Minggu, 05 Agustus 2018


            Raja Triton adalah raja lautan yang perkasa, ia mempunyai banyak anak perempuan.

           Mereka mencintai dunia bawah laut dimana tempat mereka tinggal. Tetapi Ariel yaitu anak bungsunya, memimpikan dunia di atas permukaan air, dunia manusia.

            Meskipun ayahnya telah memperingatkannya agar tidak ke dunia manusia, Ariel mengabaikannya. Dia sering berenang ke permukaan laut untuk melihat dunia yang berada di atas permukaan air.

          Ariel dan sahabatnya yang bernama Flounder, senang sekali mengunjungi Skatel si burung camar.

             Skatel itu memberitahu mereka tentang segala barang manusia yang ditemukan Ariel di dasar laut.

              Suatu hari Raja Triton mengetahui bahwa Ariel sering pergi ke permukaan laut. Mengetahui itu Raja Triton sangat marah.

               Dia mencemaskan keselamatan anak perempuannya, Ariel. Raja Triton meminta sahabat kepercayaannya, Sebastian si kepiting untuk mengawasi Ariel.

              Beberapa hari kemudian Ariel melihat ada kapal melintas di permukaan laut.

             Manusiaaaa!!! seru Ariel sambil bergegas berenang mendekati kapal itu.


            Oh, tidak! teriak Sebastian si kepiting. Sebastian dan Flounder segera mengejar Ariel.

             Ketika Ariel muncul di permukaan air, Ariel melihat sebuah kapal besar penuh pelaut yang bernyanyi dan menari- nari.

             Mata Ariel bercahaya ketika dia melihat pemuda gagah, para pelaut lain memanggilnya Pangeran Erik.

              Ariel jatuh cinta pada pangeran Erik di pandangan pertama itu. Tiba-tiba langit menjadi gelap dan petir menyambar-nyambar.

              Kapal yang dinaiki Pangeran Erik bukanlah tandingan badai yang dasyat itu. Kapal itu terombang-ambing, ombak begitu besar dan seketika Pangeran Erik terlempar ke laut.

Aku harus menyelamatkannya!teriak Ariel.

               Dengan cepat Ariel berenang ke tempat Pangeran Erik terlempar, Pangeran Erik hampir tenggelam, lalu Ariel membawanya berenang ke tepi pantai.

              Pangeran Erik tidak bergerak ketika Ariel menyentuh wajahnya dengan lembut dan menyanyikan sebuah lagu cinta yang indah untuknya.

               Sebuah nyanyian yang indah dengan suara Ariel yang merdu. Tak lama kemudian Ariel mendengar anak buah Pangeran Erik sedang mencarinya. Ariel tak ingin dilihat manusia.

               Diciumnya Pangeran Erik, lalu Ariel segera menyelam kembali ke laut.

              Pangeran Erik siuman dan menemukan Sir Grimsby, seorang pelayannya yang setia di sisinya.

               Apa yang terjadi?anya Sir Grimsby kepada Pangeran Erik.

Dia senang Pangeran Erik masih hidup.

             Ada seorang gadis,kata Pangeran yang masih kelihatan bingung.

               Seorang gadis telah menyelamatkan aku lalu menyanyi. Suaranya begitu merdu. Belum pernah aku mendengar suara semerdu itu. Aku ingin menemukan gadis itu dan aku ingin menikahinya!Rupanya Pangeran Erik juga telah jatuh cinta pada pandangan pertama.

              Raja Triton mendengar bahwa Ariel jatuh cinta pada seorang manusia, mengetahui hal itu Raja Triton sangat marah. Dia segera berenang ke gua tempat Ariel menyimpan koleksi barang-barang miliknya.


Ayah, aku mencintainya! kata Ariel,

Aku ingin bersamanya!

            Dia itu manusia, pemakan ikan!teriak Raja Triton,Tidak boleh! Diangkatlah trisula saktinya.

           Sambaran-sambaran kilat dari trisula sakti itu menghancurkan semua harta kesayangan Ariel. Lalu Raja Triton itu pergi. Ariel merasa sangat sedih dan menangis.

              Sementara itu, tak jauh dari situ, kekuatan jahat sedang bekerja di kerajaan bawah laut. Seorang penyihir laut yang bernama Ursula, ia dulu memerintah kerajaan bawah laut sebelum Raja Triton, penyihir itu sedang mencari cara untuk menggulingkan kepemimpinan Raja Triton.

              Melalui bola kristalnya, Ursula melihat Ariel yang sedang menangis. Si penyihir itu mendapat ide,

Aku bisa mengalahkan Raja Triton lewat anaknya.

               Lalu si penyihir itu mengirim sepasang pelayan belutnya yang bernama Flotsam dan Jetsam untuk pergi ke gua dimana Ariel berada.

               Flotsam dan Jetsam berhasil meyakinkan Ariel bahwa Ursula bisa membantunya mendapatkan Pangeran Erik yang dicintainya.

                Saat itu Ariel sedang sedih sekali, dia mengabaikan peringatan Sebastian si kepiting dan ikut pergi bersama Flotsam dan Jetsam untuk menemui si penyihir laut.

               Aku punya tawaran untukmu, anak cantik, kata Ursula ketika Ariel sudah memasuki tempat kediamannya.

Tawaran? Tanya Ariel lugu.


                Ya, kata si Penyihir, Aku akan membuatmu menjadi manusia selama tiga hari dan kau akan menemui Pangeranmu.

                Jika kau bisa membuatnya menciummu sebelum matahari terbenam pada hari ketiga, kau akan bersama selamanya sebagai manusia. Jika dia tidak menciummu, kau akan berubah kembali menjadi putri duyung, dan kau akan menjadi tawananku! Dan imbalan untuk tawaran ini adalah suaramu, kata si penyihir.

               Suaraku? tanya Ariel terkejut, Aku tak akan bisa berbicara atau menyanyi. Bagaimana aku bisa membuat Pangeran jatuh cinta padaku?


               Kau masih punya wajahmu yang cantik, jawab penyihir itu.

               Lalu Ariel menyetujui tawaran Ursula, si penyihir laut itu menggunakan kekuatan sihirnya. Sihir itu membuat ekor Ariel lenyap.

              Kini Ariel mempunyai sepasang kaki dan Ariel telah menjadi manusia. Pada saat yang bersamaan suaranya meninggalkan tubuhnya dan ditangkap dalam sebuah kerang oleh si penyihir laut.


               Lalu Ariel ingin mencari Pangeran, Ariel dibantu sahabat-sahabatnya untuk pergi ke pantai. Dia mencoba berbicara kepada mereka, tetapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya.

               Tak lama kemudian Ariel bertemu dengan Pangeran Erik, yang telah jatuh cinta kepadanya sejak mendengarnya bernyanyi.

                Mula-mula Pangeran mengira telah bertemu kembali dengan gadis yang pernah menolongnya. Tetapi Ariel tak dapat berbicara, maka Pangeran Erik mengira bahwa dia keliru.

                 Pangeran Erik kasihan kepada Ariel, ia perlu pakaian, mandi dan juga makan. Lalu dibawalah Ariel ke istananya.

                  Dalam dua hari berikutnya, Pangeran Erik menyukai Ariel, tetapi dia tetap merindukan si gadis yang bersuara merdu. Ketika sedang berperahu berdua, Pangeran Erik sudah hampir mencium Ariel. Sayangnya Flotsam dan Jetsam membalikkan perahu mereka untuk mengganggu mereka.

               Hampir saja kata Ursula yang menyaksikan melalui bola kristalnya.
“Aku harus bertindak sendiri! ujar Ursula. Lalu Ursula meminum ramuan sihir dan berubah menjadi seorang gadis cantik.

               Lalu si penyihir laut yang telah berubah menjadi gadis cantik tersebut menemui Pangeran Erik, penyihir itu menggunakan suara merdu Ariel yang disimpannya dalam kerang dan digantungkan di lehernya.

                Dan seketika pangeran Erik merasa telah menemukan gadis cantik dengan suara merdu yang telah menyelamatkannya.

                 Pada pagi hari ketiga, istana menjadi sibuk. Pangeran Erik akan menikah dengan seorang gadis cantik yang baru saja dijumpainya itu, yang tak lain adalah penyihir laut yang berubah menjadi gadis cantik dengan sihirnya.


Ariel pun patah hati, kasihan sekali Ariel…

                Upacara pernikahan tersebut akan berlangsung di atas kapal baru Pangeran Erik. Skatel kebetulan terbang melintasi kapal itu, tepat ketika si pengantin putri melewati cermin.

                Bayangan yang terpantul di cermin adalah bayangan Penyihir Laut. Skatel menyadari bahwa Pangeran Erik telah ditipu.

              Lalu dia segera menjelaskan hal ini kepada Ariel dan teman-temannya yang lain. Dengan cepat Sebastian menyusun rencana.

               Flounder membantu Ariel untuk naik ke kapal Pangeran Erik. Skatel mengatur sekawanan camar temannya untuk menunda pernikahan.

              Aku akan memberitahu Triton akan hal ini,kata Sebastian.

               Pernikahan Pangeran Erik dan si gadis hampir dilaksanakan, ketika sekawanan burung camar yang dipimpin oleh Skatel, meluncur turun menyerang si pengantin putri.

                 Pengantin putri berteriak. Suara yang keluar adalah suara Penyihir Laut. Ariel naik ke geladak tepat ketika Skatel berhasil menjatuhkan kerang yang berisi suara Ariel dari leher si gadis. Kerang itu pecah dan suara Ariel kembali kepadanya.

                  Oh, Pangeran Erik, aku mencintaimu, kata Ariel.


                  Rupanya memang kau, kata Pangeran Erik.


                  Matahari menghilang di ufuk barat, tepat ketika mereka akan berciuman. Waktu tiga hari yang diberikan kepada Ariel telah habis.

                 Dia berubah kembali menjadi Putri Duyung, sementara si gadis juga berubah menjadi Penyihir Laut. Ursula menyambar Ariel dan terjun ke laut.

                 Berkat pemberitahuan Sebastian, Raja Triton sudah menunggu di sarang Ursula ketika mereka tiba di sana.

                Kulepaskan anakmu jika kau mau menjadi gantinya, seru Ursula.

                Raja Triton setuju. Sekarang Raja Triton yang menjadi tawanan Ursula menggantikan Ariel. Ursula memiliki trisula sakti Triton dan menguasai kerajaan bawah laut.
 
                Tiba- tiba sebuah pedang menusuk bahu penyihir laut itu. Rupanya Pangeran Erik datang untuk menyelamatkan Ariel.

                Ariel berenang ke permukaan laut bersamanya. Tetapi Ursula mengikuti tepat di belakang mereka. Seiring dengan bertambahnya kemarahannya, tubuhnya pun semakin besar, sampai muncul ke atas permukaan laut.

                 Kemudian Pangeran Erik berenang ke arah kapalnya, lalu segera naik. Lalu Pangeran Erik segera menuju ke kemudi dan diarahkan kapalnya ke tubuh Ursula.

                 Tepat ketika Ursula akan mengirim sambaran kilat ke arah Ariel dengan trisulanya, kapal Pangeran Erik menabraknya. Si Penyihir Laut yang jahat binasa.

               Karena Penyihir Laut telah mati, Raja Triton bebas. Dia muncul ke atas permukaan laut dan memegang trisulanya. Raja Triton melihat Ariel sedang menatap Pangeran Erik dengan tatapan cinta.


              Ariel sangat mencintai pangeran itu,kata si Raja Lautan kepada Sebastian yang berada di sampingnya.


Sebastian mengangguk.


              Aku akan rindu padanya,Raja Triton menambahkan, kemudian diangkat trisula saktinya dan diarahkannya kilat ke arah ekor Ariel.

                Seketika ekor si Putri Duyung lenyap dan sekali lagi dia punya kaki. Ariel sekarang menjadi manusia sungguhan.

                Pangeran Erik pun mencium gadis yang dicintainya itu. Tak lama kemudian mereka menikah dan berlayar bersama.

            Raja Triton adalah raja lautan yang perkasa, ia mempunyai banyak anak perempuan.

           Mereka mencintai dunia bawah laut dimana tempat mereka tinggal. Tetapi Ariel yaitu anak bungsunya, memimpikan dunia di atas permukaan air, dunia manusia.

            Meskipun ayahnya telah memperingatkannya agar tidak ke dunia manusia, Ariel mengabaikannya. Dia sering berenang ke permukaan laut untuk melihat dunia yang berada di atas permukaan air.

          Ariel dan sahabatnya yang bernama Flounder, senang sekali mengunjungi Skatel si burung camar.

             Skatel itu memberitahu mereka tentang segala barang manusia yang ditemukan Ariel di dasar laut.

              Suatu hari Raja Triton mengetahui bahwa Ariel sering pergi ke permukaan laut. Mengetahui itu Raja Triton sangat marah.

               Dia mencemaskan keselamatan anak perempuannya, Ariel. Raja Triton meminta sahabat kepercayaannya, Sebastian si kepiting untuk mengawasi Ariel.

              Beberapa hari kemudian Ariel melihat ada kapal melintas di permukaan laut.

             Manusiaaaa!!! seru Ariel sambil bergegas berenang mendekati kapal itu.


            Oh, tidak! teriak Sebastian si kepiting. Sebastian dan Flounder segera mengejar Ariel.

             Ketika Ariel muncul di permukaan air, Ariel melihat sebuah kapal besar penuh pelaut yang bernyanyi dan menari- nari.

             Mata Ariel bercahaya ketika dia melihat pemuda gagah, para pelaut lain memanggilnya Pangeran Erik.

              Ariel jatuh cinta pada pangeran Erik di pandangan pertama itu. Tiba-tiba langit menjadi gelap dan petir menyambar-nyambar.

              Kapal yang dinaiki Pangeran Erik bukanlah tandingan badai yang dasyat itu. Kapal itu terombang-ambing, ombak begitu besar dan seketika Pangeran Erik terlempar ke laut.

Aku harus menyelamatkannya!teriak Ariel.

               Dengan cepat Ariel berenang ke tempat Pangeran Erik terlempar, Pangeran Erik hampir tenggelam, lalu Ariel membawanya berenang ke tepi pantai.

              Pangeran Erik tidak bergerak ketika Ariel menyentuh wajahnya dengan lembut dan menyanyikan sebuah lagu cinta yang indah untuknya.

               Sebuah nyanyian yang indah dengan suara Ariel yang merdu. Tak lama kemudian Ariel mendengar anak buah Pangeran Erik sedang mencarinya. Ariel tak ingin dilihat manusia.

               Diciumnya Pangeran Erik, lalu Ariel segera menyelam kembali ke laut.

              Pangeran Erik siuman dan menemukan Sir Grimsby, seorang pelayannya yang setia di sisinya.

               Apa yang terjadi?anya Sir Grimsby kepada Pangeran Erik.

