Kerajaan Palembang terus memperkuat pertahanannya. Berbagai senjata telah disiagakan. Begitu pula dengan meriam-meriam telah disiapkan menghadap sungai Musi yang diperkirakan akan menjadi pintu masuk datangnya pasukan penjajah tersebut.

                  Benar perkiraan mereka. Pasukan Kompeni Belanda dengan menaiki kapal-kapal besar memasuki Palembang melalui sungai Musi. Kedatangannya segera disambut dengan serangan gencar. Peluru-peluru meriam beterbangan ke arah kapal-kapal pasukan Kompeni Belanda, menimbulkan kerusakan dan kehancuran. 

                  Kian gencar serangan kekuatan Kerajaan Palembang itu hingga pasukan Kompeni Belanda memutuskan untuk mundur. Bersorak-sorailah kekuatan Kerajaan Palembang mendapati mundurnya pasukan Kompeni Belanda yang berniat menjajah negeri mereka. Mereka menyangka pasukan Kompeni Belanda tidak akan berani lagi datang ke Palembang.

                   Perkiraan rakyat Palembang meleset, sebulan kemudian pasukan Kompeni Belanda kembali datang. Jauh lebih banyak kekuatan pasukan mereka dibandingkan kedatangan mereka yang pertama. Ketika itu kekuatan Kerajaan Palembang tidak setangguh dan sesiap seperti ketika mereka menghadapi tibanya pasukan Kompeni Belanda sebulan sebelumnya. Pasukan Kompeni Belanda dapat memporak-porandakan kekuatan Kerajaan Palembang hingga rakyat Palembang tercerai- berai dan berlarian untuk menyelamatkan diri.

                  Suhunan tetap bertahan dan terus menggelorakan semangat perlawanan. Begitu pula dengan Putri Kembang Mustika, Putri Darah Putih, dan Putri Iran. Ketiganya tetap berada di dekat Suhunan dan siap menangkis serangan yang mernbahayakan jiwa penguasa Kerajaan Palembang itu.Dongeng Cerita Rakyat Nusantara Kisah Ratu Agung

                  Menghadapi kekuatan pasukan Kompeni Belanda itu Putri Kembang Mustika menunjukkan kesaktian luar biasanya. Ketika peluru-peluru meriam datang berdesingan, ia bergerak sigap lagi gesit untuk menangkapnya. Kesaktian Putri Kembang Mustika itu benar-benar mencengangkan dan membuat pasukan Kompeni Belanda keheranan. 

                   Berulang-ulang peluru meriam ditembakkan, berulang-ulang pula Putri Kembang Mustika dapat menangkapnya dengan mudah. Persediaan peluru meriam pasukan Kompeni Belanda terus berkurang karena peluru-peluru yang mereka tembakkan menjadi sia-sia karena ditangkap Putri Kembang Mustika. Mereka akhirnya memilih mundur setelah peluru-peluru meriam mereka habis dan serangan balik kekuatan Kerajaan Palembang kian deras tertuju kepada mereka.

                  Suhunan sangat bangga dan kagum mendapati kehebatan Putri Kembang Mustika. Suhunan kemudian mengangkat Putri Kembang Mustika menjadi saudara Putri Darah Putih dan menggelari Putri Kembang Mustika dengan gelar Ratu Agung.

                 Dua kali berniat menundukkan dan menjajah Palembang namun dua kali itu pula mereka terpukul mundur membuat pasukan Kompeni Belanda tidak lagi berniat menyerang Palembang.

                  Palembang kembali aman dan damai. Suhunan kembali memerintah dengan segala keadilan dan kebijaksanaannya yang senantiasa mengutamakan kesejahteraan. Sayang, tidak semua orang Palembang senang berada dalam kedamaian itu. Salah seorang dari mereka yang tidak senang itu bahkan termasuk kerabat dekat Suhunan sendiri, adik kandung Suhunan sendiri.

                  Adik kandung Suhunan berniat menjadi suhunan. Ia lantas merencanakan siasat licik. Ia mengirimkan sepucuk surat ke Kerajaan Belanda. Disebutkannya kekuatan Palembang waktu itu tidak lagi tangguh dan perkasa. Jika kekuatan Kerajaan Belanda menyerang, niscaya Kerajaan Palembang akan dapat ditaklukkan. Terlebih- Iebih, ia akan membantu memperlemah kekuatan Kerajaan Palembang dari dalam. Untuk semua itu adik kandung Suhunan meminta imbalan dengan diangkat menjadi Suhunan.

                  Kekuatan Kerajaan Belanda segera disiagakan dan diberangkatkan menuju Palembang. Mereka telah menyiapkan siasat khusus untuk mengalahkan kekuatan Kerajaan Palembang. Mereka telah membungkus ringgit-ringgit hingga membentuk bulatan-bulatan seperti peluru-peluru meriam. Jika meriam ditembakkan, ringgit-ringgit itu beterbangan. Rakyat Palembang tentu akan berebut ringgit-ringgit itu hingga mengabaikan pertahanan mereka.

                 Di Palembang sendiri adik kandung Suhunan telah pula menyiapkan siasat khusus. Dengan diam-diam ia membuang peluru-peluru meriam dan menggantinya dengan buah-buah jeruk yang dibentuknya menyerupai peluru meriam.

                 Pasukan Kompeni Belanda akhirnya tiba di Palembang, Suhunan segera menyiagakan kekuatannya untuk menghadapi dan menghalau. Meriam-meriam disiagakan dan tak berapa lama kemudian mulai ditembakkan. 

                 Amat terperanjat para prajurit penembak meriam ketika mendapati tembakan mereka tidak berdampak apapun setelah mengena pada sasaran yang mereka bidik. Baru kemudian mereka dapati kemudian jika peluru- peluru yang mereka gunakan untuk menembak ternyata hanyalah buah-buah jeruk!

                Adapun siasat yang diterapkan pasukan Kompeni Belanda berjalan sesuai rencana mereka. Ketika buntalan-buntalan berisi ringgit-ringgit itu ditembakkan, rakyat berebut mengambil ringgit-ringgit yang beterbangan dan berjatuhan. 

                Rakyat menjadi lengah dan tidak membantu para prajurit Kerajaan Palembang yang tengah menghadapi kekuatan pasukan Kompeni Belanda. Porak-porandalah akhirnya kekuatan Kerajaan Palembang.

               Menghadapi keadaan genting tersebut Putri Kembang Mustika, Putri Darah Putih, dan Putri Iran segera mengungsikan Suhunan.

               Mundurnya Suhunan segera diikuti kerabat dan juga para prajurit Palembang. Istana kerajaan pun akhirnya kosong ketika pasukan Kerajaan Belanda memasukinya. Mereka hanya menemukan adik kandung Suhunan yang terlihat gembira menyambut kedatangan mereka.

               Adik kandung Suhunan menghadap Raja Belanda. Katanya, “Hamba yang telah mengirim surat kepada Tuan. Hamba juga telah melemahkan pasukan Kerajaan Palembang dengan mengganti peluru-peluru meriam mereka dengan buah-buah jeruk.

                Bukankah serangan mereka menjadi sia-sia dan tidak berarti? Bukankah pasukan Belanda akhirnya dapat mengalahkan kekuatan Palembang dengan mudah? Itu semua karena jerih payah hamba, Tuan. Oleh karena itu hendaklah Tuan mengangkat hamba menjadi Suhunan yang baru.”

                 Raja Belanda mencibirkan bibirnya. “Engkau telah nyata-nyata mengkhianati saudara kandung dan juga negerimu sendiri! Engkau tega hati untuk melakukannya hanya karena keserakahan dan keinginanmu semata-mata untuk berkuasa. Maka, jika engkau kuangkat menjadi Suhunan, niscaya engkau pun pasti akan tega hati untuk mengkhianatiku di kemudian hari!”

                Mati-matian adik kandung Suhunan memberikan janji-janjinya untuk senantiasa setia terhadap Raja Belanda.