Dia senang Pangeran Erik masih hidup.

             Ada seorang gadis,kata Pangeran yang masih kelihatan bingung.

               Seorang gadis telah menyelamatkan aku lalu menyanyi. Suaranya begitu merdu. Belum pernah aku mendengar suara semerdu itu. Aku ingin menemukan gadis itu dan aku ingin menikahinya!Rupanya Pangeran Erik juga telah jatuh cinta pada pandangan pertama.

              Raja Triton mendengar bahwa Ariel jatuh cinta pada seorang manusia, mengetahui hal itu Raja Triton sangat marah. Dia segera berenang ke gua tempat Ariel menyimpan koleksi barang-barang miliknya.


Ayah, aku mencintainya! kata Ariel,

Aku ingin bersamanya!

            Dia itu manusia, pemakan ikan!teriak Raja Triton,Tidak boleh! Diangkatlah trisula saktinya.

           Sambaran-sambaran kilat dari trisula sakti itu menghancurkan semua harta kesayangan Ariel. Lalu Raja Triton itu pergi. Ariel merasa sangat sedih dan menangis.

              Sementara itu, tak jauh dari situ, kekuatan jahat sedang bekerja di kerajaan bawah laut. Seorang penyihir laut yang bernama Ursula, ia dulu memerintah kerajaan bawah laut sebelum Raja Triton, penyihir itu sedang mencari cara untuk menggulingkan kepemimpinan Raja Triton.

              Melalui bola kristalnya, Ursula melihat Ariel yang sedang menangis. Si penyihir itu mendapat ide,

Aku bisa mengalahkan Raja Triton lewat anaknya.

               Lalu si penyihir itu mengirim sepasang pelayan belutnya yang bernama Flotsam dan Jetsam untuk pergi ke gua dimana Ariel berada.

               Flotsam dan Jetsam berhasil meyakinkan Ariel bahwa Ursula bisa membantunya mendapatkan Pangeran Erik yang dicintainya.

                Saat itu Ariel sedang sedih sekali, dia mengabaikan peringatan Sebastian si kepiting dan ikut pergi bersama Flotsam dan Jetsam untuk menemui si penyihir laut.

               Aku punya tawaran untukmu, anak cantik, kata Ursula ketika Ariel sudah memasuki tempat kediamannya.

Tawaran? Tanya Ariel lugu.


                Ya, kata si Penyihir, Aku akan membuatmu menjadi manusia selama tiga hari dan kau akan menemui Pangeranmu.

                Jika kau bisa membuatnya menciummu sebelum matahari terbenam pada hari ketiga, kau akan bersama selamanya sebagai manusia. Jika dia tidak menciummu, kau akan berubah kembali menjadi putri duyung, dan kau akan menjadi tawananku! Dan imbalan untuk tawaran ini adalah suaramu, kata si penyihir.

               Suaraku? tanya Ariel terkejut, Aku tak akan bisa berbicara atau menyanyi. Bagaimana aku bisa membuat Pangeran jatuh cinta padaku?


               Kau masih punya wajahmu yang cantik, jawab penyihir itu.

               Lalu Ariel menyetujui tawaran Ursula, si penyihir laut itu menggunakan kekuatan sihirnya. Sihir itu membuat ekor Ariel lenyap.

              Kini Ariel mempunyai sepasang kaki dan Ariel telah menjadi manusia. Pada saat yang bersamaan suaranya meninggalkan tubuhnya dan ditangkap dalam sebuah kerang oleh si penyihir laut.


               Lalu Ariel ingin mencari Pangeran, Ariel dibantu sahabat-sahabatnya untuk pergi ke pantai. Dia mencoba berbicara kepada mereka, tetapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya.

               Tak lama kemudian Ariel bertemu dengan Pangeran Erik, yang telah jatuh cinta kepadanya sejak mendengarnya bernyanyi.

                Mula-mula Pangeran mengira telah bertemu kembali dengan gadis yang pernah menolongnya. Tetapi Ariel tak dapat berbicara, maka Pangeran Erik mengira bahwa dia keliru.

                 Pangeran Erik kasihan kepada Ariel, ia perlu pakaian, mandi dan juga makan. Lalu dibawalah Ariel ke istananya.

                  Dalam dua hari berikutnya, Pangeran Erik menyukai Ariel, tetapi dia tetap merindukan si gadis yang bersuara merdu. Ketika sedang berperahu berdua, Pangeran Erik sudah hampir mencium Ariel. Sayangnya Flotsam dan Jetsam membalikkan perahu mereka untuk mengganggu mereka.

               Hampir saja kata Ursula yang menyaksikan melalui bola kristalnya.
“Aku harus bertindak sendiri! ujar Ursula. Lalu Ursula meminum ramuan sihir dan berubah menjadi seorang gadis cantik.

               Lalu si penyihir laut yang telah berubah menjadi gadis cantik tersebut menemui Pangeran Erik, penyihir itu menggunakan suara merdu Ariel yang disimpannya dalam kerang dan digantungkan di lehernya.

                Dan seketika pangeran Erik merasa telah menemukan gadis cantik dengan suara merdu yang telah menyelamatkannya.

                 Pada pagi hari ketiga, istana menjadi sibuk. Pangeran Erik akan menikah dengan seorang gadis cantik yang baru saja dijumpainya itu, yang tak lain adalah penyihir laut yang berubah menjadi gadis cantik dengan sihirnya.


Ariel pun patah hati, kasihan sekali Ariel…

                Upacara pernikahan tersebut akan berlangsung di atas kapal baru Pangeran Erik. Skatel kebetulan terbang melintasi kapal itu, tepat ketika si pengantin putri melewati cermin.

                Bayangan yang terpantul di cermin adalah bayangan Penyihir Laut. Skatel menyadari bahwa Pangeran Erik telah ditipu.

              Lalu dia segera menjelaskan hal ini kepada Ariel dan teman-temannya yang lain. Dengan cepat Sebastian menyusun rencana.

               Flounder membantu Ariel untuk naik ke kapal Pangeran Erik. Skatel mengatur sekawanan camar temannya untuk menunda pernikahan.

              Aku akan memberitahu Triton akan hal ini,kata Sebastian.

               Pernikahan Pangeran Erik dan si gadis hampir dilaksanakan, ketika sekawanan burung camar yang dipimpin oleh Skatel, meluncur turun menyerang si pengantin putri.

                 Pengantin putri berteriak. Suara yang keluar adalah suara Penyihir Laut. Ariel naik ke geladak tepat ketika Skatel berhasil menjatuhkan kerang yang berisi suara Ariel dari leher si gadis. Kerang itu pecah dan suara Ariel kembali kepadanya.

                  Oh, Pangeran Erik, aku mencintaimu, kata Ariel.


                  Rupanya memang kau, kata Pangeran Erik.


                  Matahari menghilang di ufuk barat, tepat ketika mereka akan berciuman. Waktu tiga hari yang diberikan kepada Ariel telah habis.

                 Dia berubah kembali menjadi Putri Duyung, sementara si gadis juga berubah menjadi Penyihir Laut. Ursula menyambar Ariel dan terjun ke laut.

                 Berkat pemberitahuan Sebastian, Raja Triton sudah menunggu di sarang Ursula ketika mereka tiba di sana.

                Kulepaskan anakmu jika kau mau menjadi gantinya, seru Ursula.

                Raja Triton setuju. Sekarang Raja Triton yang menjadi tawanan Ursula menggantikan Ariel. Ursula memiliki trisula sakti Triton dan menguasai kerajaan bawah laut.
 
                Tiba- tiba sebuah pedang menusuk bahu penyihir laut itu. Rupanya Pangeran Erik datang untuk menyelamatkan Ariel.

                Ariel berenang ke permukaan laut bersamanya. Tetapi Ursula mengikuti tepat di belakang mereka. Seiring dengan bertambahnya kemarahannya, tubuhnya pun semakin besar, sampai muncul ke atas permukaan laut.

                 Kemudian Pangeran Erik berenang ke arah kapalnya, lalu segera naik. Lalu Pangeran Erik segera menuju ke kemudi dan diarahkan kapalnya ke tubuh Ursula.

                 Tepat ketika Ursula akan mengirim sambaran kilat ke arah Ariel dengan trisulanya, kapal Pangeran Erik menabraknya. Si Penyihir Laut yang jahat binasa.

               Karena Penyihir Laut telah mati, Raja Triton bebas. Dia muncul ke atas permukaan laut dan memegang trisulanya. Raja Triton melihat Ariel sedang menatap Pangeran Erik dengan tatapan cinta.


              Ariel sangat mencintai pangeran itu,kata si Raja Lautan kepada Sebastian yang berada di sampingnya.


Sebastian mengangguk.


              Aku akan rindu padanya,Raja Triton menambahkan, kemudian diangkat trisula saktinya dan diarahkannya kilat ke arah ekor Ariel.

                Seketika ekor si Putri Duyung lenyap dan sekali lagi dia punya kaki. Ariel sekarang menjadi manusia sungguhan.

                Pangeran Erik pun mencium gadis yang dicintainya itu. Tak lama kemudian mereka menikah dan berlayar bersama.

Selasa, 21 Februari 2017


              Pada suatu hari si kancil nampak ngantuk sekali. Matanya serasa berat sekali untuk dibuka. “Aaa....rrrrgh”, si kancil nampak sesekali menguap. Karena hari itu cukup cerah, si kancil merasa rugi jika menyia-nyiakannya.

               Ia mulai berjalan-jalan menelusuri hutan untuk mengusir rasa kantuknya. Sampai di atas sebuah bukit, si Kancil berteriak dengan sombongnya, “Wahai penduduk hutan, akulah hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar di hutan ini. Tidak ada yang bisa menandingi kecerdasan dan kepintaranku”.

              Sambil membusungkan dadanya, si Kancil pun mulai berjalan menuruni bukit. Ketika sampai di sungai, ia bertemu dengan seekor siput. “Hai kancil !”, sapa si siput. “Kenapa kamu teriak-teriak? Apakah kamu sedang bergembira?”, tanya si siput. “Tidak, aku hanya ingin memberitahukan pada semua penghuni hutan kalau aku ini hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar”, jawab si kancil dengan sombongnya.

             Siput: “Sombong sekali kamu Kancil, akulah hewan yang paling cerdik di hutan ini”, kata si Siput. “Hahahaha......., mana mungkin” ledek Kancil.

              “Untuk membuktikannya, bagaimana kalau besok pagi kita lomba lari?”, tantang si Siput. “Baiklah, aku terima tantanganmu”, jawab si Kancil.

                 Akhirnya mereka berdua setuju untuk mengadakan perlombaan lari besok pagi.

                  Setelah si Kancil pergi, si siput segera mengumpulkan teman-temannya.

                  Ia meminta tolong agar teman-temannya berbaris dan bersembunyi di jalur perlombaan, dan menjawab kalau si kancil memanggil.

                  Akhirnya hari yang dinanti sudah tiba, kancil dan siput pun sudah siap untuk lomba lari. “Apakah kau sudah siap untuk berlomba lari denganku”, tanya si kancil.

                 “Tentu saja sudah, dan aku pasti menang”, jawab si siput. Kemudian si siput mempersilahkan kancil untuk berlari dahulu dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana si siput.

                  Kancil berjalan dengan santai, dan merasa yakin kalau dia akan menang.

                 Setelah beberapa langkah, si kancil mencoba untuk memanggil si siput. “Siput....sudah sampai mana kamu?”, teriak si kancil. “Aku ada di depanmu!”, teriak si siput.

                  Kancil terheran-heran, dan segera mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil si siput lagi, dan si siput menjawab dengan kata yang sama.”Aku ada didepanmu!”

                   Akhirnya si kancil berlari, tetapi tiap ia panggil si siput, ia selalu muncul dan berkata kalau dia ada depan kancil.

                   Keringatnya bercucuran, kakinya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal. Kancil berlari terus, sampai akhirnya dia melihat garis finish.

                   Wajah kancil sangat gembira sekali, karena waktu dia memanggil siput, sudah tidak ada jawaban lagi. Kancil merasa bahwa dialah pemenang dari perlombaan lari itu.

                    Betapa terkejutnya si kancil, karena dia melihat si siput sudah duduk di batu dekat garis finish. “Hai kancil, kenapa kamu lama sekali? Aku sudah sampai dari tadi!”, teriak si siput.

                   Dengan menundukkan kepala, si kancil menghampiri si siput dan mengakui kekalahannya. “Makanya jangan sombong, kamu memang cerdik dan pandai, tetapi kamu bukanlah yang terpandai dan cerdik”, kata si siput. “Iya, maafkan aku siput, aku tidak akan sombong lagi”, kata si kancil.

              Pada suatu hari si kancil nampak ngantuk sekali. Matanya serasa berat sekali untuk dibuka. “Aaa....rrrrgh”, si kancil nampak sesekali menguap. Karena hari itu cukup cerah, si kancil merasa rugi jika menyia-nyiakannya.

               Ia mulai berjalan-jalan menelusuri hutan untuk mengusir rasa kantuknya. Sampai di atas sebuah bukit, si Kancil berteriak dengan sombongnya, “Wahai penduduk hutan, akulah hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar di hutan ini. Tidak ada yang bisa menandingi kecerdasan dan kepintaranku”.

              Sambil membusungkan dadanya, si Kancil pun mulai berjalan menuruni bukit. Ketika sampai di sungai, ia bertemu dengan seekor siput. “Hai kancil !”, sapa si siput. “Kenapa kamu teriak-teriak? Apakah kamu sedang bergembira?”, tanya si siput. “Tidak, aku hanya ingin memberitahukan pada semua penghuni hutan kalau aku ini hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar”, jawab si kancil dengan sombongnya.

             Siput: “Sombong sekali kamu Kancil, akulah hewan yang paling cerdik di hutan ini”, kata si Siput. “Hahahaha......., mana mungkin” ledek Kancil.

              “Untuk membuktikannya, bagaimana kalau besok pagi kita lomba lari?”, tantang si Siput. “Baiklah, aku terima tantanganmu”, jawab si Kancil.

                 Akhirnya mereka berdua setuju untuk mengadakan perlombaan lari besok pagi.

                  Setelah si Kancil pergi, si siput segera mengumpulkan teman-temannya.

                  Ia meminta tolong agar teman-temannya berbaris dan bersembunyi di jalur perlombaan, dan menjawab kalau si kancil memanggil.

                  Akhirnya hari yang dinanti sudah tiba, kancil dan siput pun sudah siap untuk lomba lari. “Apakah kau sudah siap untuk berlomba lari denganku”, tanya si kancil.

                 “Tentu saja sudah, dan aku pasti menang”, jawab si siput. Kemudian si siput mempersilahkan kancil untuk berlari dahulu dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana si siput.

                  Kancil berjalan dengan santai, dan merasa yakin kalau dia akan menang.

                 Setelah beberapa langkah, si kancil mencoba untuk memanggil si siput. “Siput....sudah sampai mana kamu?”, teriak si kancil. “Aku ada di depanmu!”, teriak si siput.

                  Kancil terheran-heran, dan segera mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil si siput lagi, dan si siput menjawab dengan kata yang sama.”Aku ada didepanmu!”

                   Akhirnya si kancil berlari, tetapi tiap ia panggil si siput, ia selalu muncul dan berkata kalau dia ada depan kancil.

                   Keringatnya bercucuran, kakinya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal. Kancil berlari terus, sampai akhirnya dia melihat garis finish.

                   Wajah kancil sangat gembira sekali, karena waktu dia memanggil siput, sudah tidak ada jawaban lagi. Kancil merasa bahwa dialah pemenang dari perlombaan lari itu.

                    Betapa terkejutnya si kancil, karena dia melihat si siput sudah duduk di batu dekat garis finish. “Hai kancil, kenapa kamu lama sekali? Aku sudah sampai dari tadi!”, teriak si siput.

                   Dengan menundukkan kepala, si kancil menghampiri si siput dan mengakui kekalahannya. “Makanya jangan sombong, kamu memang cerdik dan pandai, tetapi kamu bukanlah yang terpandai dan cerdik”, kata si siput. “Iya, maafkan aku siput, aku tidak akan sombong lagi”, kata si kancil.


Suatu ketika di sebuah desa kecil tinggal empat Brahmana bernama Satyanand, Vidhyanand, Dharmanand dan Sivanand. Mereka tumbuh bersama untuk menjadi teman baik. Satyanand, Vidhyanand, dan Dharmanand sangat berpengetahuan luas. Tetapi Sivanand menghabiskan sebagian besar waktunya untuk makan dan tidur. Dia dianggap bodoh oleh semua orang.

Setelah kelaparan melanda desa. Semua panen gagal. Sungai dan danau mulai mengering. Orang-orang di desa mulai pindah ke desa lain untuk menyelamatkan hidup mereka.

"Kita juga harus pindah ke tempat lain segera atau kita juga akan mati seperti banyak orang lain," kata Satyanand. Mereka semua setuju dengannya.

"Tapi bagaimana dengan Sivanand?" Tanya Satyanand.


“Apakah kita membutuhkannya bersama kita? Dia tidak memiliki keterampilan atau pembelajaran. Kita tidak bisa membawanya bersama kita, "jawab Dharmanand." Dia akan menjadi beban bagi kita. "

"Bagaimana kita bisa meninggalkannya? Dia tumbuh bersama kita, "kata Vidhyanand." Kami akan membagikan apa yang kami dapatkan secara merata di antara kami berempat. "

Mereka semua setuju untuk membawa Sivan

Mereka mengemas semua hal yang diperlukan dan berangkat ke kota terdekat. Di tengah jalan, mereka harus melintasi hutan.


Ketika mereka berjalan melalui hutan, mereka menemukan tulang-tulang binatang. Mereka menjadi penasaran dan berhenti untuk melihat tulang-tulang itu lebih dekat.

"Itu adalah tulang singa," kata Vidhyanand.

Yang lain setuju.

"Ini adalah kesempatan bagus untuk menguji pembelajaran kita," kata Satyanand.

"Aku bisa menyatukan tulang-tulangnya." Jadi, dia menyatukan tulang-tulang itu untuk membentuk kerangka singa.

"Dharmanand berkata," Aku bisa meletakkan otot dan jaringan di atasnya. "Segera seekor singa tak bernyawa terbentang di depan mereka.

"Aku bisa menghembuskan kehidupan ke tubuh itu," kata Vidhyanand.

Tetapi sebelum dia bisa melanjutkan, Sivanand melompat untuk menghentikannya. "Tidak. Jangan! Jika Anda memasukkan kehidupan ke singa itu, itu akan membunuh kita semua, "serunya.

"Oh, pengecut! Anda tidak dapat menghentikan saya untuk menguji keterampilan dan pembelajaran saya, "teriak Vidhyanand yang marah." Anda di sini bersama kami hanya karena saya meminta yang lain untuk membiarkan Anda ikut. "

"Kalau begitu tolong biarkan aku memanjat pohon itu lebih dulu," kata Sivan yang ketakutan berlari ke pohon terdekat. Tepat ketika Sivanand menarik dirinya ke cabang tertinggi pohon, Vidhyanand membawa kehidupan ke singa. Bangun dengan raungan memekakkan telinga, singa menyerang dan membunuh ketiga Brahmana terpelajar.


Suatu ketika di sebuah desa kecil tinggal empat Brahmana bernama Satyanand, Vidhyanand, Dharmanand dan Sivanand. Mereka tumbuh bersama untuk menjadi teman baik. Satyanand, Vidhyanand, dan Dharmanand sangat berpengetahuan luas. Tetapi Sivanand menghabiskan sebagian besar waktunya untuk makan dan tidur. Dia dianggap bodoh oleh semua orang.

Setelah kelaparan melanda desa. Semua panen gagal. Sungai dan danau mulai mengering. Orang-orang di desa mulai pindah ke desa lain untuk menyelamatkan hidup mereka.

"Kita juga harus pindah ke tempat lain segera atau kita juga akan mati seperti banyak orang lain," kata Satyanand. Mereka semua setuju dengannya.

"Tapi bagaimana dengan Sivanand?" Tanya Satyanand.


“Apakah kita membutuhkannya bersama kita? Dia tidak memiliki keterampilan atau pembelajaran. Kita tidak bisa membawanya bersama kita, "jawab Dharmanand." Dia akan menjadi beban bagi kita. "

"Bagaimana kita bisa meninggalkannya? Dia tumbuh bersama kita, "kata Vidhyanand." Kami akan membagikan apa yang kami dapatkan secara merata di antara kami berempat. "

Mereka semua setuju untuk membawa Sivan

Mereka mengemas semua hal yang diperlukan dan berangkat ke kota terdekat. Di tengah jalan, mereka harus melintasi hutan.


Ketika mereka berjalan melalui hutan, mereka menemukan tulang-tulang binatang. Mereka menjadi penasaran dan berhenti untuk melihat tulang-tulang itu lebih dekat.

"Itu adalah tulang singa," kata Vidhyanand.

Yang lain setuju.

"Ini adalah kesempatan bagus untuk menguji pembelajaran kita," kata Satyanand.

"Aku bisa menyatukan tulang-tulangnya." Jadi, dia menyatukan tulang-tulang itu untuk membentuk kerangka singa.

"Dharmanand berkata," Aku bisa meletakkan otot dan jaringan di atasnya. "Segera seekor singa tak bernyawa terbentang di depan mereka.

"Aku bisa menghembuskan kehidupan ke tubuh itu," kata Vidhyanand.

Tetapi sebelum dia bisa melanjutkan, Sivanand melompat untuk menghentikannya. "Tidak. Jangan! Jika Anda memasukkan kehidupan ke singa itu, itu akan membunuh kita semua, "serunya.

"Oh, pengecut! Anda tidak dapat menghentikan saya untuk menguji keterampilan dan pembelajaran saya, "teriak Vidhyanand yang marah." Anda di sini bersama kami hanya karena saya meminta yang lain untuk membiarkan Anda ikut. "

"Kalau begitu tolong biarkan aku memanjat pohon itu lebih dulu," kata Sivan yang ketakutan berlari ke pohon terdekat. Tepat ketika Sivanand menarik dirinya ke cabang tertinggi pohon, Vidhyanand membawa kehidupan ke singa. Bangun dengan raungan memekakkan telinga, singa menyerang dan membunuh ketiga Brahmana terpelajar.


Suatu hari seekor gajah berkeliaran ke hutan untuk mencari teman.

Dia melihat seekor monyet di pohon.

"Apakah kamu akan menjadi temanku?" Tanya gajah itu.

Jawab monyet itu, “Kamu terlalu besar. Anda tidak dapat berayun dari pohon seperti saya. "

Selanjutnya, gajah bertemu kelinci. Dia memintanya untuk menjadi temannya.

Tetapi kelinci itu berkata, "Kamu terlalu besar untuk bermain di liangku!"

Kemudian gajah bertemu seekor katak.

"Maukah kamu menjadi temanku? Dia bertanya.

"Bagaimana saya bisa?" Tanya katak.

"Kamu terlalu besar untuk melompat seperti aku."

Gajah itu kesal. Dia bertemu rubah berikutnya.

“Maukah kamu menjadi temanku?” Dia bertanya pada rubah.

Rubah berkata, "Maaf, Tuan, Anda terlalu besar."

Keesokan harinya, gajah melihat semua binatang di hutan berlari untuk hidup mereka.

Gajah bertanya kepada mereka apa masalahnya.

Beruang itu menjawab, “Ada tingkat di hutan. Dia mencoba melahap kita semua! "

Semua binatang melarikan diri untuk bersembunyi.

Gajah bertanya-tanya apa yang bisa dia lakukan untuk menyelesaikan semua orang di hutan.

Sementara itu, harimau itu terus memakan siapa pun yang dia temukan.

Gajah berjalan mendekati harimau dan berkata, "Tolong, Tuan Tiger, jangan memakan hewan malang ini."

"Pikirkan urusanmu sendiri!" Geram harimau.

Gajah tidak punya pilihan selain memberikan tendangan yang kuat.

Harimau yang ketakutan berlari untuk hidupnya.

Gajah berjalan kembali ke hutan untuk mengumumkan kabar baik kepada semua orang.

Semua binatang berterima kasih pada gajah.

Mereka berkata, "Kamu adalah ukuran yang tepat untuk menjadi teman kita."


Suatu hari seekor gajah berkeliaran ke hutan untuk mencari teman.

Dia melihat seekor monyet di pohon.

"Apakah kamu akan menjadi temanku?" Tanya gajah itu.

Jawab monyet itu, “Kamu terlalu besar. Anda tidak dapat berayun dari pohon seperti saya. "

Selanjutnya, gajah bertemu kelinci. Dia memintanya untuk menjadi temannya.

Tetapi kelinci itu berkata, "Kamu terlalu besar untuk bermain di liangku!"

Kemudian gajah bertemu seekor katak.

"Maukah kamu menjadi temanku? Dia bertanya.

"Bagaimana saya bisa?" Tanya katak.

"Kamu terlalu besar untuk melompat seperti aku."

Gajah itu kesal. Dia bertemu rubah berikutnya.

“Maukah kamu menjadi temanku?” Dia bertanya pada rubah.

Rubah berkata, "Maaf, Tuan, Anda terlalu besar."

Keesokan harinya, gajah melihat semua binatang di hutan berlari untuk hidup mereka.

Gajah bertanya kepada mereka apa masalahnya.

Beruang itu menjawab, “Ada tingkat di hutan. Dia mencoba melahap kita semua! "

Semua binatang melarikan diri untuk bersembunyi.

Gajah bertanya-tanya apa yang bisa dia lakukan untuk menyelesaikan semua orang di hutan.

Sementara itu, harimau itu terus memakan siapa pun yang dia temukan.

Gajah berjalan mendekati harimau dan berkata, "Tolong, Tuan Tiger, jangan memakan hewan malang ini."

"Pikirkan urusanmu sendiri!" Geram harimau.

Gajah tidak punya pilihan selain memberikan tendangan yang kuat.

Harimau yang ketakutan berlari untuk hidupnya.

Gajah berjalan kembali ke hutan untuk mengumumkan kabar baik kepada semua orang.

Semua binatang berterima kasih pada gajah.

Mereka berkata, "Kamu adalah ukuran yang tepat untuk menjadi teman kita."


           Tikus Kota dan Tikus Pedesaan adalah teman. Tikus Pedesaan suatu hari mengundang temannya untuk datang dan melihatnya di rumahnya di ladang. Tikus Kota datang dan mereka duduk untuk makan malam barleycorns dan membasmi yang terakhir yang memiliki rasa yang jelas bersahaja.

           Rasanya tidak terlalu sesuai dengan selera tamu dan saat ini dia berkata dengan, “Sahabatku yang malang, kamu tinggal di sini tidak lebih baik dari semut. Sekarang, Anda harus melihat bagaimana tarif saya! Larder saya adalah klakson banyak yang teratur. Anda harus datang dan tinggal bersama saya dan saya berjanji Anda akan hidup di atas lemak tanah. "

             Jadi ketika dia kembali ke kota, dia membawa Tikus Pedesaan bersamanya dan menunjukkannya ke lemari berisi tepung dan oatmeal, buah ara, madu, dan kurma.

            Tikus Pedesaan belum pernah melihat yang seperti ini dan duduk untuk menikmati kemewahan yang diberikan temannya. Tetapi sebelum mereka mulai dengan baik, pintu lemari terbuka dan seseorang masuk. Kedua Tikus itu pergi dan menyembunyikan diri di lubang yang sempit dan sangat tidak nyaman.

            Saat ini, ketika semua tenang, mereka memberanikan diri lagi. Tetapi ada orang lain datang, dan mereka pergi lagi. Ini terlalu banyak untuk pengunjung. "Selamat tinggal," katanya, "aku pergi. Kamu bisa hidup di pangkuan mewah, aku bisa melihat, tetapi kamu dikelilingi oleh bahaya sedangkan di rumah aku bisa menikmati makan malam sederhana dari akar dan jagung dalam damai."













Moral: Keselamatan adalah kepentingan utama.


           Tikus Kota dan Tikus Pedesaan adalah teman. Tikus Pedesaan suatu hari mengundang temannya untuk datang dan melihatnya di rumahnya di ladang. Tikus Kota datang dan mereka duduk untuk makan malam barleycorns dan membasmi yang terakhir yang memiliki rasa yang jelas bersahaja.

           Rasanya tidak terlalu sesuai dengan selera tamu dan saat ini dia berkata dengan, “Sahabatku yang malang, kamu tinggal di sini tidak lebih baik dari semut. Sekarang, Anda harus melihat bagaimana tarif saya! Larder saya adalah klakson banyak yang teratur. Anda harus datang dan tinggal bersama saya dan saya berjanji Anda akan hidup di atas lemak tanah. "

             Jadi ketika dia kembali ke kota, dia membawa Tikus Pedesaan bersamanya dan menunjukkannya ke lemari berisi tepung dan oatmeal, buah ara, madu, dan kurma.

            Tikus Pedesaan belum pernah melihat yang seperti ini dan duduk untuk menikmati kemewahan yang diberikan temannya. Tetapi sebelum mereka mulai dengan baik, pintu lemari terbuka dan seseorang masuk. Kedua Tikus itu pergi dan menyembunyikan diri di lubang yang sempit dan sangat tidak nyaman.

            Saat ini, ketika semua tenang, mereka memberanikan diri lagi. Tetapi ada orang lain datang, dan mereka pergi lagi. Ini terlalu banyak untuk pengunjung. "Selamat tinggal," katanya, "aku pergi. Kamu bisa hidup di pangkuan mewah, aku bisa melihat, tetapi kamu dikelilingi oleh bahaya sedangkan di rumah aku bisa menikmati makan malam sederhana dari akar dan jagung dalam damai."