               “Sifatmu bukan menunjukkan sifat orang yang setia. Engkau bersifat pengkhianat. Seorang Suhunan tidak seharusnya bersifat khianat seperti dirimu itu!” jawab Raja Belanda.

               Alangkah kecewanya adik kandung Suhunan mendengar jawaban Raja Belanda. Sama sekali ia tidak menduga mendapat jawaban seperti itu dari Raja Belanda. Musnahlah harapannya untuk menjadi Suhunan. Ia terjepit dan merasa sama sekali tidak berdaya. Terlebih-lebih ketika Raja Belanda memerintahkan prajuritnya untuk menangkap dirinya!

              Adik kandung Suhunan yang mengkhianati kakak kandung dan juga negerinya itu pun akhirnya menemui kematiannya setelah dilaksanakan hukuman pancung pada dirinya.

              Sementara Ratu Agung sendiri kembali ke kampung halamannya di daerah Sukadana setelah Suhunan memberinya izin. Warga Sukadana sangat menghormati sosok perempuan pemberani lagi sakti itu. Ratu Agung terus menetap di kampung halamannya itu hingga akhirnya menutup mata. Kepergiannya diratapi orang-orang yang mengetahui sepak terjangnya yang gagah berani ketika membela Palembang dari serangan pasukan Kompeni Belanda.


                   Kerajaan Palembang pada zaman dahulu diperintah oleh penguasa yang bergelar Suhunan. Suhunan yang memerintah ketika itu melaksanakan pemerintahannya dengan adil dan bijaksana. Segenap rakyat Palembang menghormati, mencintai, dan mematuhi titah Suhunan.

                   Suatu hari Suhunan mendengarakan tibanya pasukan Belanda untuk menyerang dan menjajah Palembang. Suhunan lantas menyiagakan segenap kekuatan untuk menghadapinya. Rakyat Palembang pun bersatu padu di belakang Suhunan. 

                   Mereka tidak ingin menjadi jajahan bangsa asing yang terkenal serakah, kejam, dan sewenang-wenang. Mereka nyatakan kesanggupan mereka untuk berkorban jiwa dan raga demi negeri tercinta.

                   Suhunan menunjuk dan menugaskan tiga kesatria perempuan Palembang untuk membantu pertahanan Kerajaan Palembang. Ketiganya adalah Putri Kembang Mustika, Putri Darah Putih, dan Putri Iran. Ketiganya ternama kesaktian dan keperwiraannya. Suhunan memerintahkan pula bagi mereka untuk menjadi pengawal pribadinya.

                   Kerajaan Palembang terus memperkuat pertahanannya. Berbagai senjata telah disiagakan. Begitu pula dengan meriam-meriam telah disiapkan menghadap sungai Musi yang diperkirakan akan menjadi pintu masuk datangnya pasukan penjajah tersebut.

                  Benar perkiraan mereka. Pasukan Kompeni Belanda dengan menaiki kapal-kapal besar memasuki Palembang melalui sungai Musi. Kedatangannya segera disambut dengan serangan gencar. Peluru-peluru meriam beterbangan ke arah kapal-kapal pasukan Kompeni Belanda, menimbulkan kerusakan dan kehancuran. 

                  Kian gencar serangan kekuatan Kerajaan Palembang itu hingga pasukan Kompeni Belanda memutuskan untuk mundur. Bersorak-sorailah kekuatan Kerajaan Palembang mendapati mundurnya pasukan Kompeni Belanda yang berniat menjajah negeri mereka. Mereka menyangka pasukan Kompeni Belanda tidak akan berani lagi datang ke Palembang.

                   Perkiraan rakyat Palembang meleset, sebulan kemudian pasukan Kompeni Belanda kembali datang. Jauh lebih banyak kekuatan pasukan mereka dibandingkan kedatangan mereka yang pertama. Ketika itu kekuatan Kerajaan Palembang tidak setangguh dan sesiap seperti ketika mereka menghadapi tibanya pasukan Kompeni Belanda sebulan sebelumnya. Pasukan Kompeni Belanda dapat memporak-porandakan kekuatan Kerajaan Palembang hingga rakyat Palembang tercerai- berai dan berlarian untuk menyelamatkan diri.

                  Suhunan tetap bertahan dan terus menggelorakan semangat perlawanan. Begitu pula dengan Putri Kembang Mustika, Putri Darah Putih, dan Putri Iran. Ketiganya tetap berada di dekat Suhunan dan siap menangkis serangan yang mernbahayakan jiwa penguasa Kerajaan Palembang itu.Dongeng Cerita Rakyat Nusantara Kisah Ratu Agung

                  Menghadapi kekuatan pasukan Kompeni Belanda itu Putri Kembang Mustika menunjukkan kesaktian luar biasanya. Ketika peluru-peluru meriam datang berdesingan, ia bergerak sigap lagi gesit untuk menangkapnya. Kesaktian Putri Kembang Mustika itu benar-benar mencengangkan dan membuat pasukan Kompeni Belanda keheranan. 

                   Berulang-ulang peluru meriam ditembakkan, berulang-ulang pula Putri Kembang Mustika dapat menangkapnya dengan mudah. Persediaan peluru meriam pasukan Kompeni Belanda terus berkurang karena peluru-peluru yang mereka tembakkan menjadi sia-sia karena ditangkap Putri Kembang Mustika. Mereka akhirnya memilih mundur setelah peluru-peluru meriam mereka habis dan serangan balik kekuatan Kerajaan Palembang kian deras tertuju kepada mereka.

                  Suhunan sangat bangga dan kagum mendapati kehebatan Putri Kembang Mustika. Suhunan kemudian mengangkat Putri Kembang Mustika menjadi saudara Putri Darah Putih dan menggelari Putri Kembang Mustika dengan gelar Ratu Agung.

                 Dua kali berniat menundukkan dan menjajah Palembang namun dua kali itu pula mereka terpukul mundur membuat pasukan Kompeni Belanda tidak lagi berniat menyerang Palembang.

                  Palembang kembali aman dan damai. Suhunan kembali memerintah dengan segala keadilan dan kebijaksanaannya yang senantiasa mengutamakan kesejahteraan. Sayang, tidak semua orang Palembang senang berada dalam kedamaian itu. Salah seorang dari mereka yang tidak senang itu bahkan termasuk kerabat dekat Suhunan sendiri, adik kandung Suhunan sendiri.

                  Adik kandung Suhunan berniat menjadi suhunan. Ia lantas merencanakan siasat licik. Ia mengirimkan sepucuk surat ke Kerajaan Belanda. Disebutkannya kekuatan Palembang waktu itu tidak lagi tangguh dan perkasa. Jika kekuatan Kerajaan Belanda menyerang, niscaya Kerajaan Palembang akan dapat ditaklukkan. Terlebih- Iebih, ia akan membantu memperlemah kekuatan Kerajaan Palembang dari dalam. Untuk semua itu adik kandung Suhunan meminta imbalan dengan diangkat menjadi Suhunan.

                  Kekuatan Kerajaan Belanda segera disiagakan dan diberangkatkan menuju Palembang. Mereka telah menyiapkan siasat khusus untuk mengalahkan kekuatan Kerajaan Palembang. Mereka telah membungkus ringgit-ringgit hingga membentuk bulatan-bulatan seperti peluru-peluru meriam. Jika meriam ditembakkan, ringgit-ringgit itu beterbangan. Rakyat Palembang tentu akan berebut ringgit-ringgit itu hingga mengabaikan pertahanan mereka.

                 Di Palembang sendiri adik kandung Suhunan telah pula menyiapkan siasat khusus. Dengan diam-diam ia membuang peluru-peluru meriam dan menggantinya dengan buah-buah jeruk yang dibentuknya menyerupai peluru meriam.

                 Pasukan Kompeni Belanda akhirnya tiba di Palembang, Suhunan segera menyiagakan kekuatannya untuk menghadapi dan menghalau. Meriam-meriam disiagakan dan tak berapa lama kemudian mulai ditembakkan. 