Moral: Keselamatan adalah kepentingan utama.


          Alkisah hiduplah seekor singa di hutan. Suatu hari setelah makan berat. Itu tidur di bawah pohon. Setelah beberapa saat, datanglah seekor tikus dan mulai bermain di singa. Tiba-tiba singa itu bangkit dengan amarah dan mencari mereka yang mengganggu tidurnya yang nyenyak. Kemudian ia melihat seekor tikus kecil berdiri gemetar ketakutan. Singa melompat di atasnya dan mulai membunuhnya. Mouse meminta singa untuk memaafkannya. Singa itu merasa kasihan dan meninggalkannya. Tikus itu lari.

           Pada hari lain, singa ditangkap di jaring oleh seorang pemburu. Tikus datang ke sana dan memotong jaring. Karena itu lolos. Setelah itu, tikus dan singa menjadi teman. Mereka hidup bahagia di hutan sesudahnya.


          Alkisah hiduplah seekor singa di hutan. Suatu hari setelah makan berat. Itu tidur di bawah pohon. Setelah beberapa saat, datanglah seekor tikus dan mulai bermain di singa. Tiba-tiba singa itu bangkit dengan amarah dan mencari mereka yang mengganggu tidurnya yang nyenyak. Kemudian ia melihat seekor tikus kecil berdiri gemetar ketakutan. Singa melompat di atasnya dan mulai membunuhnya. Mouse meminta singa untuk memaafkannya. Singa itu merasa kasihan dan meninggalkannya. Tikus itu lari.

           Pada hari lain, singa ditangkap di jaring oleh seorang pemburu. Tikus datang ke sana dan memotong jaring. Karena itu lolos. Setelah itu, tikus dan singa menjadi teman. Mereka hidup bahagia di hutan sesudahnya.

           Dahulu, hiduplah seekor monyet dan seekor kura-kura. Mereka adalah sahabat yang akrab.

            Tak pernah terpisahkan oleh jarak dan waktu. Setiap pagi, mereka selalu jalan bersama, makan bersama, semua selalu bersama.

              Suatu hari, mereka menemukan beberapa biji pisang. "Hei, Ra. Gimana kalau kita tanam biji pisang ini? Siapa tahu berbuah," kata monyet. "Ya, ya. Ayo kita tanam biji pisang ini," kata kura-kura semangat.

              Mereka pun kembali ke rumah mereka masing-masing. Di rumah monyet, ia menanam biji pisang itu di halaman rumahnya.

               Tapi, monyet tidak rajin merawatnya. Terkadang seminggu sekali. Bahkan pernah dalam seminggu tidak dirawat sedikitpun.

                Maka, pohon pisang monyet masih kecil sekali. Sementara itu, kura-kura menanam pohon pisang itu dengan rajin. Dia selalu menyiramnya setiap hari. Akhirnya pohon pisang kura-kura sudah besar dan berbuah.

             Suatu hari, monyet pergi ke rumah kura-kura. Dilihatnya pisang yang sudah besar dan matang.

             Kebetulan juga kura-kura meminta tolong pada monyet. "Sahabat baikku, maukah kau petikkan untukku pisang itu? Tenang saja, kau juga akan kubagi," kata kura-kura.

              Dalam hati monyet, monyet senang. Tapi, ada suatu niat jahat. Dia akan memanjat pohon lalu memakan semua pisang kura-kura tanpa memberinya.

               "Baiklah, aku akan mengambilnya," kata monyet. Monyet lalu memanjat pohon itu.

                Begitu sampai di atas, monyet langsung memakan pisang yang ada di pohon itu.

                Kura-kura kaget dan marah. "Hei sahabatku! Mengapa kau makan pisangku?!" tanya kura-kura marah. Si monyet tak menghiraukannya lagi. Dimakannya semua pisang itu sampai kenyang.

                Tapi salah satu dari dahan pisang itu retak. Akhirnya dahan itu jatuh bersama monyet.

                Si monyet itu pun meringis kesakitan. Tulang punggungnya patah.

           Dahulu, hiduplah seekor monyet dan seekor kura-kura. Mereka adalah sahabat yang akrab.

            Tak pernah terpisahkan oleh jarak dan waktu. Setiap pagi, mereka selalu jalan bersama, makan bersama, semua selalu bersama.

              Suatu hari, mereka menemukan beberapa biji pisang. "Hei, Ra. Gimana kalau kita tanam biji pisang ini? Siapa tahu berbuah," kata monyet. "Ya, ya. Ayo kita tanam biji pisang ini," kata kura-kura semangat.

              Mereka pun kembali ke rumah mereka masing-masing. Di rumah monyet, ia menanam biji pisang itu di halaman rumahnya.

               Tapi, monyet tidak rajin merawatnya. Terkadang seminggu sekali. Bahkan pernah dalam seminggu tidak dirawat sedikitpun.

                Maka, pohon pisang monyet masih kecil sekali. Sementara itu, kura-kura menanam pohon pisang itu dengan rajin. Dia selalu menyiramnya setiap hari. Akhirnya pohon pisang kura-kura sudah besar dan berbuah.

             Suatu hari, monyet pergi ke rumah kura-kura. Dilihatnya pisang yang sudah besar dan matang.

             Kebetulan juga kura-kura meminta tolong pada monyet. "Sahabat baikku, maukah kau petikkan untukku pisang itu? Tenang saja, kau juga akan kubagi," kata kura-kura.

              Dalam hati monyet, monyet senang. Tapi, ada suatu niat jahat. Dia akan memanjat pohon lalu memakan semua pisang kura-kura tanpa memberinya.

               "Baiklah, aku akan mengambilnya," kata monyet. Monyet lalu memanjat pohon itu.

                Begitu sampai di atas, monyet langsung memakan pisang yang ada di pohon itu.

                Kura-kura kaget dan marah. "Hei sahabatku! Mengapa kau makan pisangku?!" tanya kura-kura marah. Si monyet tak menghiraukannya lagi. Dimakannya semua pisang itu sampai kenyang.

                Tapi salah satu dari dahan pisang itu retak. Akhirnya dahan itu jatuh bersama monyet.

                Si monyet itu pun meringis kesakitan. Tulang punggungnya patah.

              Pada suatu hari, si Kancil yang cerdik sedang berjalan-jalan di hutan. Karena merasa haus, Kancil pun mencari sungai agar ia bisa minum.

              Ketika sedang minum, Kancil melihat kalau di seberang sungai ada banyak pohon ketimun, buah yang sangat digemarinya. Tapi sayangnya, arus sungai terlalu deras.

                Kancil tahu bahwa ia tidak mungkin berjalan atau berenang menyeberangi sungai itu.

              Kancil pun berpikir keras. Ia mencari cara untuk menyeberangi sungai yang arusnya deras itu.   

                 Tiba-tiba ada sekelompok buaya yang berenang melewatinya. Kancil pun mendapatkan ide yang cemerlang. "Hai buaya buaya!" teriak Kancil dengan lantang. "Aku punya makanan untuk kalian!" lanjut Kancil.

                  Para buaya itu pun berhenti dan salah satunya ke pinggir sungai mendekati Kancil. "Hmm, kamu benar, kamu lah makanan kami!" katanya. "Eit tunggu dulu," kata Kancil. "Ini aku punya makanan yang sangat banyak, bahkan masih terlalu banyak untuk kalian semua," lanjutnya. "Coba panggil teman-teman kalian yang lainnya, dan akan aku tunjukkan makanan itu," kata Kancil.

                Buaya tadi lalu memanggil teman-temannya yang lain, dan semuanya berkumpul di sungai itu.

                 Karena banyaknya jumlah buaya yang berkumpul, sungai yang lebar dan airnya deras itu sampai hampir penuh.

                 "Oke, sekarang aku harus menghitung jumlah kalian dulu supaya semuanya kebagian!" kata Kancil.

                   Ia pun lalu melompat dari punggung satu buaya ke punggung buaya yang lainnya, sambil menghitung. "Satu, dua, tiga, empat, lima, enam," dan seterusnya, sampai ia tiba di seberang sungai.

                   Sambil berlari pergi, Kancil pun berteriak, "terima kasih buaya-buaya, kalian sudah membantu aku menyeberang sungai!" Beberapa buaya marah karena sudah dibohongi, dan mencoba mengejarnya.

                  Tapi mereka gagal karena Kancil sangat lincah dan cepat.

              Pada suatu hari, si Kancil yang cerdik sedang berjalan-jalan di hutan. Karena merasa haus, Kancil pun mencari sungai agar ia bisa minum.

              Ketika sedang minum, Kancil melihat kalau di seberang sungai ada banyak pohon ketimun, buah yang sangat digemarinya. Tapi sayangnya, arus sungai terlalu deras.

                Kancil tahu bahwa ia tidak mungkin berjalan atau berenang menyeberangi sungai itu.

              Kancil pun berpikir keras. Ia mencari cara untuk menyeberangi sungai yang arusnya deras itu.   

                 Tiba-tiba ada sekelompok buaya yang berenang melewatinya. Kancil pun mendapatkan ide yang cemerlang. "Hai buaya buaya!" teriak Kancil dengan lantang. "Aku punya makanan untuk kalian!" lanjut Kancil.

                  Para buaya itu pun berhenti dan salah satunya ke pinggir sungai mendekati Kancil. "Hmm, kamu benar, kamu lah makanan kami!" katanya. "Eit tunggu dulu," kata Kancil. "Ini aku punya makanan yang sangat banyak, bahkan masih terlalu banyak untuk kalian semua," lanjutnya. "Coba panggil teman-teman kalian yang lainnya, dan akan aku tunjukkan makanan itu," kata Kancil.

                Buaya tadi lalu memanggil teman-temannya yang lain, dan semuanya berkumpul di sungai itu.

                 Karena banyaknya jumlah buaya yang berkumpul, sungai yang lebar dan airnya deras itu sampai hampir penuh.

                 "Oke, sekarang aku harus menghitung jumlah kalian dulu supaya semuanya kebagian!" kata Kancil.

                   Ia pun lalu melompat dari punggung satu buaya ke punggung buaya yang lainnya, sambil menghitung. "Satu, dua, tiga, empat, lima, enam," dan seterusnya, sampai ia tiba di seberang sungai.

                   Sambil berlari pergi, Kancil pun berteriak, "terima kasih buaya-buaya, kalian sudah membantu aku menyeberang sungai!" Beberapa buaya marah karena sudah dibohongi, dan mencoba mengejarnya.

                  Tapi mereka gagal karena Kancil sangat lincah dan cepat.

           Sekali waktu , hiduplah seorang gadis muda yang tidak bahagia. Tidak bahagia dia, karena ibunya telah meninggal, ayahnya menikahi wanita lain, seorang janda dengan dua anak perempuan, dan ibu tirinya tidak menyukainya sedikit pun. Semua hal baik, pikiran yang baik, dan sentuhan yang penuh kasih adalah untuk anak perempuannya sendiri. Dan bukan hanya pikiran dan cinta yang baik, tetapi juga gaun, sepatu, syal, makanan lezat, tempat tidur yang nyaman, serta setiap kenyamanan rumah.

           Semua ini diletakkan untuk anak-anak perempuannya. Tapi, untuk gadis malang yang malang itu, tidak ada apa-apa. Tidak ada gaun, hanya tinjunya yang bisa diinjak-injak. Tidak ada hidangan yang indah, tidak ada apa pun selain sisa. Tidak ada istirahat dan kenyamanan yang bagus. Karena dia harus bekerja keras sepanjang hari, dan hanya ketika malam datang dia diperbolehkan duduk sebentar di dekat api, dekat dengan abu. Itulah bagaimana dia mendapatkan nama panggilannya, karena semua orang memanggilnya Cinderella. Cinderella biasa menghabiskan waktu berjam-jam sendirian berbicara dengan kucing itu. Kucing itu berkata,

           "Miaow", yang benar-benar berarti, "Bergembiralah! Anda memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh saudara tiri Anda dan itulah keindahan."

           Itu memang benar. Cinderella, bahkan berpakaian compang-camping dengan wajah abu-abu berdebu dari arang, adalah gadis yang cantik. Sementara saudara tirinya, tidak peduli betapa indah dan elegan pakaian mereka, masih kikuk, kental dan jelek dan akan selalu begitu.

           Suatu hari, gaun-gaun baru yang indah tiba di rumah. Sebuah bola harus diadakan di Court dan para saudara tiri bersiap untuk pergi ke sana. Cinderella, bahkan tidak berani bertanya, "Bagaimana denganku?" karena dia tahu betul apa jawabannya adalah:

           "Kau? Gadisku sayang, kau tinggal di rumah untuk mencuci piring, menggosok lantai, dan mengecilkan tempat tidur untuk saudara tiri Anda. Mereka akan pulang lelah dan sangat mengantuk." Cinderella mendesah pada kucing itu.

"Ya ampun, aku sangat tidak senang!" dan kucing itu menggumamkan "Miaow".

           Tiba-tiba sesuatu yang luar biasa terjadi. Di dapur, di mana Cinderella duduk sendirian, ada ledakan cahaya dan seorang peri muncul.

           "Jangan khawatir, Cinderella," kata peri itu. "Angin meniupkan desahanmu. Aku tahu kau akan senang pergi ke pesta dansa. Dan memang begitu!"

           "Bagaimana aku bisa, berpakaian compang-camping?" Jawab Cinderella. "Para pelayan akan memalingkan saya!" Peri itu tersenyum. Dengan jentikan tongkat sihirnya ... Cinderella mendapati dirinya mengenakan gaun terindah, yang terindah yang pernah terlihat di alam.

           "Sekarang setelah kita menyelesaikan masalah gaun itu," kata peri itu, "kita harus memberimu pelatih. Wanita sejati tidak akan pernah pergi ke sebuah bola dengan berjalan kaki!"

"Cepat! Ambilkan aku labu!" dia memesan.

"Oh tentu saja," kata Cinderella, bergegas pergi. Lalu peri itu berbalik ke kucing.

"Kamu, bawakan aku tujuh tikus!"

"Tujuh tikus!" kata kucing itu. "Aku juga tidak tahu kalau peri juga makan tikus!"

"Mereka bukan untuk makan, konyol! Lakukan apa yang diperintahkan! ... dan, ingat mereka pasti hidup!"

           Cinderella segera kembali dengan labu halus dan kucing dengan tujuh tikus yang dia tangkap di ruang bawah tanah.

           Dongeng cinderella dalam bahasa inggris "Bagus!" seru peri itu. Dengan jentikan tongkat sihirnya ... keajaiban keajaiban! Labu berubah menjadi pelatih yang berkilau dan tikus-tikus itu menjadi enam kuda putih, sementara tikus ketujuh berubah menjadi seorang kusir, dengan seragam yang cerdas dan membawa cambuk. Cinderella hampir tidak bisa mempercayai matanya.