                 Amat terperanjat para prajurit penembak meriam ketika mendapati tembakan mereka tidak berdampak apapun setelah mengena pada sasaran yang mereka bidik. Baru kemudian mereka dapati kemudian jika peluru- peluru yang mereka gunakan untuk menembak ternyata hanyalah buah-buah jeruk!

                Adapun siasat yang diterapkan pasukan Kompeni Belanda berjalan sesuai rencana mereka. Ketika buntalan-buntalan berisi ringgit-ringgit itu ditembakkan, rakyat berebut mengambil ringgit-ringgit yang beterbangan dan berjatuhan. 

                Rakyat menjadi lengah dan tidak membantu para prajurit Kerajaan Palembang yang tengah menghadapi kekuatan pasukan Kompeni Belanda. Porak-porandalah akhirnya kekuatan Kerajaan Palembang.

               Menghadapi keadaan genting tersebut Putri Kembang Mustika, Putri Darah Putih, dan Putri Iran segera mengungsikan Suhunan.

               Mundurnya Suhunan segera diikuti kerabat dan juga para prajurit Palembang. Istana kerajaan pun akhirnya kosong ketika pasukan Kerajaan Belanda memasukinya. Mereka hanya menemukan adik kandung Suhunan yang terlihat gembira menyambut kedatangan mereka.

               Adik kandung Suhunan menghadap Raja Belanda. Katanya, “Hamba yang telah mengirim surat kepada Tuan. Hamba juga telah melemahkan pasukan Kerajaan Palembang dengan mengganti peluru-peluru meriam mereka dengan buah-buah jeruk.

                Bukankah serangan mereka menjadi sia-sia dan tidak berarti? Bukankah pasukan Belanda akhirnya dapat mengalahkan kekuatan Palembang dengan mudah? Itu semua karena jerih payah hamba, Tuan. Oleh karena itu hendaklah Tuan mengangkat hamba menjadi Suhunan yang baru.”

                 Raja Belanda mencibirkan bibirnya. “Engkau telah nyata-nyata mengkhianati saudara kandung dan juga negerimu sendiri! Engkau tega hati untuk melakukannya hanya karena keserakahan dan keinginanmu semata-mata untuk berkuasa. Maka, jika engkau kuangkat menjadi Suhunan, niscaya engkau pun pasti akan tega hati untuk mengkhianatiku di kemudian hari!”

                Mati-matian adik kandung Suhunan memberikan janji-janjinya untuk senantiasa setia terhadap Raja Belanda.

               “Sifatmu bukan menunjukkan sifat orang yang setia. Engkau bersifat pengkhianat. Seorang Suhunan tidak seharusnya bersifat khianat seperti dirimu itu!” jawab Raja Belanda.

               Alangkah kecewanya adik kandung Suhunan mendengar jawaban Raja Belanda. Sama sekali ia tidak menduga mendapat jawaban seperti itu dari Raja Belanda. Musnahlah harapannya untuk menjadi Suhunan. Ia terjepit dan merasa sama sekali tidak berdaya. Terlebih-lebih ketika Raja Belanda memerintahkan prajuritnya untuk menangkap dirinya!

              Adik kandung Suhunan yang mengkhianati kakak kandung dan juga negerinya itu pun akhirnya menemui kematiannya setelah dilaksanakan hukuman pancung pada dirinya.

              Sementara Ratu Agung sendiri kembali ke kampung halamannya di daerah Sukadana setelah Suhunan memberinya izin. Warga Sukadana sangat menghormati sosok perempuan pemberani lagi sakti itu. Ratu Agung terus menetap di kampung halamannya itu hingga akhirnya menutup mata. Kepergiannya diratapi orang-orang yang mengetahui sepak terjangnya yang gagah berani ketika membela Palembang dari serangan pasukan Kompeni Belanda.

Sabtu, 08 Desember 2018



             Ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.

             Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.

            "Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini," katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.

             Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut. "Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini."

             Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih si pohon, "Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya."

            Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, "Anak muda, karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati di sini."

             Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir, "Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain".

            Segera timbul kesadaran baru. "Aku manusia; masih muda, kuat, dan sehat. Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula bermanfaat bagi makhluk lain".

Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.


             Ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.

             Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.

            "Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini," katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.

             Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut. "Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini."

             Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih si pohon, "Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya."

            Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, "Anak muda, karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati di sini."

             Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir, "Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain".

            Segera timbul kesadaran baru. "Aku manusia; masih muda, kuat, dan sehat. Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula bermanfaat bagi makhluk lain".

Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.


              Suatu hari, terjadi kehebohan di sebuah pasar kampung. Orang orang berkerumun di depan sebuah toko penjual telur. Yang berada di luar ingin maju masuk ke dalam, sedangkan yang di dalam ingin lebih dekat lagi ke depan meja. 

              Mereka datang dari seluruh penjuru negeri karena mendengar ada seekor angsa yang bisa bertelur emas, mereka ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dan akhirnya, di depan mereka semua, hal ajaib itu terjadi persis seperti yang mereka dengar. Di atas meja, berkilauan sebuah telur angsa emas!

             Mereka berebutan ingin membeli telur itu. Namun si Pedagang hanya bisa menjual satu butir telur emas sehari. Yang lain terpaksa menunggu karena si Angsa hanya bisa bertelur satu butir sehari. Si Pedagang benar-benar tidak puas dengan hal itu, dia ingin segera punya banyak uang.

            Lalu terlintas ide di pikirannya. Pedagang yang rakus itu akan memotong si Angsa ajaib. Dia berfikiran kakau angsa tersebut di bunug dan perutnya dibelah pasti di dalamnya terdapat banyak telur emas. Ia akan mengambil semua telur yang ada di dalam tubuhnya sekaligus. Dia sudah tidak sabar ingin segera cepat kaya.

             Para pembeli bersorak gembira ketika si Pedagang mengumumkan ide hebatnya itu pada mereka. Kemudian dengan hati-hati ia mengeluarkan sebuah pisau tajam dan membelah dada angsa ajaib itu. Orang-orang menahan nafasnya. Darah si Angsa menetes merah membasahi bulu bulunya yang putih bersih. "Dia membunuh angsa peliharaanya" orang-orang riuh bersorak sorai.

            Lalu tiba-tiba datang seorang kakek tua dan berkata dengan bijak,"Ya, dan dia telah melakukan kesalahan yang amat besar! Kamu semua akan lihat, angsa itu sekarang hanya seekor burung biasa. Tentu saja karena ia sudah mati. Kamu terlalu serakah ! sehingga tidak bisa berfikir dengan jernih !"


              Suatu hari, terjadi kehebohan di sebuah pasar kampung. Orang orang berkerumun di depan sebuah toko penjual telur. Yang berada di luar ingin maju masuk ke dalam, sedangkan yang di dalam ingin lebih dekat lagi ke depan meja. 

              Mereka datang dari seluruh penjuru negeri karena mendengar ada seekor angsa yang bisa bertelur emas, mereka ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dan akhirnya, di depan mereka semua, hal ajaib itu terjadi persis seperti yang mereka dengar. Di atas meja, berkilauan sebuah telur angsa emas!

             Mereka berebutan ingin membeli telur itu. Namun si Pedagang hanya bisa menjual satu butir telur emas sehari. Yang lain terpaksa menunggu karena si Angsa hanya bisa bertelur satu butir sehari. Si Pedagang benar-benar tidak puas dengan hal itu, dia ingin segera punya banyak uang.

            Lalu terlintas ide di pikirannya. Pedagang yang rakus itu akan memotong si Angsa ajaib. Dia berfikiran kakau angsa tersebut di bunug dan perutnya dibelah pasti di dalamnya terdapat banyak telur emas. Ia akan mengambil semua telur yang ada di dalam tubuhnya sekaligus. Dia sudah tidak sabar ingin segera cepat kaya.

             Para pembeli bersorak gembira ketika si Pedagang mengumumkan ide hebatnya itu pada mereka. Kemudian dengan hati-hati ia mengeluarkan sebuah pisau tajam dan membelah dada angsa ajaib itu. Orang-orang menahan nafasnya. Darah si Angsa menetes merah membasahi bulu bulunya yang putih bersih. "Dia membunuh angsa peliharaanya" orang-orang riuh bersorak sorai.

            Lalu tiba-tiba datang seorang kakek tua dan berkata dengan bijak,"Ya, dan dia telah melakukan kesalahan yang amat besar! Kamu semua akan lihat, angsa itu sekarang hanya seekor burung biasa. Tentu saja karena ia sudah mati. Kamu terlalu serakah ! sehingga tidak bisa berfikir dengan jernih !"



                Di sebuah hutan yang sangat lebat, ada seekor kelinci yang terkenal mampu berlari sangat cepat. Dia di juluki pelari tercepat di hutan itu, bahkan semua hewan juga mengakuinya. Akan tetapi, ketenaran yang di miliki si kelinci membuat dia menjadi sangat sombong dan besar kepala.

                Kelinci selalu menyombongkan kemampuanya di depan setiap hewan yang ditemuinya. Dia selalu berlari dengan cepat, sehingga menerbangkan debu di sekitarnya dan membuat hewan yang dilaluinya menjadi batuk-batuk akibat debu. Pada suatu hari, ada sekelompok hewan yang tengah bercakap-cakap. Mereka bercanda dan berbagi cerita tentang kisah-kisah lucu yang pernah mereka alami sebelumnya. Hewan-hewan itu adalah kura-kura, keong, dan juga bekicot.

                Tapi waktu tengah asik-asik bercanda gurau, tiba-tiba si kelinci datang dan berlari sangat cepat. Debu yang berterbangan tentu saja membuat tiga sekawan hewan itu terbatuk-batuk. "Hai kelinci.. kami tahu bahwa kamu bisa berlari sangat cepat, tapi apakah kamu bisa menghargai juga teman-teman yang ada di sekitar mu?". Teriak kura-kura dengan rasa kesal.

               Mendengar perkataan kura-kura, kelinci berhenti tiba-tiba dan datang menghampiri mereka. "Hah buat apa? Mengapa aku harus mendengarkan perkataan dari komunitas hewan lambat seperti kalian ini? Pasti karena kalian iri sebab tak mampu berlari secepat aku, dan hanya bisa merayap pelan-pelan saja. hahahaha..". Kata kelinci malah mengejek. Mendengar ejekan si kelinci, kura-kura menjadi geram. Dia tak terima jika dia dan teman-temanya di lecehkan begitu saja. “Jangan sombong kau kelinci.. Kalau kau berani, mari kita lomba lari. Aku yakin aku mampu mengalahkan mu..". Tantang kura-kura.

               Mendengar tantangan itu, si kelinci malah tertawa terbahak-bahak dengan sikap melecehkan. "Kau? Mengalahkan aku? hahahaha.. Kau ini belum tidur, tapi sudah mengigau. Dasar kura-kura bodoh.. baiklah, demi menjaga nama baik ku karena kelancangan mu, akau akan memberimu pelajaran tentang arti kemenangan dan kecepatan". jawab si kelinci. Akhirnya, merekapun memutuskan untuk berlomba.

               Si bekicot bertugas sebagai hakim di garis start, sedangkan si keong berada di garis finish untuk mengawasi siapa yang sampai lebih dulu. Dan lomba lari itu di mulai dengan mudahnya si kelinci memimpin lomba, dia berlari jauh di depan kura-kura yang merangkak lambat. Hal tersebut membuat si kelinci tertawa semakin menghina, tapi si kura-kura tetap berusaha dan pantang menyerah. Dia tetap berlari dengan sekuat tenaga demi harga dirinya dan teman-temanya.

               Melihat kegigihan kura-kura, timbul niat usil di hati si kelinci. Sebenarnya, kurang beberapa langkah lagi si kelinci sudah sampai di garis finish. Akan tetapi dia ingin mengejek si kura-kura lebih dari itu, maka dia memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon dekat garis finish. Dan ketika si kura-kura sudah tinggal beberapa langkah lagi dari garis finish, dia akan dengan cepat mendahuluinya. Tentu saja hal itu pasti akan membuat kura-kura menjadi putus asa dan dia bisa mengejeknya sesuka hati. Di kejauhan, kura-kura masih berusaha berlari sekuat tenaganya. Keringatnya bercucuran dengan cepat, tapi dia tak memperdulikanya. Apa lagi ketika dari kejauhan dia melihat kelinci yang tengah beristirahat di bawah pohon yang teduh seolah mengejeknya, membuat kura-kura semakin bersemangat dan terus berusaha.

              Sementara itu, si kelinci yang menunggu kura-kura di bawah pohon menjadi sangat bosan. Karena langkah kura-kura yang cukup lambat, maka membutuhkan waktu yang lama bagi kura-kura untuk sampai di garis finish. "Ah.. jadi ngantuk.. Lebih baik aku tidur sejenak dulu untuk menunggu kura-kura tiba di sini. denagn langkah yang begitu lambat, butuh waktu lama baginya untuk mengejar aku". Kata kelinci kemudian tertidur. Tapi udara bawah pohon yang cukup sejuk di tambah dengan hembusan angin sepoi-sepoi yang cukup segar, membuat kelinci tertidur cukup pulas. Bahkan dia tak menyadari ketika kura-kura berjalan melewatinya.

              Ketika dia terbangun, semua sudah terlambat. Kura-kura sudah menapakan langkah terakhirnya tepat di garis finish sehingga kelinci tak bisa mendahuluinya. Ahirnya, kelinci yang sombong itu di kalahkan oleh kura-kura yang lambat.

              Akhirnya kura-kura pun bersorak gembira bersama kawan-kawannya. Sementara si kelinci hanya bisa menundukkan kepala dan merasa sangat menyesal karena menganggap remeh si kura-kura.



                Di sebuah hutan yang sangat lebat, ada seekor kelinci yang terkenal mampu berlari sangat cepat. Dia di juluki pelari tercepat di hutan itu, bahkan semua hewan juga mengakuinya. Akan tetapi, ketenaran yang di miliki si kelinci membuat dia menjadi sangat sombong dan besar kepala.

                Kelinci selalu menyombongkan kemampuanya di depan setiap hewan yang ditemuinya. Dia selalu berlari dengan cepat, sehingga menerbangkan debu di sekitarnya dan membuat hewan yang dilaluinya menjadi batuk-batuk akibat debu. Pada suatu hari, ada sekelompok hewan yang tengah bercakap-cakap. Mereka bercanda dan berbagi cerita tentang kisah-kisah lucu yang pernah mereka alami sebelumnya. Hewan-hewan itu adalah kura-kura, keong, dan juga bekicot.

                Tapi waktu tengah asik-asik bercanda gurau, tiba-tiba si kelinci datang dan berlari sangat cepat. Debu yang berterbangan tentu saja membuat tiga sekawan hewan itu terbatuk-batuk. "Hai kelinci.. kami tahu bahwa kamu bisa berlari sangat cepat, tapi apakah kamu bisa menghargai juga teman-teman yang ada di sekitar mu?". Teriak kura-kura dengan rasa kesal.

               Mendengar perkataan kura-kura, kelinci berhenti tiba-tiba dan datang menghampiri mereka. "Hah buat apa? Mengapa aku harus mendengarkan perkataan dari komunitas hewan lambat seperti kalian ini? Pasti karena kalian iri sebab tak mampu berlari secepat aku, dan hanya bisa merayap pelan-pelan saja. hahahaha..". Kata kelinci malah mengejek. Mendengar ejekan si kelinci, kura-kura menjadi geram. Dia tak terima jika dia dan teman-temanya di lecehkan begitu saja. “Jangan sombong kau kelinci.. Kalau kau berani, mari kita lomba lari. Aku yakin aku mampu mengalahkan mu..". Tantang kura-kura.