           "Aku akan menghadirkanmu di Court. Kau akan segera melihat bahwa Pangeran, yang kehormatannya dipegang, akan terpesona oleh kecantikanmu. Tapi ingat! Kau harus meninggalkan bola di tengah malam dan pulang.

           Untuk itu adalah ketika mantra berakhir. Pelatih Anda akan kembali menjadi labu, kuda-kuda akan menjadi tikus lagi dan kusir akan kembali menjadi tikus ... dan Anda akan berpakaian lagi dengan lap dan mengenakan sandal buaya, bukan sandal kecil mungil ini! kamu mengerti?" Cinderella tersenyum dan berkata,

"Ya saya mengerti!"

           Ketika Cinderella memasuki ruang dansa di istana, sebuah keheningan jatuh. Semua orang berhenti di tengah kalimat untuk mengagumi keanggunan, kecantikan, dan keanggunannya.

           Siapa itu?" orang saling bertanya. Kedua saudara tirinya juga bertanya-tanya siapa pendatang baru itu, karena tidak pernah dalam sebulan di hari Minggu, akankah mereka pernah menduga bahwa gadis cantik itu benar-benar Cinderella yang miskin yang berbicara dengan kucing itu!

           Ketika sang pangeran menatap Cinderella, dia terpesona oleh kecantikannya. Berjalan ke arahnya, dia membungkuk dalam dan meminta dia untuk menari. Dan untuk kekecewaan besar semua wanita muda, dia berdansa dengan Cinderella sepanjang malam.

"Siapa kamu, gadis yang adil?" Pangeran terus bertanya padanya. Tetapi Cinderella hanya menjawab:

"Apa bedanya siapa aku! Kamu tidak akan pernah melihatku lagi."

"Oh, tapi aku harus, aku cukup yakin!" dia membalas.

           Cinderella punya waktu yang indah di pesta ... Tapi, tiba-tiba, dia mendengar suara jam: pukulan pertama tengah malam! Dia ingat apa yang dikatakan peri itu, dan tanpa kata selamat tinggal dia menyelinap dari pelukan Pangeran dan berlari menuruni tangga.

           Saat dia berlari, dia kehilangan salah satu sandalnya, tetapi tidak sesaat dia bermimpi berhenti untuk mengambilnya! Jika pukulan terakhir tengah malam terdengar ... oh ... betapa malangnya itu! Dia kabur dan menghilang di malam hari.

           Sang Pangeran, yang sekarang tergila-gila padanya, mengangkat sepatunya dan berkata kepada para menterinya,

           "Pergi dan cari ke mana-mana untuk gadis yang kaki sepatunya cocok. Aku tidak akan pernah puas sampai aku menemukannya!" Jadi, para menteri mencoba sandal di kaki semua gadis ... dan di kaki Cinderella juga ... Kejutan! Sandal itu pas sekali.

           "Gadis yang sangat tidak rapi itu tidak mungkin ada di pesta dansa," bentak ibu tiri. "Katakan pada Pangeran dia harus menikahi salah satu dari dua anak perempuanku! Tidak bisakah kamu melihat betapa jeleknya Cinderella! Tidakkah kamu lihat?"

Tiba-tiba dia berhenti, karena peri itu muncul.

           "Cukup!" dia berseru, mengangkat tongkat sihirnya. Dalam sekejap, Cinderella muncul dalam gaun indah, bersinar dengan pemuda dan kecantikan. Ibu tirinya dan saudara tiri menganga padanya dengan takjub, dan para menteri berkata,

           "Ikutlah dengan kami, gadis yang adil! Sang Pangeran menunggu untuk membawakan cincin pertunangan!" Jadi Cinderella dengan senang hati pergi bersama mereka, dan hidup bahagia selamanya dengan Pangerannya. Dan untuk kucingnya, dia hanya mengatakan "Miaow"!

           Sekali waktu , hiduplah seorang gadis muda yang tidak bahagia. Tidak bahagia dia, karena ibunya telah meninggal, ayahnya menikahi wanita lain, seorang janda dengan dua anak perempuan, dan ibu tirinya tidak menyukainya sedikit pun. Semua hal baik, pikiran yang baik, dan sentuhan yang penuh kasih adalah untuk anak perempuannya sendiri. Dan bukan hanya pikiran dan cinta yang baik, tetapi juga gaun, sepatu, syal, makanan lezat, tempat tidur yang nyaman, serta setiap kenyamanan rumah.

           Semua ini diletakkan untuk anak-anak perempuannya. Tapi, untuk gadis malang yang malang itu, tidak ada apa-apa. Tidak ada gaun, hanya tinjunya yang bisa diinjak-injak. Tidak ada hidangan yang indah, tidak ada apa pun selain sisa. Tidak ada istirahat dan kenyamanan yang bagus. Karena dia harus bekerja keras sepanjang hari, dan hanya ketika malam datang dia diperbolehkan duduk sebentar di dekat api, dekat dengan abu. Itulah bagaimana dia mendapatkan nama panggilannya, karena semua orang memanggilnya Cinderella. Cinderella biasa menghabiskan waktu berjam-jam sendirian berbicara dengan kucing itu. Kucing itu berkata,

           "Miaow", yang benar-benar berarti, "Bergembiralah! Anda memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh saudara tiri Anda dan itulah keindahan."

           Itu memang benar. Cinderella, bahkan berpakaian compang-camping dengan wajah abu-abu berdebu dari arang, adalah gadis yang cantik. Sementara saudara tirinya, tidak peduli betapa indah dan elegan pakaian mereka, masih kikuk, kental dan jelek dan akan selalu begitu.

           Suatu hari, gaun-gaun baru yang indah tiba di rumah. Sebuah bola harus diadakan di Court dan para saudara tiri bersiap untuk pergi ke sana. Cinderella, bahkan tidak berani bertanya, "Bagaimana denganku?" karena dia tahu betul apa jawabannya adalah:

           "Kau? Gadisku sayang, kau tinggal di rumah untuk mencuci piring, menggosok lantai, dan mengecilkan tempat tidur untuk saudara tiri Anda. Mereka akan pulang lelah dan sangat mengantuk." Cinderella mendesah pada kucing itu.

"Ya ampun, aku sangat tidak senang!" dan kucing itu menggumamkan "Miaow".

           Tiba-tiba sesuatu yang luar biasa terjadi. Di dapur, di mana Cinderella duduk sendirian, ada ledakan cahaya dan seorang peri muncul.

           "Jangan khawatir, Cinderella," kata peri itu. "Angin meniupkan desahanmu. Aku tahu kau akan senang pergi ke pesta dansa. Dan memang begitu!"

           "Bagaimana aku bisa, berpakaian compang-camping?" Jawab Cinderella. "Para pelayan akan memalingkan saya!" Peri itu tersenyum. Dengan jentikan tongkat sihirnya ... Cinderella mendapati dirinya mengenakan gaun terindah, yang terindah yang pernah terlihat di alam.

           "Sekarang setelah kita menyelesaikan masalah gaun itu," kata peri itu, "kita harus memberimu pelatih. Wanita sejati tidak akan pernah pergi ke sebuah bola dengan berjalan kaki!"

"Cepat! Ambilkan aku labu!" dia memesan.

"Oh tentu saja," kata Cinderella, bergegas pergi. Lalu peri itu berbalik ke kucing.

"Kamu, bawakan aku tujuh tikus!"

"Tujuh tikus!" kata kucing itu. "Aku juga tidak tahu kalau peri juga makan tikus!"

"Mereka bukan untuk makan, konyol! Lakukan apa yang diperintahkan! ... dan, ingat mereka pasti hidup!"

           Cinderella segera kembali dengan labu halus dan kucing dengan tujuh tikus yang dia tangkap di ruang bawah tanah.

           Dongeng cinderella dalam bahasa inggris "Bagus!" seru peri itu. Dengan jentikan tongkat sihirnya ... keajaiban keajaiban! Labu berubah menjadi pelatih yang berkilau dan tikus-tikus itu menjadi enam kuda putih, sementara tikus ketujuh berubah menjadi seorang kusir, dengan seragam yang cerdas dan membawa cambuk. Cinderella hampir tidak bisa mempercayai matanya.

           "Aku akan menghadirkanmu di Court. Kau akan segera melihat bahwa Pangeran, yang kehormatannya dipegang, akan terpesona oleh kecantikanmu. Tapi ingat! Kau harus meninggalkan bola di tengah malam dan pulang.

           Untuk itu adalah ketika mantra berakhir. Pelatih Anda akan kembali menjadi labu, kuda-kuda akan menjadi tikus lagi dan kusir akan kembali menjadi tikus ... dan Anda akan berpakaian lagi dengan lap dan mengenakan sandal buaya, bukan sandal kecil mungil ini! kamu mengerti?" Cinderella tersenyum dan berkata,

"Ya saya mengerti!"

           Ketika Cinderella memasuki ruang dansa di istana, sebuah keheningan jatuh. Semua orang berhenti di tengah kalimat untuk mengagumi keanggunan, kecantikan, dan keanggunannya.

           Siapa itu?" orang saling bertanya. Kedua saudara tirinya juga bertanya-tanya siapa pendatang baru itu, karena tidak pernah dalam sebulan di hari Minggu, akankah mereka pernah menduga bahwa gadis cantik itu benar-benar Cinderella yang miskin yang berbicara dengan kucing itu!

           Ketika sang pangeran menatap Cinderella, dia terpesona oleh kecantikannya. Berjalan ke arahnya, dia membungkuk dalam dan meminta dia untuk menari. Dan untuk kekecewaan besar semua wanita muda, dia berdansa dengan Cinderella sepanjang malam.

"Siapa kamu, gadis yang adil?" Pangeran terus bertanya padanya. Tetapi Cinderella hanya menjawab:

"Apa bedanya siapa aku! Kamu tidak akan pernah melihatku lagi."

"Oh, tapi aku harus, aku cukup yakin!" dia membalas.

           Cinderella punya waktu yang indah di pesta ... Tapi, tiba-tiba, dia mendengar suara jam: pukulan pertama tengah malam! Dia ingat apa yang dikatakan peri itu, dan tanpa kata selamat tinggal dia menyelinap dari pelukan Pangeran dan berlari menuruni tangga.

           Saat dia berlari, dia kehilangan salah satu sandalnya, tetapi tidak sesaat dia bermimpi berhenti untuk mengambilnya! Jika pukulan terakhir tengah malam terdengar ... oh ... betapa malangnya itu! Dia kabur dan menghilang di malam hari.

           Sang Pangeran, yang sekarang tergila-gila padanya, mengangkat sepatunya dan berkata kepada para menterinya,

           "Pergi dan cari ke mana-mana untuk gadis yang kaki sepatunya cocok. Aku tidak akan pernah puas sampai aku menemukannya!" Jadi, para menteri mencoba sandal di kaki semua gadis ... dan di kaki Cinderella juga ... Kejutan! Sandal itu pas sekali.

           "Gadis yang sangat tidak rapi itu tidak mungkin ada di pesta dansa," bentak ibu tiri. "Katakan pada Pangeran dia harus menikahi salah satu dari dua anak perempuanku! Tidak bisakah kamu melihat betapa jeleknya Cinderella! Tidakkah kamu lihat?"

Tiba-tiba dia berhenti, karena peri itu muncul.

           "Cukup!" dia berseru, mengangkat tongkat sihirnya. Dalam sekejap, Cinderella muncul dalam gaun indah, bersinar dengan pemuda dan kecantikan. Ibu tirinya dan saudara tiri menganga padanya dengan takjub, dan para menteri berkata,

           "Ikutlah dengan kami, gadis yang adil! Sang Pangeran menunggu untuk membawakan cincin pertunangan!" Jadi Cinderella dengan senang hati pergi bersama mereka, dan hidup bahagia selamanya dengan Pangerannya. Dan untuk kucingnya, dia hanya mengatakan "Miaow"!

          Pernah ada seekor kambing tua yang memiliki tujuh anak kecil, dan mencintai mereka dengan penuh kasih sayang seorang ibu bagi anak-anaknya. Suatu hari dia ingin pergi ke hutan dan mengambil beberapa makanan.

          Jadi dia memanggil ketujuh putrinya dan berkata, Anak-anak terkasih, saya harus pergi ke hutan, berjaga-jaga melawan serigala, jika dia datang, dia akan melahap Anda semua - kulit, rambut, dan segalanya. Orang malang sering menyamar, tetapi Anda akan segera mengenalnya dengan suara kasar dan kaki hitamnya.

          Anak-anak berkata, sayang, kami akan merawat diri kami sendiri, Anda dapat pergi tanpa kecemasan. Kemudian yang tua itu mengembik, dan melanjutkan perjalanannya dengan pikiran yang mudah.


          Tidak lama sebelum seseorang mengetuk pintu rumah dan memanggil, membuka pintu, anak-anak terkasih, ibumu ada di sini, dan telah membawa sesuatu kembali bersamanya untuk masing-masing dari kalian.

Tetapi anak-anak kecil tahu bahwa itu adalah serigala, dengan suara kasar. Kami tidak akan membuka pintu, menangis mereka, Anda bukan ibu kami. Dia memiliki suara yang lembut dan menyenangkan, tetapi suaramu kasar, kau adalah serigala.

          Kemudian serigala itu pergi ke penjaga toko dan membeli sebongkah kapur besar, memakannya dan membuat suaranya lembut dengan itu.

          Lalu dia kembali, mengetuk pintu rumah, dan memanggil, membuka pintu, anak-anak sayang, ibumu ada di sini dan telah membawa sesuatu kembali bersamanya untuk masing-masing dari kalian.

          Tetapi serigala telah meletakkan cakar hitamnya ke jendela, dan anak-anak melihat mereka dan menangis, kami tidak akan membuka pintu, ibu kami tidak memiliki kaki hitam seperti Anda, Anda adalah serigala. Lalu serigala itu berlari ke tukang roti dan berkata, aku telah melukai kakiku, menggosok adonan di atasnya untukku.
       
          Dan ketika tukang roti mengusap kakinya, dia berlari ke tukang giling dan berkata, menaburkan beberapa makanan putih di atas kakiku untukku. Sang miller berpikir sendiri, serigala ingin menipu seseorang, dan menolak, tetapi serigala berkata, jika Anda tidak akan melakukannya, saya akan memakan Anda.

          Kemudian si penggilingan merasa takut, dan membuat cakarnya menjadi putih baginya. Sungguh, ini cara manusia.

          Jadi sekarang celaka pergi untuk ketiga kalinya ke pintu rumah, mengetuk pintu itu dan berkata, bukakan pintu untukku, anak-anak, ibumu yang kecil telah pulang, dan telah membawa kalian semua sesuatu kembali dari hutan dengan nya.