               Mendengar tantangan itu, si kelinci malah tertawa terbahak-bahak dengan sikap melecehkan. "Kau? Mengalahkan aku? hahahaha.. Kau ini belum tidur, tapi sudah mengigau. Dasar kura-kura bodoh.. baiklah, demi menjaga nama baik ku karena kelancangan mu, akau akan memberimu pelajaran tentang arti kemenangan dan kecepatan". jawab si kelinci. Akhirnya, merekapun memutuskan untuk berlomba.

               Si bekicot bertugas sebagai hakim di garis start, sedangkan si keong berada di garis finish untuk mengawasi siapa yang sampai lebih dulu. Dan lomba lari itu di mulai dengan mudahnya si kelinci memimpin lomba, dia berlari jauh di depan kura-kura yang merangkak lambat. Hal tersebut membuat si kelinci tertawa semakin menghina, tapi si kura-kura tetap berusaha dan pantang menyerah. Dia tetap berlari dengan sekuat tenaga demi harga dirinya dan teman-temanya.

               Melihat kegigihan kura-kura, timbul niat usil di hati si kelinci. Sebenarnya, kurang beberapa langkah lagi si kelinci sudah sampai di garis finish. Akan tetapi dia ingin mengejek si kura-kura lebih dari itu, maka dia memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon dekat garis finish. Dan ketika si kura-kura sudah tinggal beberapa langkah lagi dari garis finish, dia akan dengan cepat mendahuluinya. Tentu saja hal itu pasti akan membuat kura-kura menjadi putus asa dan dia bisa mengejeknya sesuka hati. Di kejauhan, kura-kura masih berusaha berlari sekuat tenaganya. Keringatnya bercucuran dengan cepat, tapi dia tak memperdulikanya. Apa lagi ketika dari kejauhan dia melihat kelinci yang tengah beristirahat di bawah pohon yang teduh seolah mengejeknya, membuat kura-kura semakin bersemangat dan terus berusaha.

              Sementara itu, si kelinci yang menunggu kura-kura di bawah pohon menjadi sangat bosan. Karena langkah kura-kura yang cukup lambat, maka membutuhkan waktu yang lama bagi kura-kura untuk sampai di garis finish. "Ah.. jadi ngantuk.. Lebih baik aku tidur sejenak dulu untuk menunggu kura-kura tiba di sini. denagn langkah yang begitu lambat, butuh waktu lama baginya untuk mengejar aku". Kata kelinci kemudian tertidur. Tapi udara bawah pohon yang cukup sejuk di tambah dengan hembusan angin sepoi-sepoi yang cukup segar, membuat kelinci tertidur cukup pulas. Bahkan dia tak menyadari ketika kura-kura berjalan melewatinya.

              Ketika dia terbangun, semua sudah terlambat. Kura-kura sudah menapakan langkah terakhirnya tepat di garis finish sehingga kelinci tak bisa mendahuluinya. Ahirnya, kelinci yang sombong itu di kalahkan oleh kura-kura yang lambat.

              Akhirnya kura-kura pun bersorak gembira bersama kawan-kawannya. Sementara si kelinci hanya bisa menundukkan kepala dan merasa sangat menyesal karena menganggap remeh si kura-kura.


                   Di sebuah pulau yang indah bernama pulau Ayem, hiduplah seorang tukang kebun yang sangat giat bekerja. Ia bernama Pak Mot. Kebun yang dijaga Pak Mot ditanami berbagai ragam bunga. Bunga yang paling disukai Pak Mot adalah bunga matahari. Setiap hari ia menyempatkan diri berbincang-bincang dengan tanaman bunga mataharinya yang kini tengah bermekaran.

                  “Selamat pagi, teman-teman. Hari ini aku membawa pupuk yang sangat bagus untuk pertumbuhan kalian,” kata Pak Mot.

                  Di antara semua bunga matahari di sana, ada satu yang tumbuh tidak sempurna. Ia sangat kerdil dan kelopak bunganya tidak bercahaya. Pak Mot juga heran mengapa bisa begitu. Padahal ia sudah merawatnya dengan sangat baik. Mungkin belum waktunya saja bunga yang ini tumbuh besar, pikir Pak Mot.

                  Sementara itu, si bunga matahari yang kerdil ini merasa amat frustrasi. Ia ingin sekali seperti teman-temannya yang lain. Punya mahkota bunga yang kuning cemerlang.     

                 Suatu hari datanglah seseorang yang ingin menjual pupuk kepada Pak Mot. Orang tersebut setengah memaksa agar Pak Mot mau membeli pupuknya.

                  “Kalau boleh saya bicara, pupuk ini sungguh istimewa. Lihat bunga matahari yang kerdil itu. Dengan pupuk ini masalah si bunga matahari kerdil akan segera teratasi,” rayu si penjual pupuk.

                  Semula Pak Mot sangat berharap apa yang dikatakan si penjual benar. Namun ketika ia meneliti pupuk yang ditawarkan tersebut, Pak Mot kecewa. Ia tidak bisa menggunakan pupuk yang tidak alami seperti itu. Walaupun mungkin bunga matahari kerdilnya akan bisa tumbuh besar dengan cepat, tetapi hasilnya tidak akan menjadi lebih baik. Bisa jadi setelah tumbuh besar bunga matahari itu langsung mati karena keracunan pupuk yang tidak alami. Karenanya dengan halus dan sopan Pak Mot menolak tawaran pupuk tersebut.

                  Mendengar hal itu, si penjual tampak kecewa. Bahkan sedikit marah karena menurutnya Pak Mot tidak tahu apa-apa soal pupuk. Namun ternyata yang paling kecewa adalah si bunga matahari kerdil. Ia sangat marah karena Pak Mot tidak mau membeli pupuk itu untuk dirinya.

                  Si penjual pupuk pun pulang dengan merengut. Karena tidak memperhatikan jalan, ia sedikit tersandung dan tanpa sadar menjatuhkan pupuknya. Pak Mot tidak memperhatikan karena ia sudah sibuk kembali bekerja. Sementara itu, si bunga matahari kerdil melihatnya. Dan dengan sedikit usaha keras, ia berhasil meraih pupuk itu dengan tangkainya.

                “Kalau Pak Mot tidak mau memberiku pupuk ini, biar aku lakukan sendiri,” sungut si bunga matahari kerdil. Dan tanpa pikir panjang, ia pun memakan pupuk itu.

                  Sungguh ajaib! Seperti kata si penjual pupuk, pupuk tersebut memang istimewa! Hanya dalam beberapa hari, si bunga matahari kerdil sudah tumbuh besar menyaingi teman-temannya. Hingga ia tidak bisa lagi disebut kerdil. Pak Mot sangat terkejut. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Pikirnya, mungkin memang sudah waktunya bunga matahari ini tumbuh besar.

                 Namun, pertumbuhan si bunga matahari tidak berhenti sampai di situ saja. Ia terus tumbuh hingga setinggi rumah Pak Mot. Setinggi pohon kapuk. Terus setinggi bukit. Lalu setinggi gunung. Dan akhirnya ia menutupi dengan kelopaknya seluruh pulau tempat tinggal Pak Mot.

                  Pada awalnya orang-orang sangat terpukau dengan si bunga matahari yang tumbuh sangat besar. Namun ketika ia sudah terlampau besar, orang-orang mulai takut padanya. Alasannya adalah karena ia menghalangi sinar matahari dan membuat bumi berguncang. Orang-orang sepakat untuk menebang si bunga matahari. Pak Mot merasa amat sedih. Namun ia tidak tahu harus berbuat apa. Bunga mataharinya telah membuat pulau Ayem gelap sepanjang hari.

                  Ketika orang-orang tersebut hendak menebang, si bunga matahari ternyata masih terus tumbuh. Ia sudah terlampau besar sehingga manusia tidak sanggup menebangnya. Si bunga matahari merasa lega. Ia sempat ketakutan sebelumnya.

                “Pak Mot,” salah seorang dari para penebang berkata. “Bapak harus segera cari cara untuk menebang tanaman ini. Atau apa saja asal tanaman ini tidak berada di pulau Ayem lagi.”

“Ya, benar. Kami tidak suka dengan tanaman ini,” sahut yang lain.

Mendengar semua perkataan itu, si bunga matahari merasa sangat sedih. Dahulu ketika ia kerdil, ia tidak dikagumi. Dan sekarang ia jadi bunga raksasa dan keadaan malah menjadi tambah parah.

                  Karena sudah tidak tahan dengan semua perkataan itu, si bunga matahari mengeluarkan semua akarnya dari tanah. Ia bermaksud hendak pergi mencari tempat tinggal lain. Namun, rupanya ia masih saja terus tumbuh. Hingga akhirnya kelopak dan semua daunnya menutupi separuh permukaan bumi. Keadaan jadi kacau balau. Bumi berguncang karena tidak stabil.

                 Mengapa bisa begini? Mengapa? Si bunga matahari menangis tersedu-sedu. Dan karena sudah tidak ada tempat lagi di bumi, ia mencari planet lain yang bisa dihuni. Tetapi karena tubuhnya yang sangat besar, akhirnya ia hanya bisa duduk di cincin saturnus, sambil menangis.

Di keheningan alam semesta, si bunga matahari merenungi semua kejadian ini.

Kalau saja aku mengikuti Pak Mot, tidak memakai pupuk itu…

Ia kembali tersedu-sedu. Semua sudah terjadi.

                 Hari-hari si bunga matahari selanjutnya amatlah sepi. Ia rindu teman-temannya yang kuning cemerlang. Ia juga sangat rindu pada Pak Mot yang selalu merawatnya setiap hari. Ia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya sekarang. Bahkan ia tidak tahu harus memberi makan apa dirinya sendiri. Di sini tidak ada tanah yang bisa memberinya nutrisi. Apalagi pupuk alami dari Pak Mot.

                Karenanya, meskipun tubuhnya besar, si bunga matahari sangat layu dan rapuh karena sudah lama tidak makan dan minum.

                Suatu hari, si bunga matahari melihat sesuatu terbang melesat dengan sangat cepat. Kalau dilihat dari arahnya, tampaknya sesuatu itu sedang menuju atmosfer bumi.

Benda apa itu? Si bunga matahari bertanya-tanya.

Ya, ampun, itu meteor! Kalau sampai jatuh ke bumi, bisa membahayakan nyawa penduduk bumi!

               Wajah Pak Mot dan seluruh penghuni kebun bunga melintas di pikiran si bunga matahari. Ia tidak ingin mereka semua celaka. Ia harus melakukan sesuatu untuk menolong bumi dan penduduknya.

 Apa yang harus kulakukan? Si bunga matahari membatin panik. Ia berpikir keras.

                Kemudian ia melihat banyak asteroid melayang antara planet Mars dan Jupiter. Bunga matahari pun mendapat sebuah ide. Kalau ia bisa membuat meteor ini menabrak asteroid tersebut, bumi akan bisa diselamatkan.

                Sebenarnya dibanding dengan dirinya, ukuran meteor tersebut sangat kecil. Bunga matahari hanya perlu menendang meteor tersebut ke arah kumpulan asteroid. Hanya saja, tubuhnya sudah amat layu dan rapuh. Ia hampir tidak punya tenaga untuk menendang meteor itu. Namun ia tidak berputus asa. Dengan usaha keras, akhirnya ia berhasil menendang meteor tersebut ke arah kumpulan asteroid.

                Ketika si meteor dan asteroid bertabrakan, kedua benda angkasa itu hancur. Malangnya, tubuh si bunga matahari yang lemah ikut terlempar ke arah kumpulan asteroid itu. Dan karena ia sudah begitu rapuh, tubuh bunga matahari pun ikut hancur…

               Beberapa waktu selang kejadian tabrakan tersebut, Pak Mot mendapati sesuatu di kebun bunganya. Sebuah tunas baru saja muncul di tempat tumbuh si bunga matahari kerdil sebelumnya.

               Bagaimana tunas ini bisa muncul? Aku belum menanam bibit baru di sini, Pak Mot bertanya-tanya dalam hati.

              “Selamat pagi, sobat baru. Kali ini aku akan berusaha lebih baik lagi. Agar kau bisa tumbuh dengan sangat cemerlang,” kata Pak Mot sambil tersenyum.

             Ternyata Pak Mot tidak tahu. Ketika si bunga matahari raksasa hancur karena tabrakan meteor, salah satu benihnya jatuh ke bumi. Tepatnya ke tempat ia semula tumbuh di kebun bunga Pak Mot.

             Dan seterusnya si bunga matahari itu tumbuh dengan sehat. Tampaknya waktunya telah tiba untuk dirinya menjadi bunga matahari yang tumbuh kuning cemerlang.


                   Di sebuah pulau yang indah bernama pulau Ayem, hiduplah seorang tukang kebun yang sangat giat bekerja. Ia bernama Pak Mot. Kebun yang dijaga Pak Mot ditanami berbagai ragam bunga. Bunga yang paling disukai Pak Mot adalah bunga matahari. Setiap hari ia menyempatkan diri berbincang-bincang dengan tanaman bunga mataharinya yang kini tengah bermekaran.

                  “Selamat pagi, teman-teman. Hari ini aku membawa pupuk yang sangat bagus untuk pertumbuhan kalian,” kata Pak Mot.

                  Di antara semua bunga matahari di sana, ada satu yang tumbuh tidak sempurna. Ia sangat kerdil dan kelopak bunganya tidak bercahaya. Pak Mot juga heran mengapa bisa begitu. Padahal ia sudah merawatnya dengan sangat baik. Mungkin belum waktunya saja bunga yang ini tumbuh besar, pikir Pak Mot.

                  Sementara itu, si bunga matahari yang kerdil ini merasa amat frustrasi. Ia ingin sekali seperti teman-temannya yang lain. Punya mahkota bunga yang kuning cemerlang.     

                 Suatu hari datanglah seseorang yang ingin menjual pupuk kepada Pak Mot. Orang tersebut setengah memaksa agar Pak Mot mau membeli pupuknya.

                  “Kalau boleh saya bicara, pupuk ini sungguh istimewa. Lihat bunga matahari yang kerdil itu. Dengan pupuk ini masalah si bunga matahari kerdil akan segera teratasi,” rayu si penjual pupuk.

                  Semula Pak Mot sangat berharap apa yang dikatakan si penjual benar. Namun ketika ia meneliti pupuk yang ditawarkan tersebut, Pak Mot kecewa. Ia tidak bisa menggunakan pupuk yang tidak alami seperti itu. Walaupun mungkin bunga matahari kerdilnya akan bisa tumbuh besar dengan cepat, tetapi hasilnya tidak akan menjadi lebih baik. Bisa jadi setelah tumbuh besar bunga matahari itu langsung mati karena keracunan pupuk yang tidak alami. Karenanya dengan halus dan sopan Pak Mot menolak tawaran pupuk tersebut.

                  Mendengar hal itu, si penjual tampak kecewa. Bahkan sedikit marah karena menurutnya Pak Mot tidak tahu apa-apa soal pupuk. Namun ternyata yang paling kecewa adalah si bunga matahari kerdil. Ia sangat marah karena Pak Mot tidak mau membeli pupuk itu untuk dirinya.

                  Si penjual pupuk pun pulang dengan merengut. Karena tidak memperhatikan jalan, ia sedikit tersandung dan tanpa sadar menjatuhkan pupuknya. Pak Mot tidak memperhatikan karena ia sudah sibuk kembali bekerja. Sementara itu, si bunga matahari kerdil melihatnya. Dan dengan sedikit usaha keras, ia berhasil meraih pupuk itu dengan tangkainya.