          Anak-anak kecil itu menangis, pertama-tama tunjukkan kepada kami bahwa Anda mungkin tahu jika Anda adalah ibu kecil kami yang tercinta. Kemudian dia memasukkan cakarnya melalui jendela, dan ketika anak-anak melihat bahwa mereka berkulit putih, mereka percaya bahwa semua yang dia katakan itu benar, dan membuka pintu.

          Tapi siapa yang harus masuk tapi serigala mereka ketakutan dan ingin menyembunyikan diri. Satu melompat di bawah meja, yang kedua ke tempat tidur, yang ketiga ke dalam kompor, yang keempat ke dapur, yang kelima ke dalam lemari, yang keenam di bawah mangkuk cuci, dan yang ketujuh ke dalam kotak jam.

          Tetapi serigala menemukan mereka semua, dan tidak menggunakan upacara besar, satu demi satu dia menelannya ke tenggorokannya. Yang termuda, yang berada dalam kasus jam, adalah satu-satunya yang tidak dia temukan. Ketika serigala itu telah puas dengan nafsu makannya, dia melepaskan diri, berbaring di bawah pohon di padang rumput hijau di luar, dan mulai tidur. Segera setelah itu kambing tua pulang lagi dari hutan. Ah. Pemandangan yang dilihatnya di sana.

          Pintu rumah terbuka lebar. Meja, kursi, dan bangku-bangku dilemparkan ke bawah, mangkok-mangkok-mangkok itu hancur berkeping-keping, dan selimut serta bantal ditarik dari tempat tidur. Dia mencari anak-anaknya, tetapi mereka tidak bisa ditemukan. Dia memanggil mereka satu demi satu dengan nama, tetapi tidak ada yang menjawab. Akhirnya, ketika dia berbincang dengan yang termuda, sebuah suara lembut berseru, sayang, aku ada dalam kotak jam. Dia membawa anak itu keluar, dan itu memberitahunya bahwa serigala telah datang dan memakan yang lainnya.

          Maka Anda dapat membayangkan bagaimana ia menangis atas anak-anaknya yang malang. Akhirnya dalam kesedihannya dia keluar, dan anak bungsu berlari bersamanya. Ketika mereka tiba di padang rumput, di sana berbaring serigala di dekat pohon dan mendengkur keras sehingga cabang-cabang bergetar.

          Dia menatapnya di setiap sisi dan melihat bahwa ada sesuatu yang bergerak dan berjuang di perutnya yang kenyang. Ah, surga, katanya, apakah mungkin anak-anakku yang malang yang dia telan makan malamnya, bisa masih hidup.

          Kemudian anak itu harus berlari pulang dan mengambil gunting, dan jarum dan benang dan kambing memotong perut rakasa itu, dan hampir tidak pernah dia membuat satu potong, daripada satu anak kecil menyodorkan kepalanya keluar, dan ketika dia memotong lebih jauh, keenam bermunculan satu demi satu, dan semuanya masih hidup, dan tidak menderita cedera apa pun, karena dalam keserakahannya monster itu menelan mereka seluruhnya.

          Apa yang menyenangkan di sana adalah. Mereka memeluk ibu mereka tercinta, dan melompat seperti seorang pelaut di pernikahannya. Sang ibu, bagaimanapun, berkata, sekarang pergi dan mencari batu-batu besar, dan kita akan mengisi perut binatang jahat itu dengan mereka ketika dia masih tertidur.

          Kemudian ketujuh anak itu menyeret batu ke sana dengan kecepatan penuh, dan memasukkan sebanyak mungkin ke dalam perutnya saat mereka bisa masuk, dan ibu menjahitnya lagi dengan tergesa-gesa, sehingga dia tidak menyadari apa pun dan tidak pernah sekalipun. stirre

          Ketika serigala panjang-lebar mengisi tidurnya, dia naik ke kakinya, dan ketika batu-batu di perutnya membuatnya sangat haus, dia ingin pergi ke sebuah sumur untuk minum. Tapi ketika dia mulai berjalan dan bergerak, batu-batu di perutnya mengetuk satu sama lain dan mengoceh.

          Lalu dia menangis, apa yang bergemuruh dan jatuh ke tulang-tulangku yang malang. Saya pikir 'rangkap enam anak', tetapi rasanya seperti batu besar. Dan ketika dia sampai ke sumur dan membungkuk di atas air untuk diminum, batu-batu berat itu membuatnya jatuh, dan dia harus mati tenggelam.

          Ketika ketujuh anak itu melihat itu, mereka berlari ke tempat dan berteriak, serigala itu mati. Serigala itu mati, dan menari gembira tentang sumur dengan ibu mereka.

          Pernah ada seekor kambing tua yang memiliki tujuh anak kecil, dan mencintai mereka dengan penuh kasih sayang seorang ibu bagi anak-anaknya. Suatu hari dia ingin pergi ke hutan dan mengambil beberapa makanan.

          Jadi dia memanggil ketujuh putrinya dan berkata, Anak-anak terkasih, saya harus pergi ke hutan, berjaga-jaga melawan serigala, jika dia datang, dia akan melahap Anda semua - kulit, rambut, dan segalanya. Orang malang sering menyamar, tetapi Anda akan segera mengenalnya dengan suara kasar dan kaki hitamnya.

          Anak-anak berkata, sayang, kami akan merawat diri kami sendiri, Anda dapat pergi tanpa kecemasan. Kemudian yang tua itu mengembik, dan melanjutkan perjalanannya dengan pikiran yang mudah.


          Tidak lama sebelum seseorang mengetuk pintu rumah dan memanggil, membuka pintu, anak-anak terkasih, ibumu ada di sini, dan telah membawa sesuatu kembali bersamanya untuk masing-masing dari kalian.

Tetapi anak-anak kecil tahu bahwa itu adalah serigala, dengan suara kasar. Kami tidak akan membuka pintu, menangis mereka, Anda bukan ibu kami. Dia memiliki suara yang lembut dan menyenangkan, tetapi suaramu kasar, kau adalah serigala.

          Kemudian serigala itu pergi ke penjaga toko dan membeli sebongkah kapur besar, memakannya dan membuat suaranya lembut dengan itu.

          Lalu dia kembali, mengetuk pintu rumah, dan memanggil, membuka pintu, anak-anak sayang, ibumu ada di sini dan telah membawa sesuatu kembali bersamanya untuk masing-masing dari kalian.

          Tetapi serigala telah meletakkan cakar hitamnya ke jendela, dan anak-anak melihat mereka dan menangis, kami tidak akan membuka pintu, ibu kami tidak memiliki kaki hitam seperti Anda, Anda adalah serigala. Lalu serigala itu berlari ke tukang roti dan berkata, aku telah melukai kakiku, menggosok adonan di atasnya untukku.
       
          Dan ketika tukang roti mengusap kakinya, dia berlari ke tukang giling dan berkata, menaburkan beberapa makanan putih di atas kakiku untukku. Sang miller berpikir sendiri, serigala ingin menipu seseorang, dan menolak, tetapi serigala berkata, jika Anda tidak akan melakukannya, saya akan memakan Anda.

          Kemudian si penggilingan merasa takut, dan membuat cakarnya menjadi putih baginya. Sungguh, ini cara manusia.

          Jadi sekarang celaka pergi untuk ketiga kalinya ke pintu rumah, mengetuk pintu itu dan berkata, bukakan pintu untukku, anak-anak, ibumu yang kecil telah pulang, dan telah membawa kalian semua sesuatu kembali dari hutan dengan nya.

          Anak-anak kecil itu menangis, pertama-tama tunjukkan kepada kami bahwa Anda mungkin tahu jika Anda adalah ibu kecil kami yang tercinta. Kemudian dia memasukkan cakarnya melalui jendela, dan ketika anak-anak melihat bahwa mereka berkulit putih, mereka percaya bahwa semua yang dia katakan itu benar, dan membuka pintu.

          Tapi siapa yang harus masuk tapi serigala mereka ketakutan dan ingin menyembunyikan diri. Satu melompat di bawah meja, yang kedua ke tempat tidur, yang ketiga ke dalam kompor, yang keempat ke dapur, yang kelima ke dalam lemari, yang keenam di bawah mangkuk cuci, dan yang ketujuh ke dalam kotak jam.

          Tetapi serigala menemukan mereka semua, dan tidak menggunakan upacara besar, satu demi satu dia menelannya ke tenggorokannya. Yang termuda, yang berada dalam kasus jam, adalah satu-satunya yang tidak dia temukan. Ketika serigala itu telah puas dengan nafsu makannya, dia melepaskan diri, berbaring di bawah pohon di padang rumput hijau di luar, dan mulai tidur. Segera setelah itu kambing tua pulang lagi dari hutan. Ah. Pemandangan yang dilihatnya di sana.

          Pintu rumah terbuka lebar. Meja, kursi, dan bangku-bangku dilemparkan ke bawah, mangkok-mangkok-mangkok itu hancur berkeping-keping, dan selimut serta bantal ditarik dari tempat tidur. Dia mencari anak-anaknya, tetapi mereka tidak bisa ditemukan. Dia memanggil mereka satu demi satu dengan nama, tetapi tidak ada yang menjawab. Akhirnya, ketika dia berbincang dengan yang termuda, sebuah suara lembut berseru, sayang, aku ada dalam kotak jam. Dia membawa anak itu keluar, dan itu memberitahunya bahwa serigala telah datang dan memakan yang lainnya.

          Maka Anda dapat membayangkan bagaimana ia menangis atas anak-anaknya yang malang. Akhirnya dalam kesedihannya dia keluar, dan anak bungsu berlari bersamanya. Ketika mereka tiba di padang rumput, di sana berbaring serigala di dekat pohon dan mendengkur keras sehingga cabang-cabang bergetar.

          Dia menatapnya di setiap sisi dan melihat bahwa ada sesuatu yang bergerak dan berjuang di perutnya yang kenyang. Ah, surga, katanya, apakah mungkin anak-anakku yang malang yang dia telan makan malamnya, bisa masih hidup.

          Kemudian anak itu harus berlari pulang dan mengambil gunting, dan jarum dan benang dan kambing memotong perut rakasa itu, dan hampir tidak pernah dia membuat satu potong, daripada satu anak kecil menyodorkan kepalanya keluar, dan ketika dia memotong lebih jauh, keenam bermunculan satu demi satu, dan semuanya masih hidup, dan tidak menderita cedera apa pun, karena dalam keserakahannya monster itu menelan mereka seluruhnya.

          Apa yang menyenangkan di sana adalah. Mereka memeluk ibu mereka tercinta, dan melompat seperti seorang pelaut di pernikahannya. Sang ibu, bagaimanapun, berkata, sekarang pergi dan mencari batu-batu besar, dan kita akan mengisi perut binatang jahat itu dengan mereka ketika dia masih tertidur.

          Kemudian ketujuh anak itu menyeret batu ke sana dengan kecepatan penuh, dan memasukkan sebanyak mungkin ke dalam perutnya saat mereka bisa masuk, dan ibu menjahitnya lagi dengan tergesa-gesa, sehingga dia tidak menyadari apa pun dan tidak pernah sekalipun. stirre

          Ketika serigala panjang-lebar mengisi tidurnya, dia naik ke kakinya, dan ketika batu-batu di perutnya membuatnya sangat haus, dia ingin pergi ke sebuah sumur untuk minum. Tapi ketika dia mulai berjalan dan bergerak, batu-batu di perutnya mengetuk satu sama lain dan mengoceh.

          Lalu dia menangis, apa yang bergemuruh dan jatuh ke tulang-tulangku yang malang. Saya pikir 'rangkap enam anak', tetapi rasanya seperti batu besar. Dan ketika dia sampai ke sumur dan membungkuk di atas air untuk diminum, batu-batu berat itu membuatnya jatuh, dan dia harus mati tenggelam.

          Ketika ketujuh anak itu melihat itu, mereka berlari ke tempat dan berteriak, serigala itu mati. Serigala itu mati, dan menari gembira tentang sumur dengan ibu mereka.

       
          Dahulu kala di tengah hutan lebat berdiri sebuah pondok kecil, rumah seorang gadis kecil yang cantik yang dikenal oleh semua orang sebagai si Berkerudung Merah.

          Suatu hari, Mummynya melambai selamat tinggal di gerbang taman, mengatakan: "Nenek sakit. Bawa dia keranjang kue ini, tapi berhati-hatilah. Tetaplah di jalan melalui hutan dan jangan pernah berhenti. Dengan begitu, Anda akan datang tidak membahayakan. "

          Little Red Riding Hood mencium ibunya dan lari. "Jangan khawatir," katanya, "Aku akan lari ke Nenek tanpa henti."

          Penuh niat baik, gadis kecil itu berjalan melewati hutan, tetapi dia segera melupakan kata-kata bijak ibunya. "Stroberi yang indah! Dan merah sekali."

          Meletakkan keranjangnya di tanah, si Berkerudung Merah membungkuk di atas tanaman stroberi. "Mereka enak dan matang, dan sangat besar! Enak! Enak! Hanya satu lagi. Dan satu lagi. Ini yang terakhir. Yah, yang ini Mmmm."

          Buah merah itu mengintip di sela-sela daun di rerumput berumput, dan si Berkerudung Merah berlari mondar-mandir dan memetik buah stroberi ke mulutnya. Tiba-tiba dia teringat ibunya, janjinya, Nenek dan keranjang dan bergegas kembali ke jalan setapak. Keranjang itu masih di rumput dan, bersenandung untuk dirinya sendiri, Little si Berkerudung Merah berjalan terus.

          Kayu menjadi lebih tebal dan lebih tebal. Tiba-tiba kupu-kupu kuning berkibar menembus pepohonan. Little si Berkerudung Merah mulai mengejar kupu-kupu itu.

          "Aku akan menangkapmu! Aku akan menangkapmu!" dia dipanggil. Tiba-tiba dia melihat beberapa bunga aster besar di rumput.

          "Oh, manis sekali!" dia berseru dan, memikirkan Nenek, dia memilih seikat bunga besar.

          Sementara itu, dua mata jahat memata-matai dia dari balik pohon, gemerisik aneh di hutan membuat jantung si Berkerudung Merah berdegup kencang.
         
          Sekarang agak takut dia berkata pada dirinya sendiri. "Aku harus menemukan jalannya dan kabur dari sini!"

          Akhirnya dia mencapai jalan lagi tetapi jantungnya melompat ke mulutnya dengan suara kasar yang berkata, "Mau ke mana, gadis cantikku, sendirian di hutan?"

          "Aku membelikan Nenek kue. Dia tinggal di ujung jalan," kata si Berkerudung Merah dengan suara lemah.

          Ketika dia mendengar ini, serigala (karena itu adalah serigala jahat yang besar) dengan sopan bertanya: "Apakah Nenek hidup sendiri?"

"Oh, ya," jawab Little Red Riding Hood, "dan dia tidak pernah membuka pintu untuk orang asing!"

          "Selamat tinggal. Mungkin kita akan bertemu lagi," jawab serigala. Kemudian dia melangkah pergi sambil berpikir, "Aku akan melahap nenek itu dulu, lalu berbaring menunggu cucunya!" Akhirnya, pondok itu terlihat. Ketukan! Ketukan! Serigala mengetuk pintu.

"Siapa disana?" teriak Nenek dari tempat tidurnya.

          "Ini aku, si Berkerudung Merah. Aku membawakanmu beberapa kue karena kau sakit," jawab serigala itu, berusaha keras menyembunyikan suaranya yang kasar.

          "Angkat kunci pintu dan masuk," kata Nenek, tidak menyadari ada yang salah, sampai bayangan mengerikan muncul di dinding. Nenek Miskin! Karena dalam satu ikatan, serigala itu melompat melintasi ruangan dan, dalam satu tegukan, menelan wanita tua itu. Segera setelah itu, si Berkerudung Merah mengetuk pintu.

"Nenek, bisakah aku masuk?" dia dipanggil.

          Sekarang, serigala telah mengenakan selendang dan topi wanita tua itu dan menyelinap ke tempat tidur. Mencoba untuk meniru suara kecil kakek yang bergetar, dia menjawab: "Buka gerendel dan masuk!

"Suaramu yang dalam," kata gadis kecil itu dengan heran.

"Lebih baik menyambutmu," kata serigala.

"Ya ampun, mata besar apa yang kamu miliki."

"Lebih baik bertemu denganmu."

"Dan tangan besar apa yang kamu miliki!" seru si Berkerudung Merah, melangkah ke tempat tidur.

"Lebih baik memelukmu," kata serigala.

"Mulut besar apa yang kau miliki," gadis kecil itu bergumam dengan suara lemah.

          "Lebih baik memakanmu dengan!" menggeram serigala, dan melompat dari tempat tidur, dia menelannya juga. Kemudian, dengan perut penuh lemak, dia tertidur pulas.

          Sementara itu, seorang pemburu muncul dari hutan, dan ketika memperhatikan pondok, dia memutuskan untuk berhenti dan meminta minum. Dia telah menghabiskan banyak waktu mencoba menangkap serigala besar yang telah meneror tetangga, tetapi kehilangan jejaknya.

          Pemburu bisa mendengar suara siulan aneh; sepertinya itu berasal dari dalam pondok. Dia mengintip melalui jendela dan melihat serigala besar, dengan perut penuh lemak, mendengkur di tempat tidur nenek.

"Serigala! Dia tidak akan lolos kali ini!"

          Tanpa membuat suara, pemburu dengan hati-hati mengisi senjatanya dan dengan lembut membuka jendela. Dia mengarahkan laras lurus ke kepala serigala dan BANG! Serigala itu mati.

          "Sampai akhirnya!" teriak pemburu itu dengan gembira. "Kamu tidak akan pernah menakuti siapa pun lagi.

          Dia memotong perut serigala dan keheranannya, mengeluarkan Nenek dan si Berkerudung Merah, aman dan tidak terluka.

          "Kau tiba tepat pada waktunya," gumam wanita tua itu, cukup tertekan oleh semua kegembiraan itu.

          "Sudah aman untuk pulang sekarang," kata pemburu itu kepada si Berkerudung Merah. "Serigala jahat yang besar sudah mati dan pergi, dan tidak ada bahaya di jalan.

Masih takut, gadis kecil itu memeluk neneknya. Oh, benar-benar ketakutan yang mengerikan! "

          Lama kemudian, ketika senja mulai turun, ibu si Berkerudung Merah tiba, kehabisan nafas, khawatir karena gadis kecilnya belum pulang. Dan ketika dia melihat Little Red Riding Hood, selamat dan sehat, dia menangis bahagia.

          Setelah berterima kasih kepada pemburu itu lagi, si Berkerudung Merah dan ibunya pergi ke arah hutan. Ketika mereka berjalan cepat melewati pepohonan, gadis kecil itu memberi tahu ibunya: "Kita harus selalu menjaga jalan dan tidak pernah berhenti. Dengan cara itu, kita tidak celaka!"

       
          Dahulu kala di tengah hutan lebat berdiri sebuah pondok kecil, rumah seorang gadis kecil yang cantik yang dikenal oleh semua orang sebagai si Berkerudung Merah.

          Suatu hari, Mummynya melambai selamat tinggal di gerbang taman, mengatakan: "Nenek sakit. Bawa dia keranjang kue ini, tapi berhati-hatilah. Tetaplah di jalan melalui hutan dan jangan pernah berhenti. Dengan begitu, Anda akan datang tidak membahayakan. "

          Little Red Riding Hood mencium ibunya dan lari. "Jangan khawatir," katanya, "Aku akan lari ke Nenek tanpa henti."

          Penuh niat baik, gadis kecil itu berjalan melewati hutan, tetapi dia segera melupakan kata-kata bijak ibunya. "Stroberi yang indah! Dan merah sekali."

          Meletakkan keranjangnya di tanah, si Berkerudung Merah membungkuk di atas tanaman stroberi. "Mereka enak dan matang, dan sangat besar! Enak! Enak! Hanya satu lagi. Dan satu lagi. Ini yang terakhir. Yah, yang ini Mmmm."

          Buah merah itu mengintip di sela-sela daun di rerumput berumput, dan si Berkerudung Merah berlari mondar-mandir dan memetik buah stroberi ke mulutnya. Tiba-tiba dia teringat ibunya, janjinya, Nenek dan keranjang dan bergegas kembali ke jalan setapak. Keranjang itu masih di rumput dan, bersenandung untuk dirinya sendiri, Little si Berkerudung Merah berjalan terus.

          Kayu menjadi lebih tebal dan lebih tebal. Tiba-tiba kupu-kupu kuning berkibar menembus pepohonan. Little si Berkerudung Merah mulai mengejar kupu-kupu itu.

          "Aku akan menangkapmu! Aku akan menangkapmu!" dia dipanggil. Tiba-tiba dia melihat beberapa bunga aster besar di rumput.

          "Oh, manis sekali!" dia berseru dan, memikirkan Nenek, dia memilih seikat bunga besar.

          Sementara itu, dua mata jahat memata-matai dia dari balik pohon, gemerisik aneh di hutan membuat jantung si Berkerudung Merah berdegup kencang.
         
          Sekarang agak takut dia berkata pada dirinya sendiri. "Aku harus menemukan jalannya dan kabur dari sini!"

          Akhirnya dia mencapai jalan lagi tetapi jantungnya melompat ke mulutnya dengan suara kasar yang berkata, "Mau ke mana, gadis cantikku, sendirian di hutan?"

          "Aku membelikan Nenek kue. Dia tinggal di ujung jalan," kata si Berkerudung Merah dengan suara lemah.

          Ketika dia mendengar ini, serigala (karena itu adalah serigala jahat yang besar) dengan sopan bertanya: "Apakah Nenek hidup sendiri?"

"Oh, ya," jawab Little Red Riding Hood, "dan dia tidak pernah membuka pintu untuk orang asing!"

          "Selamat tinggal. Mungkin kita akan bertemu lagi," jawab serigala. Kemudian dia melangkah pergi sambil berpikir, "Aku akan melahap nenek itu dulu, lalu berbaring menunggu cucunya!" Akhirnya, pondok itu terlihat. Ketukan! Ketukan! Serigala mengetuk pintu.

"Siapa disana?" teriak Nenek dari tempat tidurnya.

          "Ini aku, si Berkerudung Merah. Aku membawakanmu beberapa kue karena kau sakit," jawab serigala itu, berusaha keras menyembunyikan suaranya yang kasar.

          "Angkat kunci pintu dan masuk," kata Nenek, tidak menyadari ada yang salah, sampai bayangan mengerikan muncul di dinding. Nenek Miskin! Karena dalam satu ikatan, serigala itu melompat melintasi ruangan dan, dalam satu tegukan, menelan wanita tua itu. Segera setelah itu, si Berkerudung Merah mengetuk pintu.

"Nenek, bisakah aku masuk?" dia dipanggil.

          Sekarang, serigala telah mengenakan selendang dan topi wanita tua itu dan menyelinap ke tempat tidur. Mencoba untuk meniru suara kecil kakek yang bergetar, dia menjawab: "Buka gerendel dan masuk!

"Suaramu yang dalam," kata gadis kecil itu dengan heran.

"Lebih baik menyambutmu," kata serigala.

"Ya ampun, mata besar apa yang kamu miliki."

"Lebih baik bertemu denganmu."

"Dan tangan besar apa yang kamu miliki!" seru si Berkerudung Merah, melangkah ke tempat tidur.

"Lebih baik memelukmu," kata serigala.

"Mulut besar apa yang kau miliki," gadis kecil itu bergumam dengan suara lemah.

          "Lebih baik memakanmu dengan!" menggeram serigala, dan melompat dari tempat tidur, dia menelannya juga. Kemudian, dengan perut penuh lemak, dia tertidur pulas.

          Sementara itu, seorang pemburu muncul dari hutan, dan ketika memperhatikan pondok, dia memutuskan untuk berhenti dan meminta minum. Dia telah menghabiskan banyak waktu mencoba menangkap serigala besar yang telah meneror tetangga, tetapi kehilangan jejaknya.

          Pemburu bisa mendengar suara siulan aneh; sepertinya itu berasal dari dalam pondok. Dia mengintip melalui jendela dan melihat serigala besar, dengan perut penuh lemak, mendengkur di tempat tidur nenek.

"Serigala! Dia tidak akan lolos kali ini!"

          Tanpa membuat suara, pemburu dengan hati-hati mengisi senjatanya dan dengan lembut membuka jendela. Dia mengarahkan laras lurus ke kepala serigala dan BANG! Serigala itu mati.

          "Sampai akhirnya!" teriak pemburu itu dengan gembira. "Kamu tidak akan pernah menakuti siapa pun lagi.

          Dia memotong perut serigala dan keheranannya, mengeluarkan Nenek dan si Berkerudung Merah, aman dan tidak terluka.

          "Kau tiba tepat pada waktunya," gumam wanita tua itu, cukup tertekan oleh semua kegembiraan itu.

          "Sudah aman untuk pulang sekarang," kata pemburu itu kepada si Berkerudung Merah. "Serigala jahat yang besar sudah mati dan pergi, dan tidak ada bahaya di jalan.

Masih takut, gadis kecil itu memeluk neneknya. Oh, benar-benar ketakutan yang mengerikan! "

          Lama kemudian, ketika senja mulai turun, ibu si Berkerudung Merah tiba, kehabisan nafas, khawatir karena gadis kecilnya belum pulang. Dan ketika dia melihat Little Red Riding Hood, selamat dan sehat, dia menangis bahagia.

          Setelah berterima kasih kepada pemburu itu lagi, si Berkerudung Merah dan ibunya pergi ke arah hutan. Ketika mereka berjalan cepat melewati pepohonan, gadis kecil itu memberi tahu ibunya: "Kita harus selalu menjaga jalan dan tidak pernah berhenti. Dengan cara itu, kita tidak celaka!"


          Dahulu kala di sebuah kastil besar, seorang puteri Pangeran tumbuh bahagia dan puas, kendati seorang ibu tiri yang cemburu. Dia sangat cantik, dengan mata biru dan rambut hitam panjang. Kulitnya halus dan adil, sehingga dia disebut Putri Salju.

          Semua orang yakin dia akan menjadi sangat cantik. Meskipun ibu tirinya adalah wanita yang jahat, dia juga sangat cantik, dan cermin ajaib memberitahunya ini setiap hari, kapan pun dia menanyakannya.

          "Cermin, cermin di dinding, siapakah wanita terindah di negeri ini?" Jawabannya selalu; "Kamu, Yang Mulia," sampai hari yang mengerikan ketika dia mendengarnya berkata, "Putri Salju adalah yang terindah di negeri ini." Ibu tirinya sangat marah dan, liar dengan cemburu, mulai merencanakan untuk menyingkirkan saingannya.

          Memanggil salah satu pelayannya yang tepercaya, dia menyogoknya dengan hadiah yang kaya untuk membawa Snow White ke hutan, jauh dari Kastil. Kemudian, tak terlihat, dia harus membuatnya mati. Hamba yang tamak, tertarik pada hadiah, setuju untuk melakukan perbuatan ini, dan dia membawa gadis kecil yang lugu itu pergi.

          Namun, ketika mereka sampai di tempat yang fatal, keberanian pria itu gagal, dan meninggalkan Putri Salju duduk di samping pohon, dia menggumamkan sebuah alasan dan lari. Putri Salju sendirian di hutan.

          Malam datang, tetapi pelayan itu tidak kembali. Putri Salju, sendirian di hutan yang gelap, mulai menangis dengan pahit. Dia pikir dia bisa merasakan mata yang mengerikan memata-matai dia, dan dia mendengar suara-suara aneh dan gemeresik yang membuat jantungnya berdebar. Akhirnya, karena kelelahan, dia jatuh tertidur di bawah pohon.

          Putri Salju tidur dengan gelisah, terbangun dari waktu ke waktu dengan memulai dan menatap kegelapan di sekelilingnya. Beberapa kali, dia pikir dia merasakan sesuatu, atau seseorang menyentuhnya ketika dia tidur.

          Akhirnya, fajar menyingsing hutan ke lagu burung-burung, dan Putri Salju juga, terbangun. Seluruh dunia mulai hidup dan gadis kecil itu senang melihat betapa konyolnya ketakutannya. Namun, pohon-pohon yang tebal itu seperti sebuah dinding di sekelilingnya, dan ketika dia mencoba mencari tahu di mana dia berada, dia menemukan jalan.

          Dia berjalan di sepanjang itu, semoga. Dia berjalan sampai tiba di tempat terbuka. Di sana berdiri sebuah pondok aneh, dengan sebuah pintu kecil, jendela-jendela kecil, dan sebuah cerobong asap kecil. Segala sesuatu tentang pondok jauh lebih mungil daripada seharusnya. Putri Salju mendorong pintu terbuka.

          "Aku ingin tahu siapa yang tinggal di sini?" dia berkata pada dirinya sendiri, mengintip ke sekeliling dapur. "Piring-piring kecil apa! Dan sendok! Pasti ada tujuh, meja itu diletakkan untuk tujuh orang." Di lantai atas ada kamar tidur dengan tujuh tempat tidur kecil yang rapi. Kembali ke dapur, Putri Salju punya ide.

          "Aku akan membuatkan mereka sesuatu untuk dimakan. Ketika mereka pulang, mereka akan senang menemukan makanan siap." Menjelang senja, tujuh pria kecil berbaris menyanyi di rumah. Tapi ketika mereka membuka pintu, mereka terkejut menemukan semangkuk sup panas mengepul di atas meja, dan seluruh rumah dan rentang spick. Di lantai atas ada Putri Salju, tertidur lelap di salah satu tempat tidur. Kepala kurcaci itu mendorongnya dengan lembut.