                “Kalau Pak Mot tidak mau memberiku pupuk ini, biar aku lakukan sendiri,” sungut si bunga matahari kerdil. Dan tanpa pikir panjang, ia pun memakan pupuk itu.

                  Sungguh ajaib! Seperti kata si penjual pupuk, pupuk tersebut memang istimewa! Hanya dalam beberapa hari, si bunga matahari kerdil sudah tumbuh besar menyaingi teman-temannya. Hingga ia tidak bisa lagi disebut kerdil. Pak Mot sangat terkejut. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Pikirnya, mungkin memang sudah waktunya bunga matahari ini tumbuh besar.

                 Namun, pertumbuhan si bunga matahari tidak berhenti sampai di situ saja. Ia terus tumbuh hingga setinggi rumah Pak Mot. Setinggi pohon kapuk. Terus setinggi bukit. Lalu setinggi gunung. Dan akhirnya ia menutupi dengan kelopaknya seluruh pulau tempat tinggal Pak Mot.

                  Pada awalnya orang-orang sangat terpukau dengan si bunga matahari yang tumbuh sangat besar. Namun ketika ia sudah terlampau besar, orang-orang mulai takut padanya. Alasannya adalah karena ia menghalangi sinar matahari dan membuat bumi berguncang. Orang-orang sepakat untuk menebang si bunga matahari. Pak Mot merasa amat sedih. Namun ia tidak tahu harus berbuat apa. Bunga mataharinya telah membuat pulau Ayem gelap sepanjang hari.

                  Ketika orang-orang tersebut hendak menebang, si bunga matahari ternyata masih terus tumbuh. Ia sudah terlampau besar sehingga manusia tidak sanggup menebangnya. Si bunga matahari merasa lega. Ia sempat ketakutan sebelumnya.

                “Pak Mot,” salah seorang dari para penebang berkata. “Bapak harus segera cari cara untuk menebang tanaman ini. Atau apa saja asal tanaman ini tidak berada di pulau Ayem lagi.”

“Ya, benar. Kami tidak suka dengan tanaman ini,” sahut yang lain.

Mendengar semua perkataan itu, si bunga matahari merasa sangat sedih. Dahulu ketika ia kerdil, ia tidak dikagumi. Dan sekarang ia jadi bunga raksasa dan keadaan malah menjadi tambah parah.

                  Karena sudah tidak tahan dengan semua perkataan itu, si bunga matahari mengeluarkan semua akarnya dari tanah. Ia bermaksud hendak pergi mencari tempat tinggal lain. Namun, rupanya ia masih saja terus tumbuh. Hingga akhirnya kelopak dan semua daunnya menutupi separuh permukaan bumi. Keadaan jadi kacau balau. Bumi berguncang karena tidak stabil.

                 Mengapa bisa begini? Mengapa? Si bunga matahari menangis tersedu-sedu. Dan karena sudah tidak ada tempat lagi di bumi, ia mencari planet lain yang bisa dihuni. Tetapi karena tubuhnya yang sangat besar, akhirnya ia hanya bisa duduk di cincin saturnus, sambil menangis.

Di keheningan alam semesta, si bunga matahari merenungi semua kejadian ini.

Kalau saja aku mengikuti Pak Mot, tidak memakai pupuk itu…

Ia kembali tersedu-sedu. Semua sudah terjadi.

                 Hari-hari si bunga matahari selanjutnya amatlah sepi. Ia rindu teman-temannya yang kuning cemerlang. Ia juga sangat rindu pada Pak Mot yang selalu merawatnya setiap hari. Ia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya sekarang. Bahkan ia tidak tahu harus memberi makan apa dirinya sendiri. Di sini tidak ada tanah yang bisa memberinya nutrisi. Apalagi pupuk alami dari Pak Mot.

                Karenanya, meskipun tubuhnya besar, si bunga matahari sangat layu dan rapuh karena sudah lama tidak makan dan minum.

                Suatu hari, si bunga matahari melihat sesuatu terbang melesat dengan sangat cepat. Kalau dilihat dari arahnya, tampaknya sesuatu itu sedang menuju atmosfer bumi.

Benda apa itu? Si bunga matahari bertanya-tanya.

Ya, ampun, itu meteor! Kalau sampai jatuh ke bumi, bisa membahayakan nyawa penduduk bumi!

               Wajah Pak Mot dan seluruh penghuni kebun bunga melintas di pikiran si bunga matahari. Ia tidak ingin mereka semua celaka. Ia harus melakukan sesuatu untuk menolong bumi dan penduduknya.

 Apa yang harus kulakukan? Si bunga matahari membatin panik. Ia berpikir keras.

                Kemudian ia melihat banyak asteroid melayang antara planet Mars dan Jupiter. Bunga matahari pun mendapat sebuah ide. Kalau ia bisa membuat meteor ini menabrak asteroid tersebut, bumi akan bisa diselamatkan.

                Sebenarnya dibanding dengan dirinya, ukuran meteor tersebut sangat kecil. Bunga matahari hanya perlu menendang meteor tersebut ke arah kumpulan asteroid. Hanya saja, tubuhnya sudah amat layu dan rapuh. Ia hampir tidak punya tenaga untuk menendang meteor itu. Namun ia tidak berputus asa. Dengan usaha keras, akhirnya ia berhasil menendang meteor tersebut ke arah kumpulan asteroid.

                Ketika si meteor dan asteroid bertabrakan, kedua benda angkasa itu hancur. Malangnya, tubuh si bunga matahari yang lemah ikut terlempar ke arah kumpulan asteroid itu. Dan karena ia sudah begitu rapuh, tubuh bunga matahari pun ikut hancur…

               Beberapa waktu selang kejadian tabrakan tersebut, Pak Mot mendapati sesuatu di kebun bunganya. Sebuah tunas baru saja muncul di tempat tumbuh si bunga matahari kerdil sebelumnya.

               Bagaimana tunas ini bisa muncul? Aku belum menanam bibit baru di sini, Pak Mot bertanya-tanya dalam hati.

              “Selamat pagi, sobat baru. Kali ini aku akan berusaha lebih baik lagi. Agar kau bisa tumbuh dengan sangat cemerlang,” kata Pak Mot sambil tersenyum.

             Ternyata Pak Mot tidak tahu. Ketika si bunga matahari raksasa hancur karena tabrakan meteor, salah satu benihnya jatuh ke bumi. Tepatnya ke tempat ia semula tumbuh di kebun bunga Pak Mot.

             Dan seterusnya si bunga matahari itu tumbuh dengan sehat. Tampaknya waktunya telah tiba untuk dirinya menjadi bunga matahari yang tumbuh kuning cemerlang.


              Suatu hari di sebuah kerajaan, seorang raja yang sudah berusia lanjut memanggil ketiga putranya yang sudah dewasa. Raja itu berkata " Anak-anakku, aku sudah tua, sudah saatnya salah satu dari kalian menggantikan aku sebagai raja.Besok, kalian akan diuji didepan cermin ajaib untuk menentukan siapa diantara kalian yang layak menjadi raja. Tiba-tiba salah seorang anak dari raja bertanya" Ayah, kenapa harus diuji didepan cermin ajaib?kenapa tidak dengan adu kekuatan saja?

                Rajapun menjawab " ya, anakku. kalian akan diuji didepan cermin ajaib, karena cermin tersebut merupakan warisan turun temurun. dan cermin itu selalu digunakan untuk menguji calon calon raja.

                Seorang Raja tidak harus kuat fisik, tapi harus mempunyai hati yang bersih, dan cermin itu akan menampakkan sifat asli seseorang.

Setelah mendapat penjelasan dari raja, ketiga anaknya pun pergi untuk mempersiapkan diri

               Keesokan harinya, mereka menghadap raja dengan wajah berseri.Mereka berdandan dengan sangat elok.Setiap orang yang dilaluinya pasti berdecak kagum melihat ketampanan ketiga putra raja tersebut.

"Apakah kalian sudah siap?" tanya Raja.
" Sudah, Ayahanda !" jawab ketiganya serempak
"Pengawal, bawa kemari cermin ajaib itu!" kata Raja kepada pengawal nya.

                 Sejenak kemudian cermin yang berbentuk hati itupun dibawa dihadapan Raja.Ketiga putra Raja diminta maju satu persatu dan bercermin beberapa saat.

                 Betapa kagetnya ketiga putra Raja ketika melihat wajah mereka kedalam cermin.Putra pertama giginya bertaring, Putra kedua kepalanya bertanduk, dan Putra ketiga matanya merah menyala.
Wajah mereka yang tampan menjadi sangat menakutkan

                Ketiga Putra Raja itupun tertunduk malu. Raja hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Raja tidak menduga kalau ketiga putranya ternyata mempunyai sifat asli yang tidak baik.
"Semuanya tidak memenuhi syarat untuk menggantikanku," kata Raja.

                Kemudian Rajapun memerintahkan pengawal-pengawalnya untuk mengumumkan sayembara bahwa  siapapun yang mempunyai pantulan tubuh yang baik berhak menggantikan raja.
Sejak itu, banyak sekali orang yang ikut dalam sayembara tersebut.Tidak hanya dari kalangan pejabat,cerdik pandai,kaum terpelajar, tapi juga dari rakyat biasa.Tetapi tidak ada satupun yang mempunyai pantulan tubuh yang baik.Ada saja sifat buruk mereka.

                Tiba-tiba, datang seorang buruk rupa bersama ibunya ke Istana.Berkali-kali, pengawal mengusir mereka, tetapi mereka tetap bersikukuh ingin mengikuti sayembara tersebut.

                "Biarkan pemuda itu mengikuti sayembara !"kata Raja.Pemuda buruk rupa itupun berdiri menghadap cermin ajaib. Semua mata terbelalak melihat pantulan yang ada dicermin.Pantulan pemuda buruk rupa itu sangat tampan, wajahnya bersinar cemerlang,
" Pemuda ini berhak menggantikanku naik tahta!"kata sang Raja. 

                Tetapi tiba-tiba, ibunda pemuda buruk rupa tersebut bersimpuh dikaki Raja. " Kanda, apakah engkau telah melupakan kami?" Aku permaisurimu dan pemuda buruk rupa itu adalah anakmu yang telah terbuang di hutan bertahun-tahun karena fitnah kejam dari selir kerajaan ." Sekarang aku ingin menunjukan bahwa hati anakku bersih melalui cermin ajaib ini,"
Raja terkejut. 

               " jadi, cerita tentang pelarianmu meninggalkan istana itu fitnah?dan, ini putraku?" Permaisuri mengangguk. Ketiga putra Raja dan Ibu selir saling berpandangan, mereka ketakutan karena perbuatan jahat mereka terbongkar.

"Pengawal, tangkap ibu selir!" perintah Raja.

              Tetapi pemuda buruk rupa mencegah raja untuk menangkap ibu selir. "Ayahanda, aku dan ibunda sudah memaafkan ibu selir. Mulai sekarang, mari kita bangun kerajaan ini dengan hati bersih."
Nah.......sejak saat itu mereka hidup bersama dan membangun kerajaan mereka dengan adil dan bijaksana.


              Suatu hari di sebuah kerajaan, seorang raja yang sudah berusia lanjut memanggil ketiga putranya yang sudah dewasa. Raja itu berkata " Anak-anakku, aku sudah tua, sudah saatnya salah satu dari kalian menggantikan aku sebagai raja.Besok, kalian akan diuji didepan cermin ajaib untuk menentukan siapa diantara kalian yang layak menjadi raja. Tiba-tiba salah seorang anak dari raja bertanya" Ayah, kenapa harus diuji didepan cermin ajaib?kenapa tidak dengan adu kekuatan saja?

                Rajapun menjawab " ya, anakku. kalian akan diuji didepan cermin ajaib, karena cermin tersebut merupakan warisan turun temurun. dan cermin itu selalu digunakan untuk menguji calon calon raja.

                Seorang Raja tidak harus kuat fisik, tapi harus mempunyai hati yang bersih, dan cermin itu akan menampakkan sifat asli seseorang.

Setelah mendapat penjelasan dari raja, ketiga anaknya pun pergi untuk mempersiapkan diri

               Keesokan harinya, mereka menghadap raja dengan wajah berseri.Mereka berdandan dengan sangat elok.Setiap orang yang dilaluinya pasti berdecak kagum melihat ketampanan ketiga putra raja tersebut.

"Apakah kalian sudah siap?" tanya Raja.
" Sudah, Ayahanda !" jawab ketiganya serempak
"Pengawal, bawa kemari cermin ajaib itu!" kata Raja kepada pengawal nya.

                 Sejenak kemudian cermin yang berbentuk hati itupun dibawa dihadapan Raja.Ketiga putra Raja diminta maju satu persatu dan bercermin beberapa saat.

                 Betapa kagetnya ketiga putra Raja ketika melihat wajah mereka kedalam cermin.Putra pertama giginya bertaring, Putra kedua kepalanya bertanduk, dan Putra ketiga matanya merah menyala.
Wajah mereka yang tampan menjadi sangat menakutkan

                Ketiga Putra Raja itupun tertunduk malu. Raja hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Raja tidak menduga kalau ketiga putranya ternyata mempunyai sifat asli yang tidak baik.
"Semuanya tidak memenuhi syarat untuk menggantikanku," kata Raja.

                Kemudian Rajapun memerintahkan pengawal-pengawalnya untuk mengumumkan sayembara bahwa  siapapun yang mempunyai pantulan tubuh yang baik berhak menggantikan raja.
Sejak itu, banyak sekali orang yang ikut dalam sayembara tersebut.Tidak hanya dari kalangan pejabat,cerdik pandai,kaum terpelajar, tapi juga dari rakyat biasa.Tetapi tidak ada satupun yang mempunyai pantulan tubuh yang baik.Ada saja sifat buruk mereka.

                Tiba-tiba, datang seorang buruk rupa bersama ibunya ke Istana.Berkali-kali, pengawal mengusir mereka, tetapi mereka tetap bersikukuh ingin mengikuti sayembara tersebut.

                "Biarkan pemuda itu mengikuti sayembara !"kata Raja.Pemuda buruk rupa itupun berdiri menghadap cermin ajaib. Semua mata terbelalak melihat pantulan yang ada dicermin.Pantulan pemuda buruk rupa itu sangat tampan, wajahnya bersinar cemerlang,
" Pemuda ini berhak menggantikanku naik tahta!"kata sang Raja. 

                Tetapi tiba-tiba, ibunda pemuda buruk rupa tersebut bersimpuh dikaki Raja. " Kanda, apakah engkau telah melupakan kami?" Aku permaisurimu dan pemuda buruk rupa itu adalah anakmu yang telah terbuang di hutan bertahun-tahun karena fitnah kejam dari selir kerajaan ." Sekarang aku ingin menunjukan bahwa hati anakku bersih melalui cermin ajaib ini,"
Raja terkejut. 

               " jadi, cerita tentang pelarianmu meninggalkan istana itu fitnah?dan, ini putraku?" Permaisuri mengangguk. Ketiga putra Raja dan Ibu selir saling berpandangan, mereka ketakutan karena perbuatan jahat mereka terbongkar.

"Pengawal, tangkap ibu selir!" perintah Raja.

              Tetapi pemuda buruk rupa mencegah raja untuk menangkap ibu selir. "Ayahanda, aku dan ibunda sudah memaafkan ibu selir. Mulai sekarang, mari kita bangun kerajaan ini dengan hati bersih."
Nah.......sejak saat itu mereka hidup bersama dan membangun kerajaan mereka dengan adil dan bijaksana.

Most Viewed

► RECOMMENDED

CopyRight © 2016 DongengLah | BLOG RIEZKYAA RK | R.K | RIZKY KUSWARA |