          "Kamu siapa?" Dia bertanya. Putri Salju memberi tahu mereka kisah sedihnya, dan air mata menetes ke mata para kurcaci. Lalu salah seorang dari mereka berkata, sambil dengan berisik meniup hidungnya:

"Tetap di sini bersama kami!"

          "Hore! Hore!" mereka bersorak, menari dengan gembira di sekeliling gadis kecil itu. Kata kurcaci berkata kepada Snow White:

          "Kamu bisa tinggal di sini dan mengurus rumah saat kita menambang. Jangan khawatir tentang ibu tiri kamu meninggalkanmu di hutan. Kami mencintaimu dan kami akan menjagamu!" Putri Salju dengan penuh terima kasih menerima keramahan mereka, dan keesokan paginya para kurcaci berangkat untuk bekerja.

          Namun mereka memperingatkan Putri Salju agar tidak membuka pintu bagi orang asing.

          Sementara itu, pelayan itu telah kembali ke kastil, dengan hati seekor rusa roe. Dia memberikannya kepada ibu tiri yang kejam, mengatakan kepadanya bahwa itu milik Snow White, sehingga dia bisa mengklaim hadiahnya.

          Sangat senang, ibu tiri itu berpaling lagi ke cermin ajaib. Tapi harapannya pupus, karena cermin menjawab: "Yang terindah di negeri ini masih Putri Salju, yang tinggal di pondok tujuh kurcaci, di hutan." Ibu tiri itu berada di samping dirinya sendiri dengan kemarahan.

          "Dia harus mati! Dia harus mati!" teriaknya. Menyamar sebagai wanita petani tua, dia menaruh apel beracun dengan yang lain di keranjangnya. Kemudian, mengambil jalan tercepat ke hutan, dia menyeberangi rawa di tepi pepohonan.

          Dia mencapai bank yang tak terlihat, tepat ketika Putri Salju berdiri melambaikan tangan selamat tinggal kepada tujuh kurcaci dalam perjalanan ke tambang.

Putri Salju ada di dapur ketika dia mendengar suara di pintu: KNOCK! KETUKAN!

"Siapa disana?" dia memanggil dengan curiga, mengingat nasihat kurcaci.

"Saya adalah wanita petani tua yang menjual apel," jawabnya.

"Aku tidak butuh apel, terima kasih," jawabnya.

"Tapi mereka apel yang indah dan sangat juicy!" kata suara beludru dari luar pintu.

"Aku tidak seharusnya membuka pintu untuk siapa pun," kata gadis kecil itu, yang enggan untuk tidak mematuhi teman-temannya.

          "Dan benar juga! Gadis baik! Jika kamu berjanji untuk tidak membuka diri kepada orang asing, maka tentu saja kamu tidak bisa membeli. Kamu memang gadis yang baik!" Kemudian wanita tua itu melanjutkan.

          "Dan sebagai hadiah karena menjadi baik, aku akan membuatkanmu hadiah salah satu apelku!" Tanpa berpikir lebih jauh, Putri Salju membuka pintu hanya celah kecil, untuk mengambil apel.

          "Di sana! Bukankah ini apel yang bagus?" Snow White menggigit buah itu, dan seperti yang dia lakukan, jatuh ke tanah dengan pingsan: efek racun yang mengerikan meninggalkannya tanpa kehidupan secara instan.

          Sekarang tertawa keji, ibu tiri yang jahat itu bergegas pergi. Namun ketika dia berlari kembali melintasi rawa, dia tersandung dan jatuh ke dalam pasir apung. Tidak ada yang mendengar dia berteriak minta tolong, dan dia menghilang tanpa jejak.

          Sementara itu, para kurcaci keluar dari tambang untuk menemukan langit telah menjadi gelap dan penuh badai. Gemuruh keras bergema di lembah dan garis-garis kilat merobek langit. Khawatir tentang Putri Salju mereka berlari secepat yang mereka bisa turun gunung ke pondok.

          Di sana mereka menemukan Putri Salju, terbaring diam dan tak bernyawa, apel beracun di sampingnya. Mereka melakukan yang terbaik untuk membawanya berkeliling, tetapi tidak ada gunanya.

          Mereka menangis dan menangis untuk waktu yang lama. Kemudian mereka membaringkannya di tempat tidur kelopak mawar, membawanya ke hutan dan menaruhnya di peti mati kristal.

Setiap hari mereka meletakkan bunga di sana.

          Kemudian suatu malam, mereka menemukan seorang pemuda yang aneh mengagumi wajah indah Snow White melalui kaca. Setelah mendengarkan cerita, Pangeran (karena dia adalah seorang pangeran!) Membuat saran.

          "Jika kau mengizinkanku membawanya ke Istana, aku akan memanggil dokter-dokter terkenal untuk membangunkannya dari tidur aneh ini.

          Dia sangat cantik, aku ingin sekali menciumnya!" Dia melakukannya, dan seolah-olah dengan sihir, ciuman Pangeran memecahkan mantera itu. Untuk semua orang heran, Putri Salju membuka matanya.

          Dia luar biasa hidup kembali! Sekarang dalam cinta, Pangeran meminta Putri Salju untuk menikah dengannya, dan para kurcaci dengan enggan harus mengucapkan selamat tinggal kepada Putri Salju.

          Sejak hari itu, Putri Salju hidup bahagia di sebuah puri besar. Tetapi dari waktu ke waktu, ia ditarik kembali untuk mengunjungi pondok kecil di hutan itu.


          Dahulu kala di sebuah kastil besar, seorang puteri Pangeran tumbuh bahagia dan puas, kendati seorang ibu tiri yang cemburu. Dia sangat cantik, dengan mata biru dan rambut hitam panjang. Kulitnya halus dan adil, sehingga dia disebut Putri Salju.

          Semua orang yakin dia akan menjadi sangat cantik. Meskipun ibu tirinya adalah wanita yang jahat, dia juga sangat cantik, dan cermin ajaib memberitahunya ini setiap hari, kapan pun dia menanyakannya.

          "Cermin, cermin di dinding, siapakah wanita terindah di negeri ini?" Jawabannya selalu; "Kamu, Yang Mulia," sampai hari yang mengerikan ketika dia mendengarnya berkata, "Putri Salju adalah yang terindah di negeri ini." Ibu tirinya sangat marah dan, liar dengan cemburu, mulai merencanakan untuk menyingkirkan saingannya.

          Memanggil salah satu pelayannya yang tepercaya, dia menyogoknya dengan hadiah yang kaya untuk membawa Snow White ke hutan, jauh dari Kastil. Kemudian, tak terlihat, dia harus membuatnya mati. Hamba yang tamak, tertarik pada hadiah, setuju untuk melakukan perbuatan ini, dan dia membawa gadis kecil yang lugu itu pergi.

          Namun, ketika mereka sampai di tempat yang fatal, keberanian pria itu gagal, dan meninggalkan Putri Salju duduk di samping pohon, dia menggumamkan sebuah alasan dan lari. Putri Salju sendirian di hutan.

          Malam datang, tetapi pelayan itu tidak kembali. Putri Salju, sendirian di hutan yang gelap, mulai menangis dengan pahit. Dia pikir dia bisa merasakan mata yang mengerikan memata-matai dia, dan dia mendengar suara-suara aneh dan gemeresik yang membuat jantungnya berdebar. Akhirnya, karena kelelahan, dia jatuh tertidur di bawah pohon.

          Putri Salju tidur dengan gelisah, terbangun dari waktu ke waktu dengan memulai dan menatap kegelapan di sekelilingnya. Beberapa kali, dia pikir dia merasakan sesuatu, atau seseorang menyentuhnya ketika dia tidur.

          Akhirnya, fajar menyingsing hutan ke lagu burung-burung, dan Putri Salju juga, terbangun. Seluruh dunia mulai hidup dan gadis kecil itu senang melihat betapa konyolnya ketakutannya. Namun, pohon-pohon yang tebal itu seperti sebuah dinding di sekelilingnya, dan ketika dia mencoba mencari tahu di mana dia berada, dia menemukan jalan.

          Dia berjalan di sepanjang itu, semoga. Dia berjalan sampai tiba di tempat terbuka. Di sana berdiri sebuah pondok aneh, dengan sebuah pintu kecil, jendela-jendela kecil, dan sebuah cerobong asap kecil. Segala sesuatu tentang pondok jauh lebih mungil daripada seharusnya. Putri Salju mendorong pintu terbuka.

          "Aku ingin tahu siapa yang tinggal di sini?" dia berkata pada dirinya sendiri, mengintip ke sekeliling dapur. "Piring-piring kecil apa! Dan sendok! Pasti ada tujuh, meja itu diletakkan untuk tujuh orang." Di lantai atas ada kamar tidur dengan tujuh tempat tidur kecil yang rapi. Kembali ke dapur, Putri Salju punya ide.

          "Aku akan membuatkan mereka sesuatu untuk dimakan. Ketika mereka pulang, mereka akan senang menemukan makanan siap." Menjelang senja, tujuh pria kecil berbaris menyanyi di rumah. Tapi ketika mereka membuka pintu, mereka terkejut menemukan semangkuk sup panas mengepul di atas meja, dan seluruh rumah dan rentang spick. Di lantai atas ada Putri Salju, tertidur lelap di salah satu tempat tidur. Kepala kurcaci itu mendorongnya dengan lembut.

          "Kamu siapa?" Dia bertanya. Putri Salju memberi tahu mereka kisah sedihnya, dan air mata menetes ke mata para kurcaci. Lalu salah seorang dari mereka berkata, sambil dengan berisik meniup hidungnya:

"Tetap di sini bersama kami!"

          "Hore! Hore!" mereka bersorak, menari dengan gembira di sekeliling gadis kecil itu. Kata kurcaci berkata kepada Snow White:

          "Kamu bisa tinggal di sini dan mengurus rumah saat kita menambang. Jangan khawatir tentang ibu tiri kamu meninggalkanmu di hutan. Kami mencintaimu dan kami akan menjagamu!" Putri Salju dengan penuh terima kasih menerima keramahan mereka, dan keesokan paginya para kurcaci berangkat untuk bekerja.

          Namun mereka memperingatkan Putri Salju agar tidak membuka pintu bagi orang asing.

          Sementara itu, pelayan itu telah kembali ke kastil, dengan hati seekor rusa roe. Dia memberikannya kepada ibu tiri yang kejam, mengatakan kepadanya bahwa itu milik Snow White, sehingga dia bisa mengklaim hadiahnya.

          Sangat senang, ibu tiri itu berpaling lagi ke cermin ajaib. Tapi harapannya pupus, karena cermin menjawab: "Yang terindah di negeri ini masih Putri Salju, yang tinggal di pondok tujuh kurcaci, di hutan." Ibu tiri itu berada di samping dirinya sendiri dengan kemarahan.

          "Dia harus mati! Dia harus mati!" teriaknya. Menyamar sebagai wanita petani tua, dia menaruh apel beracun dengan yang lain di keranjangnya. Kemudian, mengambil jalan tercepat ke hutan, dia menyeberangi rawa di tepi pepohonan.

          Dia mencapai bank yang tak terlihat, tepat ketika Putri Salju berdiri melambaikan tangan selamat tinggal kepada tujuh kurcaci dalam perjalanan ke tambang.

Putri Salju ada di dapur ketika dia mendengar suara di pintu: KNOCK! KETUKAN!

"Siapa disana?" dia memanggil dengan curiga, mengingat nasihat kurcaci.

"Saya adalah wanita petani tua yang menjual apel," jawabnya.

"Aku tidak butuh apel, terima kasih," jawabnya.

"Tapi mereka apel yang indah dan sangat juicy!" kata suara beludru dari luar pintu.

"Aku tidak seharusnya membuka pintu untuk siapa pun," kata gadis kecil itu, yang enggan untuk tidak mematuhi teman-temannya.

          "Dan benar juga! Gadis baik! Jika kamu berjanji untuk tidak membuka diri kepada orang asing, maka tentu saja kamu tidak bisa membeli. Kamu memang gadis yang baik!" Kemudian wanita tua itu melanjutkan.

          "Dan sebagai hadiah karena menjadi baik, aku akan membuatkanmu hadiah salah satu apelku!" Tanpa berpikir lebih jauh, Putri Salju membuka pintu hanya celah kecil, untuk mengambil apel.

          "Di sana! Bukankah ini apel yang bagus?" Snow White menggigit buah itu, dan seperti yang dia lakukan, jatuh ke tanah dengan pingsan: efek racun yang mengerikan meninggalkannya tanpa kehidupan secara instan.

          Sekarang tertawa keji, ibu tiri yang jahat itu bergegas pergi. Namun ketika dia berlari kembali melintasi rawa, dia tersandung dan jatuh ke dalam pasir apung. Tidak ada yang mendengar dia berteriak minta tolong, dan dia menghilang tanpa jejak.

          Sementara itu, para kurcaci keluar dari tambang untuk menemukan langit telah menjadi gelap dan penuh badai. Gemuruh keras bergema di lembah dan garis-garis kilat merobek langit. Khawatir tentang Putri Salju mereka berlari secepat yang mereka bisa turun gunung ke pondok.

          Di sana mereka menemukan Putri Salju, terbaring diam dan tak bernyawa, apel beracun di sampingnya. Mereka melakukan yang terbaik untuk membawanya berkeliling, tetapi tidak ada gunanya.

          Mereka menangis dan menangis untuk waktu yang lama. Kemudian mereka membaringkannya di tempat tidur kelopak mawar, membawanya ke hutan dan menaruhnya di peti mati kristal.

Setiap hari mereka meletakkan bunga di sana.

          Kemudian suatu malam, mereka menemukan seorang pemuda yang aneh mengagumi wajah indah Snow White melalui kaca. Setelah mendengarkan cerita, Pangeran (karena dia adalah seorang pangeran!) Membuat saran.

          "Jika kau mengizinkanku membawanya ke Istana, aku akan memanggil dokter-dokter terkenal untuk membangunkannya dari tidur aneh ini.

          Dia sangat cantik, aku ingin sekali menciumnya!" Dia melakukannya, dan seolah-olah dengan sihir, ciuman Pangeran memecahkan mantera itu. Untuk semua orang heran, Putri Salju membuka matanya.

          Dia luar biasa hidup kembali! Sekarang dalam cinta, Pangeran meminta Putri Salju untuk menikah dengannya, dan para kurcaci dengan enggan harus mengucapkan selamat tinggal kepada Putri Salju.

          Sejak hari itu, Putri Salju hidup bahagia di sebuah puri besar. Tetapi dari waktu ke waktu, ia ditarik kembali untuk mengunjungi pondok kecil di hutan itu.

Most Viewed

► RECOMMENDED

CopyRight © 2016 DongengLah | BLOG RIEZKYAA RK | R.K | RIZKY KUSWARA |